Catatan Pencerahan Tentang Perang Israel-Palestina: Hamas yang Provokasi, Palestina Jadi "Korban", Israel yang Dimaki-maki

 


Catatan: Baca sampai Habis Agar Tidak Mengerti Setengah-setengah
Konflik historis antara Israel dan Palestina kembali meletus sejak akhir pekan lalu hingga saat ini.

Data Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa sudah ada 109 warga Palestina yang tewas akibat serangan tentara Israel ke beberapa titik di Palestina. Selain di Gaza, juga di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem.
Sementara itu, sudah sekitar 621 orang lainnya dinyatakan terluka akibat serangan udara Israel.

Di pihak Israel, baru ada tujuh orang yang tewas, termasuk seorang anak yang masih berusia 6 tahun.

Dari pelaku serangan, kita bisa melihat bahwa yang menjadi dalang dalam serangan ini adalah Hamas, yang berhadapan dengan tentara Israel.


Hamas adalah gerakan militan Palestina yang juga merupakan satu di antara dua partai politik besar di wilayah itu. Selama bertahun-tahun, Hamas melakukan serangan ke Israel.

Sejak 2008, gerilyawan Israel dan Hamas di Gaza telah berperang sebanyak tiga kali di lintas perbatasan dan telah mengalami banyak pertempuran sejak kelompok itu menguasai Gaza pada 2007.

Israel sering melancarkan operasi militer mematikan untuk menyerang kelompok bersenjata Palestina itu.

Bentrokan senjata kedua pihak terus terjadi hingga saat ini.

Awal pekan ini, Israel melakukan beberapa serangan udara di Gaza, dan kemudian Hamas membalasnya dengan menembakkan roket ke Tel Aviv, ibukota Israel.


Hamas adalah kelompok terbesar dari beberapa kelompok Islam militan Palestina, dan menjadi kelompok penentang pendirian negara Israel.

Nama Hamas adalah akronim Arab untuk "Gerakan Perlawanan Islam", atau Harakat al-Muqawama al-Islamiya dan didirikan Sheikh Ahmed Yassin, seorang ulama Palestina.

Sheikh Ahmed Yassin menjadi seorang aktivis di cabang lokal Ikhwanul Muslimin setelah mendedikasikan kehidupan awalnya untuk beasiswa Islam di Kairo.


Ikhwanul Muslimin adalah salah satu kelompok garis keras Islam yang memproklamasikan negara Islam.

Di Indonesia, kelompok ini termanifestasi dalam ormas HTI dan beberapa ormas dan partai politik yang terafiliasi radikal dengannya.

Sejak akhir 1960-an, Yassin berkhotbah dan melakukan pekerjaan amal di West Bank dan Jalur Gaza, keduanya diduduki oleh pasukan Israel setelah Perang Enam Hari 1967, CFR menjelaskan.


Yassin menetapkan Hamas sebagai lengan politik lokal Ikhwanul Muslimin pada Desember 1987.

Ini menyusul pecahnya intifada pertama, pemberontakan Palestina melawan kendali Israel atas West Bank, Gaza, dan Yerusalem Timur.

Hamas kemudian muncul di garis depan perlawanan bersenjata terhadap Israel hingga kini.


Sayap militer yang berafiliasi dengan Hamas, Brigade Izz al-Din al-Qassam, telah melakukan serangan anti-Israel.

Basis utama operasi Hamas adalah di Jalur Gaza, daerah kantong pesisir dari 1,7 juta warga Palestina.

Dari sini ia tetap menjadi otoritas de facto tak lama setelah penarikan sepihak Israel pada tahun 2005.


Hamas mendeklarasikan kemerdekaan Palestina dan ingin orang-orang Palestina dapat kembali ke apa yang mereka anggap sebagai rumah lama mereka.

Pada 1988, di bawah piagam kelompok militan Islam, kelompok ini mengatakan mereka berkomitmen untuk menghancurkan Israel.

Hamas menyerukan untuk mendirikan negara Islam di Palestina yang bersejarah. Ini adalah wilayah antara Mediterania dan Sungai Jordan, yang juga termasuk Israel.


Di sisi lain, Israel menganggap Hamas bertanggung jawab atas semua serangan dari Jalur Gaza.

Mesir, bersama dengan Israel, telah memberlakukan blokade perbatasan yang melumpuhkan Jalur Gaza yang dikuasai Hamas sejak kelompok itu merebut wilayah itu pada 2007.

Israel mengontrol sebagian besar perbatasan dan wilayah pesisir Gaza, memutuskan siapa yang dapat masuk dan keluar dari Gaza, termasuk barang. Hamas pun menuntut Israel menghentikan pembatasannya.

Mereka mengklaim Israel menduduki tanah Palestina dan menolak pendudukan dengan meluncurkan serangan roket dari Gaza, sementara Israel membalas serangan tersebut dengan kekuatan lebih lanjut.

Dalam beberapa percakapan yang tersebar di berbagai media, terungkap bahwa Hamas telah menanamkan keinginan politik mereka untuk menghilangkan jejak kebesaran Kekristenan dan juga Judaisme di Palestina.


Sebagaimana tercatat dalam sejarah dan Kitab Suci bahwa Palestina adalah wilayah dari seberang lautan, nama lain dari bangsa Filistin, yang dikalahkan Daud dalam sebuah peperangan merebut wilayah Israel.

Dalam bahasa Ibrani arti kata "Filistine" adalah "bangsa dari seberang laut". Mereka berasal dari sekitar kepulauan Kreta, Yunani.

Agama asli Filistin menyembah dewa-dewa. Filistin pertama kali mendarat di pantai Gaza lalu makin lama makin banyak dan akhirnya konfrontasi dengan nabi Daud, dan akhirnya Nabi Daud yang menang dan mendirikan kerajaan Israel dengan luas kira-kira sperti saat ini.

Karena itulah bendera Israel bersimbol Bintang Daud.

Filistin dulu berbeda dengan Palestina masa sekarang yang mayoritas suku Arab muslim dan Arab Nasrani, bukan asli orang-orang Filistin yang menyembah dewa lagi.

Bahkan pemimpin Palestina yang terkenal, Yasser Arafat  berasal dari Arab Mesir, bukan asli Palestina. Istrinya bahkan wanita Arab Nasrani.

Ada yang mengatakan bahwa Hamas berusaha menguasai wilayah Palestina untuk sekaligus menguasai Yerusalem, kota suci agama tertua di dunia, Yahudi, dan Kristen.

Dan salah satunya untuk menghilangkan jejak kehidupan Yesus Kristus di masa Perjanjian Baru.
Tanah Suci asli hendak dihancurkan agar hanya ada satu tanah suci di Timur Tengah, yaitu Mekkah. Dan Hamas adalah manifestasi dari politik negara Arab untuk menguasai Israel.

Tapi Israel tidaklah bodoh. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, inteligensi mereka jauh melampaui semua manusia di muka bumi ini.

Strategi menghilangkan jejak peradaban agama lain ini tidak sedang terjadi di Palestina.

Di Indonesia bahkan dulu ada peristiwa pemboman candi Borobudur untuk menghilangkan jejak Buddhisme di tanah air.

Demikian pula dengan bahasa asli Sansekerta dihilangkan dan diganti dengan tulisan kaligrafi. Termasuk beberapa kerajaan Hindu-Buddha digantikan dengan kerajaan Islam.

Konflik Israel-Palestina adalah strategi cerdas kelompok Islam untuk menguasai peradaban di Tanah Suci.

Padahal, Nabi Muhammad pada masanya tidak pernah menyuruh pasukannya atau umatnya menyerang Yerusalem atau Israel.

Malah, Nabi Muhammad dalam sebuah peristiwa Isra Miraj, melakukan ibadah di Bait Suci milik umat Yahudi. Dari tata cara ibadah umat Yahudi itulah Muhammad mengadopsinya untuk diterapkannya di Mekkah dan Madinah.

Salah satunya adalah soal kiblat yang harus menghadap ke arah Bait Suci di Yerusalem, yang merupakan pusat agama Yahudi dan Kristen.

Jika kita menarik lebih jauh sejarah, Muhammad sebetulnya hampir seluruhnya mengambil tradisi atau praktik agama Yahudi dan Kristen, selain karena ia masih memiliki keluarga dengan kaum Kristen.

Kabbah di Mekkah, rumah suci bagi umat Islam di dunia merupakan tempat yang dipercaya sebagai sumber mata air yang memberi kehidupan bagi Ismail, anak Abraham dari istrinya Siti Hajar atau Hagar.

Dalam sebuah pelarian karena diusir oleh Abraham atas hasutan Sarah, istrinya pertamanya, Hagar lari sambil membawa Ismail yang masih kecil.

Di padang gurun, Tuhan tidak berdiam diri melihat anak dari hamba-Nya itu. Tuhan pun memberikan air dari sumber mata air yang diyakini sebagai Kabbah kini.

Dari penelusuran sejarah, Hagar bukanlah berasal dari ras Arab. Hagar berdarah Mesir-Persia.

Demikian pula, ras Arab itu bukan keturunan Abraham. Pada zaman Abraham, ras Arab itu sangat terbelakang di bawah ras Mesir dan Persia serta Yahudi. Abraham diketahui berasal dari Ur di tanah Kasdim, sekarang wilayah Irak atau Persia pada masa lalu.

Sementara itu, orang Palestina saat ini berdarah Arab, bukan ras Filistin pada zaman Daud (dari Yunani).
Sementara itu, dari istri Sarah, Abraham memiliki anak bernama Isyak. Dari Isyak inilah dia memiliki cucu bernama Yakub, saudara Esau.

Dari Yakub, yang kemudian diberi nama "Israel" oleh Tuhan dalam sebuah perjumpaan ilahi, Abraham memperoleh keturunan bernama Yehuda dan kesebelas saudaranya, termasuk Yusuf yang menjadi bendahara Firaun.

Dari Yehuda inilah asal mula suku Israel sampai saat ini dan sekaligus menjadi agama Israel, Yahudi.

Kemudian, di masa Raja Daud, didirikanlah pusat ibadah suci bagi Tuhan di Yerusalem, dan kemudian diteruskan oleh anaknya, Salomo.

Sampai zaman Yesus, Yerusalem masih menjadi pusat ziarah agama Yahudi, dengan tiap-tiap tahun Yesus dan keluarga Yahudi lainnya berziarah ke Yerusalem merayakan Paskah, penyelamatan Allah dari hukuman bangsa Mesir.

Setelah Yesus meninggal, pusat agama Yahudi masih bertahan di Yerusalem, tapi pusat agama Kristen berpindah ke kekaisaran Bizantyum sebelum terakhir ke Vatikan, Roma.

Beberapa tahun kemudian, sebelum meletus Perang Salib, Yerusalem telah dikuasai bangsa Arab yang membawa agama Islam kesana, kemudian mendirikan Masjid Al-Aqsa yang berdiri sampai saat ini.

Hampir tidak ditemukan jejak Muhammad atau umat Islam di Yerusalem yang mereka klaim sebagai rumah lama mereka.

Dulu ketika ulama besar Islam bernama Umar melakukan salat di Yerusalem, dia tidak melakukannya di Bait Suci, tapi di sebuah lapangan, yang kemudian sebuah masjid didirikan disana untuk menghormatinya. 

Khalifah Islam berhasil mendirikan Masjid Al-Aqsa di atas puing-puing Bait Suci Yahudi setelah mereka menguasai tanah itu.

Namun akhirnya, Inggris berinisiatif menguasai kembali Tanag Suci dari tangan Islam pada Perang Salib dan kala itu berhasil dimenangkan.

Akhirnya, di Yerusalem, berdiri tiga rumah bagi tiga agama besar, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam.

Ketiga agama ini sering disebut agama Samawi. Selain dari keturunan Abraham, mereka memiliki kitab suci yang merupakan ilham dari Tuhan, atau sering disebut "agama langit".

Jadi, jika saat ini Hamas mengklaim ingin mengembalikan Palestina atau Yerusalem sebagai rumah lama, adalah tindakan politik yang keliru.

Atas kekeliruan itu, Israel agaknya berjalan di jalur yang benar untuk kembali merebut tanah mereka, yang dulunya mereka rebut dari bangsa Kanaan di masa Nabi Musa ketika keluar dari Mesir, dan dari bangsa Filistin ketika Daud ingin mendirikan kerajaan Israel di tanah terjanji.

Konflik antara Israel dan Palestina bukanlah konflik agama (Israel-Islam), tapi lebih merupakan konflik politik antara bangsa Arab dan Israel.

Selama hari-hari ini, kedua suku bangsa terus melakukan bentrokan yang memungkinkan polisi terus mengawasi mereka.

Frasa "konflik agama" seringkali dijual oleh pihak tertentu untuk menghasut umat beragama Islam dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Tidak jarang, dari berbagai percakapan di media sosial, netizen Islam terbuka mengatakan keinginan untuk berjihad membela Palestina.

Di sisi lain, mereka juga aktif melakukan demonstrasi mendesak pemerintah berada di garda terdepan membela hak rakyat Palestina, dan mengumpulkan dana untuk membantu sesama saudara di Palestina.

Atas dasar kemanusiaan, tindakan tersebut patut diapresiasi.

Namun sangat disayangkan jika dana yang terkumpul akhirnya disalahgunakan kelompok Hamas untuk membeli senjata dan roket untuk menyerang Israel, atau mendanai tindakan terorisme global.







REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel