Miris, Sastrawan Kawakan NTT, FELIX NESI Dibentak Dan Diusir Oleh Kepala Perpustakaan Dan Arsip Daerah NTT



Sastrawan Kawakan NTT, FELIX NESI Dibentak Dan Diusir Oleh Kepala Perpustakaan Dan Arsip Daerah NTT. Hal itu diungkapkan Felix dalam postingannya di Fanpagenya, FELIX NESI. Berikut Curhatan Felix tentang peristiwa yang tidak mengenakan yang dialaminya.

"Saat melakukan riset tentang Riwu Ga, tanggal 17 Maret 2021, saya mampir ke Perpustakaan dan Arsip Daerah NTT, untuk mencari beberapa sumber. Tak ada sumber saya temukan, dan saya minta izin bertemu dengan kepala kantor untuk menyampaikan maksud saya -- mengingat Riwu Ga adalah tokoh NTT yang berpengaruh hingga kemerdekaan Indonesia. Para staf meminta saya mengantri dan masuk ke ruangan Bapak Kepala.

Namun sebelum saya sampaikan maksud saya, Bapak Kepala kantor meminta kartu pers atau surat tugas dari instansi saya. Saat tidak bisa menunjukkannya, dan ia bilang pulang saja. Saya mau menunjukkan KTP tetapi Bapak Kepala membentak: Bukan KTP, saya tidak butuh KTP! 

Kami berdebat agak panjang -- saya dan Bapak Kepala. Saya bingung karena saya bukan wartawan, dan penulis seperti saya tidak punya instansi. Entah surat macam apa yang beliau inginkan.


Saya mengalah dan pulang. Di koran dan tiap acara, dari panggung di Jakarta sampai panggung di Amsterdam, saya selalu disebut penulis dan sastrawan NTT. Tetapi hari itu saya diusir dari kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah NTT, lembaga yang mestinya bersinergi dengan penulis-penulis dalam mengarsipkan NTT.

Perpustakaan dan Arsip Daerah NTT tidak bisa diharapkan untuk menjadi sumber riset dan kerja-kerja kebudayaan. 

Saya kemudian menghubungi setiap orang yang mungkin punya info tentang Riwu Ga. Beruntung Pak Stenly Boimau dari Timex & Pak Wilson Therik dari Salatiga membantu saya dengan buku-buku, dan teman-teman lain lagi membantu dengan informasi. Dengan semua itu, saya menulis naskah monolog berjudul Radio Ibu.

Tanggal 20-21 Agustus 2021 ini, Radio Ibu, monolog yang mengisahkan tentang Riwu Ga, akan diputar di YouTube Budaya Saya. Ama Riwu Ga akan diperankan oleh aktor senior Arswendy Bening Swara. Ada juga monolog tentang Ketut Tantri yang diperankan Chelsea Islan, The Sin Bio diperankan Laura Basuki, dan Amir Hamzah diperankan oleh Chiko Jeriko. Keempatnya adalah tokoh-tokoh yang tidak pernah dicatat sejarah, meski sumbangannya besar untuk kemerdekaan Indonesia. Jadwal pertunjukan masing-masing ada pada poster.

Masyarakat Indonesia perlu menontonnya, perlu mengenal Riwu Ga. Riwu adalah anak, pengawal, pelayan, dan sahabat dari Ir. Soekarno, jauh sebelum Soekarno menjadi Bung yang dikenal dan ditakuti. Ada masa-masa di mana ia sendirian yang menjaga dan merawat Bung Karno -- terlebih masa sesudah perceraiannya dengan Ibu Inggit & sebelum kedatangan Bu Fatma. Ia sering harus tidur menyilang di pintu kamar Bung Karno untuk memalang angin-angin jahat -- bersama dewa-dewa Djingitiu.

Dalam film Soekarno garapan Hanung Bramantyo, Riwu Ga digambarkan sebagai orang yang tidak menyukai Bu Fatma, dan meninggalkan keluarga itu sesudah menulis surat berisi kekecewaannya.

Tetapi Hanung tidak tahu bahwa Riwu Ga buta huruf. Dan Riwu tidak meninggalkan Soekarno. Ia terus hidup bersama keluarga itu di Jalan Pegangsaan hingga sesudah proklamasi. Bu Fatmawati (yang lebih muda darinya) menjembatani percintaan dan pernikahannya dengan seorang perempuan bernama Maria. Saat Negara Indonesia Timur membiayai kepulangan orang-orang Indonesia Timur dari Jawa di tahun 1948, ia pulang. Ia sempat bekerja menjadi penjaga malam di kantor PU, lalu menjadi petani jagung di Kupang. Ia hidup sendiri dengan kisah dan rahasia-rahasia Bung Karno, dan menjadi nasionalis -- hingga meninggal pun pada tanggal 17 Agustus, 25 tahun lalu. 

Ia adalah orang kecil di tepi sejarah yang tidak pernah tercatat. Yang pasti akan dilempar keluar jika datang ke Kantor Perpustakaan dan Arsip -- ia bukan wartawan, tidak punya instansi dan hanya petani jagung yang memakai sarung. Beruntung wartawan hebat NTT, Peter Rohi, mencari dan mewawancarainya. 

Jangan lupa menonton kisah hidup Riwu Ga bersama Bung Karno nanti, tanggal 20-21 Agustus 2021, di akun YouTube Budaya Saya. Kemerdekaan adalah hak setiap bangsa. Semoga bangsa Indonesia menghormati hak suatu bangsa untuk menjadi merdeka.

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel