Renungan PASKAH Bagi Kita: Bicara Dengan Saudara Yang Sudah Lama Buang Muka



renungan paskah

Sangka ku, kamu telah berubah. Tapi masih tetap saja. Sama. Berapa kali aku harus bilang kalu PASKAH itu: bukan ajang buang-buang uang.  Kenapa musti beli baju sampe juta-juta. Tabung uang selama setahun, Cuma buat pamer di gereja. Kenapa gengsi kalau pake baju lama? Apa iman jadi kusut kalau warna baju luntur? Atau pintu gereja tutup kalau datang pake baju lama? Apa Tuhan ada buka lomba Fashion Show di gereja? 


Ini yang kamu mau ajarkan kepada anak-anak? Cerita boya-boya bukan ajar foya-foya. PASKAH ini seharusnya momen kita  refleksi hidup. Apa yang sudah kita jalani selama ini. Sudah sampai jalan yang benar atau belum? Sudah jadi berguna bagi diri sendiri dan orang lain atau belum? 


Ini momen kita bicara dengan Tuhan. Serahkan yang kita rasakan. Damaikan yang telah kita kacaukan. Bicara dengan saudara yang sudah lama buang muka. Peluk anak-anak yang sudah rindu kasih sayang. Bahagiakan orangtua yang sudah lama kita tinggalkan. 


BACA JUGA: BERKAT-BERKAT DARI PENDERITAAN


Ini momen kita robohkan tembok diam antar tetangga. Ini saatnya kita lebih peka pake rasa. Bukan ramai-ramai ke mall. Antrian seperti  mobil di jalan tol. Biar makan ada susah di dapur. Tapi gaya harus tetap top. Aku mau kamu sadar. Sebenarnya PASKAH seperti apa yang kamu  rayakan? Apa yang bisa kita harapkan dari semua pola buruk yang kamu terapkan. 


Harusnya pakian seadanya. Makan secukupnya. Memberi sebisanya. Bantu semampunya. Peluk seperlunya. Cintai sekuat-kuatnya. Supaya tidak ada yang perlu kamu dan aku pentaskan di atas panggung sandiwara kehidupan. Selain kenyataan.


*Disesuaikan dari Narasi Eko Saputra Poceratu Tentang NATAL dari Bahasa dan Dialek Ambon
BACA ARTIKEL ASLI >>> DISINI

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel