Buk, Boleh Gak Aku Ngaku Ateis Aja Daripada Dipaksa Berjilbab Di Sekolah?



Buk, Boleh Gak Sih Aku Ngaku Ateis Aja daripada Dipaksa Berjilbab di Sekolah?
Oleh: Dyah Purana

Hatiku langsung menangis, mendengar anak gadisku bertanya seperti itu. Institusi pendidikan macam apa yang telah aku pilih untuk sekolah anakku, sehingga ada praktik pemaksaan yang dibungkus kalimat 'peraturan sekolah'.

Peraturan sekolah 'wajib berjilbab di hari Jumat' bukan peraturan tertulis, itu peraturan tidak tertulis yang beberapa bulan ini digaungkan secara masif oleh para guru di forum umum seperti upacara atau acara khusus. 

Ada juga beberapa guru yang bertanya langsung empat mata dengan anak gadisku mengapa dia tidak kunjung berjilbab padahal sudah banyak sindiran intimidasi di sekolah. 

Bahkan seorang guru perempuan dengan terbuka di kelasnya memarahi 4 siswi yang tidak berjilbab.

Ketika anak gadisku masih bisa bercerita dengan nada datar, aku masih tidak khawatir. Dia percaya diri untuk tidak menjawab gurunya yang mengintimidasinya, 'she ignored them'. 

Aku bisa membayangkan, pasti anak-anak tidak ada yang  berani mendebat guru-guru itu ketika berbicara tentang kewajiban berjilbab, karena apa? Posisi yang tidak setara membuat mereka lemah, tidak punya 'bargaining power'. Dan juga sistem pendidikan kita yang melanggengkan budaya guru selalu benar, guru tidak bisa dikritik. 

Sampai kapan terus seperti itu. Pendidikan akan terus menghasilkan anak-anak yang kurang kritis, kurang kreatif, dan tidak bisa berpikir mandiri.

Mengembangkan keterampilan 'berpikir mandiri' penting bagi anak-anak, saya sebut keterampilan karena ini bisa dilatih. 

Berpikir mandiri adalah, berpikir dan bersikap tentang sesuatu hal, pikiran dan sikap tsb didasarkan pada pengetahuan, pemahaman dan pengalaman diri anak-anak, disaring melalui filter-filter yang berkembang di otak anak-anak. 

Anak ABG masih dalam tahap membangun dan mengembangkannya. Jadi kalau ini disabotase oleh sekolah atau lebih parah oleh ortu, maka hasilnya akan kita tuai nanti.

Saya mendidik anak-anak secara SEKULER, agama dan keyakinan adalah wilayah pribadi anak-anak, meski anak bungsu saya masih SMP. 

Saya mewajibkan dia membaca buku sains populer, baik sains alam maupun sejarah alam, dan itu ternyata membantunya membangun 'cara berpikir mandiri' tadi. Dan dia sudah mempunyai sikap terhadap ritual keyakinan yang dijalaninya. 

Saya menghormatinya. Dia masih akan bertumbuh dan berkembang, saya mendorongnya untuk menjadi warga negara internasional, yang punya pemikiran luas.

Menghadapi intimidasi jilbab, saya mengajaknya menonton video youtube yang membahas hal itu, saya ingin dia punya pemahaman tentang latar belakang mengapa kasus tersebut bisa muncul, tentang kondisi umum orang beragama di Indonesia akhir-akhir ini. Tentang negara-negara maju yang sekuler. Juga tentang pendapat ulama yang berbeda tentang jilbab. Supaya dia lebih percaya diri menjawab guru-guru yang mengintimidasinya. 

Jika dia tidak mampu menjawab gurunya, sudah saya wanti-wanti, nanti ibunya yang akan maju.

Saya pernah mencolek pejabat teras Kemendikbud yang jadi 'teman' di Facebook saya, tapi nihil, membaca pesan saya saja tidak. 

Jadi memang saya harus membentengi anak saya dengan pemikiran yang menguatkan mentalnya...........sendirian, dan support teman-teman dunia maya, perempuan2 pemberani yang menginspirasiku.

Sumber tulisan: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10225022457723522&id=1079733709

Sumber ilustrasi: Reuters

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel