Luhut Tentang Istrinya: "Dia Wanita Terhebat, Batal Jadi Profesor Demi Aku Dan Anak-Anak"



Menikahi seorang perempuan yang takut akan Tuhan adalah sebuah berkah yang luar biasa. Barangkali itulah yang saya rasakan sejak pertama kali mengucapkan ikrar suci di altar pernikahan hingga hari ini, saat istri saya Devi Pandjaitan Br Simatupang berusia 72 tahun. Biasanya setiap hari ulang tahun nya tiba, kami merayakan bersama anak dan cucu di rumah. Namun karena panggilan tugas ke luar negeri, saya hanya mengucapkan selamat ulang tahun saja kepada nya.

Saya selalu merasa beruntung karena bisa memperistri wanita cerdas lagi berkarakter seperti dirinya. Kalau boleh dibilang, dia lah yang banyak memberi saya inspirasi dalam hidup lewat obrolan dan diskusi yang saya sempatkan setiap pagi hanya untuk bertukar pikiran membicarakan banyak hal. Karena memang lahir dari keluarga yang punya latar belakang intelektual juga lulusan dari perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, obrolan kami selalu seru dan menarik karena banyak hal baru yang saya pelajari darinya. Seringkali saya diberi masukan seperti misal saat saya tampil di media. Kita diskusi soal itu, tak jarang juga berbeda pendapat, namun tetap “respect” yang kami kedepankan.

Memang dulu ada saatnya saya tidak bisa memberikan waktu untuk keluarga, yakni ketika saya harus terjun di tugas operasi.  Di masa-masa seperti itu, saya bersyukur istri saya berhasil memainkan peran sebagai ‘ayah’ sekaligus ‘ibu’. Kalau tidak, mungkin anak dan cucu kami tidak akan menjadi baik-baik seperti sekarang ini.  Oleh karena itu, saya selalu berterimakasih kepada istri saya yang berhasil memainkan 2 fungsi tadi. Saya tahu, menjadi istri tentara itu memang tidak pernah mudah.

Karenanya setiap kali hari ulang tahun nya tiba, saya selalu teringat pengorbanan nya yang begitu besar. Merelakan cita-cita untuk menjadi profesor di Universitas Indonesia untuk kemudian menjadi istri dan ibu di rumah, adalah sebuah perjuangan tersendiri di mata saya. Untuk itu, saya sering  bilang kepadanya bahwa kamu tetap profesor buat saya. Saya berani bicara bahwa karena karakter yang selalu bersyukur dan nggak “demanding” dari istri saya inilah, saya bisa berada di posisi saya saat ini. Satu pesan dari Istri saya yang saya selalu ingat sampai sekarang adalah Cita-cita boleh Tuhan letakkan di hati kami berdua, boleh juga dilaksanakan oleh tim yang hebat yang terdiri dari para pimpinan, dosen, dan lainnya. Tapi semua boleh terjadi hanya karena anugerah Tuhan. Maka dari itu tidak boleh ada yang menyombongkan diri.

Seringkali saya membatin dalam hati, mungkin kalau saat ini tidak ada dia di sisi saya, saya tidak mungkin mencapai posisi seperti ini dalam hidup saya. Agaknya saya setuju dengan pepatah yang menyebutkan bahwa “Behind of the successfull man, there is a great women.” 

Tahun ini, usia pernikahan kami akan mencapai tahun emas dalam pernikahan. 50 tahun bersama, bukan waktu yang singkat. Kadangkala dalam beratnya beban pekerjaan yang tinggi, masih ada seseorang yang menghibur, mendoakan, dan masih tetap ada di sisi kita adalah sebuah hal yang patut disyukuri. Maka dari itu saat ini keinginan saya tidaklah muluk-muluk, hanya ingin mewujudkan harapannya untuk beristirahat dari pekerjaan untuk kemudian membangun cita-cita bersama kami sejak dulu yaitu mengembangkan yayasan DEL, “rumah” bagi “anak-anak” kami di Tanah Toba hingga menjadi yang terbaik di Indonesia.  Karena menurut kami, banyak cara untuk mengabdi kepada negeri ini, bukan hanya dengan menjadi Pemimpin saja.

Selamat Ulang Tahun Istriku. More than a wife in you, I have found a friend for life.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

gg

Iklan Bawah Artikel