SEJARAH PERANG MAHU - KARERA MELAWAN PENJAJAH

Gambar Hanya Ilustrasi



Ditulis oleh: Umbu Awang Marturia Kulandima

(Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan saya yang sebelumnya yang berjudul "Sejarah Awal Mula Kedatangan Bangsa Belanda Di Wilayah Mahu - Karera)

1. Nama Perang Daerah: PERANG MAHU KARERA
2. Jenis perang: Perang Lokal
3. Pelaku perang: 
    • pihak Rakyat: Rakyat Mahu Karera
    • pihak lawan: Penjajah Bangsa Belanda

4. Pimpinan perang:
    • Pihak Rakyat: 1. Umbu Ndawa Kareuk
                              2. Umbu Domu Marahongu
    • Pihak lawan: 1. Letnan Streiff
                            2. Sersan Albertus A. Siegers

5. Lokasi Perang:Desa Kananggar (wilayah Pakamang)
6. Tahun peristiwa: tahun 1906 - 1908 (2 tahun)
7. Bukti Perang: Kuburan Masal 6 orang Serdadu Belanda di Kananggar.

                   PERANG MAHU - KARERA

   Berdasarkan hasil musyawarah di Mau Kajangu, maka tepat pada hari yang ke delapan pagi hari ketika bulan purnama penuh, markas Belanda di kepung dari jurusan arah Timur, Barat dan Selatan yang di pimpin oleh Umbu Domu Marahongu. Serangan ini gagal menghalau Belanda keluar dari wilayah Mahu Karera karena pihak lawan memiliki perlengkapan senjata modern dan taktik pertempuran. Dalam peristiwa ini tewas salah satu tokoh dari Kakaha, yaitu Umbu Tay Turajawa dan yang lain luka parah dan dari pihak Belanda beberapa serdadu tewas. Akibat serangan ini Umbu Nai Laki menjadi sasaran utama dari Belanda.

   Merasa kurang aman di hutan jangga mangu, akhirnya Umbu Nai Laki dan keluarganya berpindah ke Mburu Kandaraku. Dari Mburu Kandaraku Umbu Nai Laki mendatangi setiap kampung untuk menghimpun kekuatan.

   Berbagai perlawanan sudah di lakukan Belanda untuk menguasai wilayah Mahu Karera dan menangkap Umbu Nai Laki. Himpunan di setiap kampung sudah sangat kuat sehingga Belanda belum bisa menguasai kampung - kampung di wilayah Mahu Karera. Seperti perlawanan rakyat di wilahah La Omangu, perlawanan rakyat di wilayah La Meripu, di wilayah Pakabangu dan di La Uturu. Namun perlawanan tersebut, Letnan Streiff belum berhasil menangkap Umbu Nai Laki.

   Ketika Umbu Nai Laki sedang bersembunyi di Mburu Kandaraku, puteri nya yang bernama Rambu Nai Heulu meninggal dunia karena serangan penyakit malaria. Masyarakat Mahu Karera turut berduka cita. Dengan upacara yang sangat sederhana, Rambu Nai Heulu di makamkan di Mburu Kandaraku karena rumah Umbu Nai Laki di Katoda Bungguru sudah di bakar habis oleh  Belanda.

   Umbu Nai Laki bersama kelurganya meninggalkan Mburu Kandaraku dan beralih ke wilayah Lai Hobu dan menetap di Kaparaku. Letnan Streiff mengutus Umbu Domu Marahongu untuk menyampaikan ajakan perundingan kepada Umbu Nai Laki di Lai Hobu yang di rencanakan di Kananggar. Pertemuan antara Umbu Domu Marahongu dan Umbu Nai Laki tidak membahas perundingan yang di maksudkan oleh Letnan Streiff, tetapi mereka membahas perlawanan untuk membunuh Streiff. Keduanya menyimpulkan bahwa tempat bernama Tamma (4 km dari kananggar) di tentukan sebagai tempat penjemputan terhadap Umbu Nai Laki yang kemudian di bawah menuju Kananggar untuk rencana perdamaian. Taktik perdamaian merupakan akal - akalan dari Streiff dengan maksud ingin membunuh Umbu Nai Laki.

  Di sisi lain Umbu Nai Laki dan Umbu Domu Marahongu menghimpun tokoh - tokoh tetangga dari wilayah Kananggar, Mehang Mata, La Jariku dan Karera Jangga. Mereka - mereka ini yang pernah terlibat langsung dalam peristiwa penyerangan di Katoda Bungguru terhadap rombongan patroli Belanda. Dalam pertemuan tersebut, mereka bersepakat untuk mengadakan perlawanan dan menunggu aba-aba dari Umbu Nai Laki, setelah tiba di Pakamangu atau setelah kali Karuku di langgar.

   Tibalah saatnya penjemputan di laksanakan di Tamma, Letnan Streiff memerintahkan 6 orang anak buahnya untuk menjemput Umbu Nai Laki. Keenam Serdadu ini terdiri dari 1 berkebangsaan Belanda dan 5 lainnya berkebangsaan Indonesia. Setelah tiba di Tamma, Sersan Siegers yang merupakan Serdadu Belanda mengecam dan menghina Umbu Nai Laki. Tanpa berkata - kata Umbu Nai Laki berlangkah maju menuju Kananggar di usul oleh Serdadu dan parah tokoh yang setia kepada Umbu Nai Laki. Setelah melewati kali Karuku, Umbu Nai Laki langsung memberikan aba-aba. Umbu Nai Laki bersandar di tebing dan mengatakan bahwa ia tidak bisa lanjutkan perjalanan karena kakinya sakit. Sersan Siegers  memaksanya dan menodongkan ujung bayonetnya ke muka Umbu Nai Laki. Umbu Nai Laki pun meludah ke tanah dengan irama marah. Tombak di ayunkan ke mengenai dada Siegers dan di ikuti Umbu Domu Marahongu mengayunkan parang hulu tanduknya di leher Siegers dan kepala Siegers putus. Tokoh - tokoh lain juga ikut bertindak agar senjata modern Belanda tidak memuntahkan pelurunya. Dengan lincahnya Umbu Domu Marahongu memotong otot-otot Sersan Siegers dan mencincang badan dari para Serdadu sampai mereka tidak berdaya lagi.

   Bertempat di Kampung Mehang Mata di halaman rumah Umbu Domu Marahongu, kepala sersan Siegers di gantung di tugu tengkorak melalui upacara kebaktian marapu.
Umbu Nai Laki kembali ke Lai Hobu, dari Lai Hobu bersama anak istri dan keluarganya, kembali ke Mburu Kandaraku, bermukim ke arah barat Lai Ronja di sebuah gua di tengah hutan yang berada di tebing yang cukup tinggi, di jadikan sebagai tempat berlindung.


Cerita ini masih berlanjut sampai pada cerita pemberian Tokung kepada Umbu Nai Laki. Nantikan kisah selanjutnya.
SELAMAT MERAYAKAN HARI SUMPAH PEMUDA, 28 Oktober 2020.
Salam dari pejuang sejarah di pelosok negeri

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel