Kapolda NTT Harus Tahu, TPFI Itu Bukan Kaleng-kaleng, Ini Rekam Jejak Mereka


Pernyataan Kapolda NTT, adanya pihak yang mencari panggung dalam kasus pembunuhan ibu dan anak di Kupang, sepertinya menyenggol Samuel Haning atau akrab di panggil Paman Sam, ketua Tim Pencari Fakta Independen (TPFI). pasalnya, sebelum Kapolda NTT mengeluarkan pernyataannya itu, Sam Haning dengan keras meminta Kapolri untuk copot Kapolda NTT dari jabatannya karena gagal ungkap kasus pembunuhan dua nyawa di Kupang. 

Pernyataan Paman Sam, adalah wajar karena Polda NTT memang tidak mampu menangkap pelaku pembunuhan ibu dan anak, sampai pelakunya serahkan diri karena tekanan publik. Padahal pelaku itu sudah bolak balik diperiksa oleh polisi namun, hingga sebulan lebih, polisi tidak tahu bahwa dia pelakunya. 

Rupanya Kapolda tidak terima dengan pernyataan Sam dan kritikan oleh berbagai pihak, sehingga dia mengatakan bahwa orang-orang yang mengkritik itu adalah mereka yang sedang cari panggung dari kasus ini. 

Siapa Sam Haning dan TPFI yang Berani Kritik Kapolda?
Sam Haning dan kawan-kawan di TPFI sesungguhnya bukan anak baru kemarin dalam mengusut kasus-kasu besar seperti pembunuhan. Sam Haning Sendiri adalah dosen sekaligus pengacara kawakan di NTT. Sam Haning tidak sendiri, disana ada "Buang Sine", mantan anggota Reskrim dan Jatanras Polda NTT yang sudah berpengalaman dalam mengungkap kasus pembunuhan gelap di NTT.  

Berikut ini, rekam jejak Tim Pencari Fakta Independen (TPFI) dalam mengungkap kasus pembunuhan di NTT yang tidak bisa diungkap oleh polisi. 

 

1. Pembunuhan Yornimus Nenabu di Kupang

Kapolsek dan penyidik Polsek Maulafa, Kupang Kota, pada saat itu mengatakan bahwa kematian Yornimus Nenabu, BUKAN DIBUNUH melainkan KECELAKAAN. Namun, berkat kerja keras dari berbagai pihak, termasuk Tim Pencari Fakta Independe (TPFI) yang digawangi oleh Buang Sine, Sam Haning dan Kawan-kawan, Yornimus Nenabu terbukti dibunuh. 

Korban ditemukan meninggal dunia pada Rabu (29/6/2016) lalu di Jln Jalur 40, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Korban meninggal sebelumnya dianiaya oleh enam orang di dua lokasi kejadian yakni Jalan Oelbikusi, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang dan di jalur jalan 40 Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).


BACA JUGA: Sebelum Diperiksa Perdana, Pembunuh Ini Sempat "Dijamu" Oleh Kapolda NTT


Keenam tersangka yang diputuskan PN Kupang yakni, Yunus Nenabu (41), Stefanus Nenabu (45), Thomas Tefa (59), Solianus Tefa (27), Marthen S Tualaka (38) dan Benyamin Penu (45) .

Majelis hakim menyatakan para terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana “merampas nyawa orang lain” sebagaimana didakwakan dalam dakwaan kedua yaitu Pasal 338 KUHPidana Jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana. Dan kepada para terdakwa dipidana dengan pidana penjara masing-masing selama 11 tahun dikurangi masa tahanan. Putusan tersebut lebih ringan 1 tahun dari tuntutan Jaksa.

BACA JUGA: Kuatir Hidupnya Tak Sampai Desember, Istri Randy Titip Anaknya Ke Kedua Adiknya


2. Pembunuhan Romo Faustinus Sega di Bajawa

Ketika itu, Kapolres Ngada menyatakan, bahwa korban meninggal akibat SERANGAN JANTUNG bukan DIBUNUH. Namun, TPFI dan pihak lainnya mengungkap kasus ini sebagai pembunuhan. 

Setelah jazad Romo diotopsi, ternyata dibunuh dan terungkap lima tersangka bahwa dari jasad Romo Faustinus terindikasi tindak kekerasan menggunakan benda tumpul. Dari petunjuk hasil otopsi tersebut tim penyidik kemudian menajamkan penyidikan terhadap pesan singkat (SMS) telepon seluler yang diterima sejumlah saksi, di Desa Kotakeo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Flores. Pesan itu kiriman dari Theresia Tawa selaku saksi kunci, bahwa Romo Faustinus mati dibunuh.


3. Pembunuhan Paulus Usnaat di Dalam Ruang Tahanan Polsek Nunpene, TTU

Awalnya, kasus ini dinyatakan oleh Kapolres sebagai kasus bunuh diri. Namun, Tim Pencari Fakta Independen dan pihak lainnya menemukan bukti bahwa Tahanan Paulus Usnaat disebut dibunuh pada jarak 4 meter dari lokasi petugas piket jaga Polsek Nunpene, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Hal itu terungkap dalam perkembangan sidang kasus pembunuhan tahanan Paulus Usnaat dengan agenda mendengar keterangan sejumlah saksi dari petugas piket jaga di Pengadilan Negeri Kefamanu. Dalam sidang itu diketahui korban Paulus Usnaat diduga tewas dibunuh hanya pada jarak 4 meter dari petugas piket jaga malam itu. Hal tersebut didasarkan dari lokasi piket jaga dengan sel korban Paulus Usnaat ditahan yang hanya berjarak 4 meter.

BACA JUGA: 10 Fakta Kematian Astrid dan Bayinya, Diduga Dibunuh


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel