Kritik Pedas Untuk Bupati Rote Ndao: "Rezim Tanpa Pikiran"

Pemerintahan rote ndao rezim orang gilaa


LENTERA SEBAGAI SEBUAH PEMERINTAHAN TANPA PIKIRAN*


Revolusi Prancis yang terjadi pada akhir abad 17, perlu dipahami sebagai sebuah manifestasi kebebasan berpikir yang ditandai oleh perlawanan rakyat terhadap pemerintahan monarki absolut. Sehingga kelahiran revolusi prancis sangat berperan penting dalam menyebarkan Demokrasi kesuluruh penjuru dunia. artinya bahwa eksistensi DEMOKRASI JUSTRU BARU DAPAT DIWUJUDKAN DALAM BENTUK YANG UTUH JIKA ADA SEBUAH PIKIRAN YANG MENGELOLA sebagai esensi dari Demokrasi itu sendiri.

Bertolak dari sejarah dan nilai yang terkandung dalam Demokrasi, dengan segala kerendahan hati saya, Jenghis Khan ingin menguraikan struktur logis kecacatan pemerintahan LENTERA ketiga sebagai sebuah kirtik publik bagi kemajuan Kabupaten Rote Ndao, yang setidaknya dapat lebih baik dari hari ini.

BACA JUGA: 

Ada Apa, Dalam Waktu Seminggu, Dua Mahasiswa Di Kupang Tewas Gantung Diri


Adalah sebuah kedunguan dalam konteks demokrasi jika dalam berbagai kesempatan Bupati Rote Ndao sebagai representasi eksistensi Pemerintah Kabupaten Rate Ndao justru selalu menjagokan program Lakamola Anan Sio tanpa ada upaya invotatif apapun untuk mendorong percepatan perputaran roda perekonomian rumah tangga terutama disektor pertanian. Sehingga tanpa inovasi-inovasi tersebut, pemerintah Rote Ndao dibawah kepemimpinan LENTERA justru dianggap tidak mempunyai pikiran.

Benar bahwa kita dapat menyangkal dengan mengajukan dalil bahwa eksistensi Pemerintahan LENTERA dapat dilihat dari masih berjalannya adminitrasi pemerintah namun perlu diragukan eksistesinya jika dalam  perjalannnya Pemerintahan LENTERA justru hanya mampu memplagiasi dan melanjtkan Program yang pernah dilakukan oleh  pemerintahan sebelumnya.



 Sehingga dengan hanya bermodalkan plagiasi tanpa ada sentuhan inovasi, rezim hari ini dapat dituduh sebagai sebuah PEMERINTAHAN TANPA PIKIRAN, atau dalam pengertian bahwa pemerintah kita hari miskin dalam gagasan dan ide dalam konteks demokrasi dan pembangunan.
Jika kita kembali pada akhir abad 15, Descartes pernah mengucapkan sebuah kalimat sakti yang berbunyi “Cogito Ergo Sum” yang secara harifia artinya aku berpikir maka aku ada; sebuah kalimat yang mengantar permulaan abad renaisans dan menyebabkan revolusi prancis.

Dari pemikiran tersebut, Descartes mencoba untuk membedakan dunia fisik dan dunia pikiran, dengan pandangan bahwa esensi mendahalui eksistensi, dan esensi manusia sejati ditandai dengan adanya pikiran. atau dalam pengertian bahwa sesorang ada ketika ia berpikir.


Berangkat dari pemikiran Descartes tersebut, maka sebagai dasar filosifis kritis ini, saya justru melihat ada sebuah perbedaan yang tidak begitu berarti antara orang gila dan rezim yang berkuasa hari ini. Atau dalam artian bahwa walapun ada begitu banyak perbedaan antara kekuasaan dan kegilaan, namun sesuatu yang paling mencolok dari perbedaan-perbedaan ini adalah bahwa Orang gila atau orang yang tidak waras dalam berpikir dengan rezim yang tidak mempunyai pikiran Inovatif adalah terletak pada hak memilih dan dipilh. Tetapi Ketiadaan Pikiran dalam Pemerintahan LENTERA tidak dimkasudkan bahawa kekuasaan hari ini adalah kekuasaan yang gila atau tidak waras, melainkan sebuah kekuasaan tanpa pikiran inovatif.



Dalam beberapa diskursus yang pernah dibuat oleh anak saya Dany Manu dalam sebuah postingan di media ini pada tanggal 20 januari tentang PERDA yang hanya mengulang kembali PERMENDAGRI, adalah sebuah realitas dari ketiadaan pikiran Pemerintah dalam mengelola Demokrasi. Sehingga sebagai konsekunsi logisnya adalah bahwa Rezim hari ini hanya mampu memplagiasi program dan pikiran orang lain.



Tembusan kepada yang terhormat: Paulus Henuk, Pena Ntt, Adi Octavianus, Adi Sipa, Minto Mbuik, Jellon Trump, Ovan Tungga Benny Manafe Fred S Saudila, Ayub Manuain


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel Sedang #Viral