Ini Sikap Sinode Dalam Kisruh Sinode GMIT Dengan Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot Tentang Status Kepemilikkan 2 Sekolah Kristen di Amanuban

Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot


Persoalan di dua Sekolah Kristen di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yakni SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana, Sinode GMIT secara tegas mengatakan kedua Sekolah tersebut bukan milik Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot, tetapi milik GMIT dibawah naungan Yapenkris Tois Neno.

Pernyataan itu disampaikan melalui surat Majelis Sinode GMIT, nomor: 200/GMIT/I/F/Mar/2021 tertanggal 3 Maret 2021.

Dalam surat itu dijelaskan, SMP Kristen 1 Amanuban Barat dan SMA Kristen Manek To Kuatnana merupakan aset GMIT yang dikelola Yapenkris Tois Neno dan sudah tercatat dalam akta pendirian Yapenkris Tois Neno yang diterbitkan Kemenkumham Republik Indonesia.
Kedua Sekolah itu pun tercatat di Kemendikbud RI sebagai Sekolah swasta yang bernaung dibawah Yapenkris Tois Neno.

Sebelumnya, pihak Sinode GMIT pun telah mengeluarkan undangan untuk klarifikasi persoalan kedua Sekolah itu kepada Yapenkris Tois Neno dan Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot, namun hanya dihadiri boleh Yapenkris Tois Neno.
Sehingga melalui surat tersebut GMIT menegaskan terkait kepemilikan aset dan pengelolaan kedua Sekolah Kristen itu. Dijelaskan, kedua Sekolah itu milik GMIT dibawah naungan Yapenkris Tois Neno.

Upaya mengambil alih pengelolaan dan aset Sekolah dinilai merupakan perbuatan melawan hukum. Sehingga klaim kepemilikan aset dari Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot adalah keliru.

Karena itu, Majelis Sinode GMIT secara tegas menolak klaim kepemilikan aset kedua Sekolah itu dari Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot.
Yayasan baru itu pun diminta untuk tidak melakukan aktivasi apapun di kedua Sekolah tersebut. Sebab perbuatan itu dinilai melawan hukum sehingga akan berdampak pada penyelesaian secara hukum.

Pihak Sinode GMIT pun hanya mengakui Yapenkris Tois Neno sebagai pengelola kedua Sekolah Kristen itu sebagaimana yang tercatat pada Kemdikbud Republik Indonesia.
Surat dari Majelis Sinode GMIT itu diantar pada Jumat (5/3/2021). Ketua Yapenkris Tois Neno, Martinus Banunaek yang ditemui di SMP Kristen 1 Amanuban Barat menjelaskan, pihaknya bersama perwakilan Sinode GMIT menyerahkan surat tersebut kepada Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot.

Selain itu, sesuai kesepakatan bersama dengan pihak Sinode GMIT, Yapenkris Tois Neno akan melakukan pendekatan dengan keluarga mendiang Samuel Laoe untuk menjelaskan niat baik Yayasan dan Sinode GMIT.

“Apapun yang terjadi keluarga tidak bisa kita kesampingkan. Kita akan sampaikan bahwa tujuan kita adalah untuk kepentingan pendidikan anak-anak”, ujar Banunaek.
Saat ditanya terkait pernyataan dari Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot yang mengatakan aset kedua Sekolah itu bukan milik Yapenkris Tois Neno dan GMIT, Banunaek menegaskan pernyataan tersebut keliru.

Menurutnya, dalam surat balasan Yapenkris Tois Neno tanggal 23 Februari lalu, pihaknya secara tegas sudah menyampaikan, perbuatan itu melawan hukum dan dinilai merupakan pencaplokan aset.

Lebih lanjut dijelaskan, pihak Sinode GMIT pun telah menyatakan penolakan atas klaim tersebut dalam pertemuan tanggal 2 Maret lalu. Dalam surat dari Sinode GMIT pun sudah ditegaskan hal itu.

“Jadi permintaan untuk mengambil alih semua aset itu merupakan permintaan yang tidak bisa kami layani karena melawan hukum”, tegas Banunaek.
Ketua Yayasan Sonaf Pencerdasan Usif Napoleon Faot, Drs. Habel Hiterihun yang dikonfirmasi terkait surat dari Sinode GMIT mengatakan, pihaknya taat pada surat dari Sinode GMIT.

“Kami taat pada ketentuan dari Sinode (GMIT)”, ujar Habel melalui sambungan telponnya.
Ia mengatakan, pihaknya menghormati sikap Majelis Sinode GMIT dan ketentuan itu menjadi putusan final terkait kepemilikan kedua Sekolah Kristen itu beserta asetnya.
“Tidak ada persoalan bagi kami kalau Sinode sudah mengatakan begitu karena Sinode GMIT merupakan lembaga tertinggi dari warga GMIT”, jelasnya. Karena itu, pihaknya tidak lagi menggubris persoalan itu serta menganggap surat tidak pernah ada surat permohonan pamit.

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel