Beredar Kabar: Diduga Oknum Polda NTT Peras Sejumlah Pengusaha, Bayar 25 Juta Hingga Matikan Kamera CCTV Agar Tidak Bisa Merekam


BACA JUGA: Kesaksian Marselinus: "Suster Ella dan 2 Temannya Disiksa Secara Brutal Dalam Jurang, Sedalam 400 Meter"

Beredar Kabar, Oknum Polda NTT Peras Sejumlah Pengusaha, Bayar 25 Juta Hingga Matikan Kamera CCTV Agar Tidak Bisa Merekam. Dilansir dari suarasikka.com, Beredar informasi razia pada sejumlah toko di Maumere dan sekitarnya beberapa hari terakhir ini, berujung dugaan pemerasan. Namun hal ini dibantah Pelaksana Tugas Kanit Sub 1 Indag Ditreskrimsus Polda NTT AKP Libartino Silaban.

Libartino Silaban membenarkan Tim Polda NTT berjumlah 5 orang melakukan razia di Maumere sejak Rabu (15/9) lalu. Mereka didampingi 3 anggota Unit Tipiter Reskrim Polres Sikka.


Media ini menglarifikasi informasi yang beredar terkait dugaan pemerasan terhadap para pemilik toko. Namun pada awalnya Libartino Silaban tidak mau menanggapi pertanyaan ini.

“Kita fokus saja kepada mentega dan beras,” elak dia saat konperensi pers di Mapolres Sikka, Senin (20/9).

Mentega dan beras yang dimaksudkan Libartino Silaban, merupakan barang bukti yang diamankan Tim Polda NTT dari tangan dua pemilik toko.


Namun media ini terus meminta klarifikasi yang jelas dengan alasan informasi tentang dugaan pemerasan sudah beredar luas di kalangan masyarakat.

Libartino Silaban akhirnya memastikan tidak ada pemerasan. Dia malah menyarankan media ini langsung menanyakan kepada pemilik-pemilik toko.


“Kalau memang itu, bisa tanya langsung ke pelaku usaha. Kalau dalam konteks pemerasan berarti si korban yang ditanya,
diperas atau tidak,” jawab Libartino Silaban.


Kasat Reskrim Polres Sikka Iptu Wahyu Agha Ari Septyan yang mendampingi Libartino Silaban ikut memberikan keterangan terkait informasi dugaan pemerasan.

“Simpelnya seperti itu, kalau ada pemerasan, buktinya apa. Kan kalau lewat omongan semua orang bisa, tanpa ada bukti,” ujar dia.


Media ini memperoleh informasi beberapa pemilik toko ditelepon Tim Polda NTT untuk menghadap di Hotel Go Maumere. Saat itu terjadi tawar-menawar hingga negosiasi sejumlah uang.

Informasinya CCTV di hotel tersebut sengaja tidak diaktifkan agar tidak bisa memantau situasi yang terjadi saat pemilik toko bertemu Tim Polda NTT.

“Ada satu swalayan yang kasih uang Rp 25 juta,” ujar seorang narasumber yang minta namanya dirahasiakan.


Para pemilik toko yang terkena razia dan dipanggil menghadap Tim Polda di Hotel Go, sebagian besar memilih diam. Mereka beralasan takut dan kuatir nama mereka terseret-seret dan bisa menimbulkan tindakan hukum yang baru.

Informasi dugaan pemerasan oleh Tim Polda NTT sudah menjadi perbincangan di kalangan luas. Sejumlah masyarakat mendesak Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo membentuk tim untuk melakukan pemeriksaan terhadap Tim Polda NTT. *suarasikka.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel