Bule Bukan Artis, Tapi Minta Foto, Itu Mental Bekas Jajahan





Pengalaman Hubbel dan Vann, bule Eropa yang berwisata ke benua Asia, Afrika dan India, seringkali mereka diminta foto bareng bagai artis Hollywood oleh warga lokal. Hal itu menandakan jika perilaku minta foto bareng pelancong kulit putih adalah fenomena yang merata di hampir seluruh Asia. Mengingat negara-negara seperti Indonesia atau India adalah bekas jajahan bangsa kulit putih, sulit untuk tidak melihatnya dalam kacamata post-kolonialme.


Post-kolonialisme adalah perspektif dan kajian akademik seputar diskursus dan praktik budaya kolonialisme (atau neo-kolonialisme) serta dampaknya pada lintas-bidang kehidupan yang dihasilkan oleh negara penjajah ke negara yang dijajah. Relasinya terjalin mulai dari level makro sampai mikro, antara pihak yang mendominasi kepada pihak yang didominasi.

Akademisi sekaligus mahasiswa doktoral di The University of Queensland, Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, berpendapat ada dua penjelasan pokok dalam laku minta foto bareng bule asing. Pertama, soal cara berpikir rasial yang melekat dalam cara warga di Indonesia dan negara bekas jajahan lain memandang orang kulit putih.

Akarnya bisa dilacak dari proses kolonialisasi negara-negara Barat seperti Belanda, Inggris, dan Perancis atas Asia, yang mengatur koloni sebagai bagian dari orang-orang yang harus “diberi peradaban”. “Cara berpikir seperti itu cenderung melihat -orang berkulit putih dalam strata yang lebih tinggi dari mereka yang berkulit hitam atau berwarna. Masalahnya, setelah proses dekolonisasi, cara pandang itu kerap melekat dan bertahan. 

Struktur politik global saat ini juga ikut mempertahankannya,” kata Umar. Penjelasan kedua terkait dengan proses “modernisasi” yang diperkenalkan ke negara-negara bekas jajahan. Kebiasaan selfie dan berfoto ria adalah dampak dari proses tersebut, selaras dengan pendapat Hubbel, ditandai dengan makin terjangkaunya telepon pintar. Cina sangat ekspansif dalam industri telekomunikasi. Masalahnya, lanjut Umar, perkembangan teknologi itu berlangsung secara tidak merata. 

Mereka yang ada di belahan dunia selatan lebih lambat penerimaannya daripada masyarakat di negara bagian utara. “Konsekuensinya adalah munculnya "gegar teknologi: orang kian antusias untuk menggunakan teknologi, khususnya masyarakat kalangan ekonomi bawah yang sebelumnya tidak banyak mengakses teknologi. Ini bukan hanya persoalan budaya, tapi juga soal ketimpangan ekonomi.”

Dosen dan Ketua Jurusan Sosiologi UNY Grendi Hendrastomo turut melihatnya dari kacamata post-kolonialisme. Ada hal yang melahirkan rasa inferior saat berhadapan dengan orang kulit putih—sejalan dengan apa yang dirasakan oleh Nia. Dorongannya ada di alam bawah sadar, katanya. “Orang Asia sejak dulu memang inferior ketimbang orang asing, bahkan sampai sekarang yang menganggap berkiblat ke Barat adalah segalanya. Barat dianggap menara suar yang kita melihatnya, kita ingin dekat dan menganggapnya sebagai sebuah pencapaian,” jelasnya via sambungan telepon, Selasa (14/8/2018). 




Foto dengan bule berguna untuk menaikkan gengsi di media sosial, kata Grendi. Medsos kerap jadi kanal pamer keragaman dan keluasan relasi seseorang. Namun mental post-kolonial turut berpengaruh, sehingga pamer hanya akan optimal jika yang ditampilkan adalah foto bersama orang asing berkulit putih—bukan yang berwarna. “Meski asalnya dari Barat, tapi yang dimaksud adalah yang Kaukasian. Barangkali kecuali untuk orang terkenal. Isu rasisme itu selalu ada meski berganti rupa. Mereka baru bisa dikenal jika punya prestasi, sementara orang kulit putih sudah otomatis menarik,” katanya.

Ia memberikan contoh lain yang serupa tapi sama, berdasarkan amatan di lingkungan kampus. UNY diisi oleh mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk dari Papua. Orang non-Papua punya pandangan lain terhadap orang Papua, kata Grendi, sebab penampilan fisiknya berbeda. “Menariknya mereka juga kadang-kadang diajak foto. 

Motifnya bukan untuk mencari gengsi seperti mengajak foto bule, tapi untuk menunjukkan bahwa mereka punya teman lintas etnis, lintas suku. Dia ingin dianggap mengakui keberagaman Indonesia.” Sisi penting lain dalam fenomena foto mengajak pelancong kulit putih adalah alasan yang diberikan Nia, bahwa si bule itu ganteng. Umar kemudian menanyakan parameter “ganteng” itu sendiri, sebab sifatnya selalu subjektif.

“Setiap orang punya preferensi soal 'kegantengan', tapi kan ada cara berpikir tertentu yang melahirkan konsepsi 'ganteng' itu. Bagi saya masih terkait konstruksi dan standar rasial yang dipakai sebagai parameter kerupawanan orang,” jelasnya. Grendi menyebutkan ada peran media termasuk industri sinetron hingga film. Artis-artis di dalamnya memang dipilih yang berpenampilan fisik seperti bule. 

Aktor-aktris dengan penampilan “Indonesia banget” ada, namun jumlahnya minoritas serta harus punya kemampuan akting yang mumpuni untuk bisa terkenal. “Jadi ada semacam 'penjajahan' kultural yang mengawetkan perasaan superior dan inferior. Di dunia akademik juga ada. Dosen tamu dari luar kan lebih disambut daripada dosen tamu dari dalam negeri, meski kualitasnya sama. Pembicara yang jago berbahasa Inggris kesannya lebih “wah” di hadirin,” pungkasnya. Sumber: tirto.id

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

gg

Iklan Bawah Artikel