Akhir Dari Kisruh Donasi Belasan Miliar Dari Jerman Untuk YASPEM Maumere Yang Sempat Diklaim Sebagai Donasi Untuk Pater Heinrich Bollen, SVD Sebagai Pribadi

Dilansir dari Matanews.net, akhirnya Pengadilan Jerman memutuskan bahwa danah hibah sekitar belasan miliar dari seorang donatur Jerman sebagaimana tertuang dalam surat wasiat yang bersangkutan sebelum meninggal diberikan kepada Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (Yaspem) sebagai sebuah lembaga, dan bukannya kepada Pater Heinrich Bollen, SVD sebagai pribadi.

“Pada Bulan Oktober Tahun 2020 Jaksa menyampaikan kepada kami (Yaspem) bahwa warisan akan diberikan kepada Lembaga resmi Yaspem, dan bukan kepada pribadi Pater Heinrich Bollen, SVD. Jadi, pengadilan Jerman yang memutuskan bahwa hibah tersebut diberikan kepada Yaspem sebagai sebuah lembaga sosial,” demikian pernyataan tertulis yang disampaikan Ketua Badan Pengurus Yaspem Ir. Agustinus Romualdus Heni atau yang biasa disapa Heni Doing kepada wartawan di Kantor Yaspem Maumere, Sabtu (30/1)

Heni Doing menjelaskan perihal beredar isu bahwa ada dana hibah dari seorang donatur Jerman yang menghibahkan dananya untuk pribadi Pater Bollen, SVD, padahal fakta sesungguhnya adalah Jaksa/Notaris Pengurus warisan yang secara resmi ditunjuk Pengadilan Jerman bersurat kepada Yaspem sebagai Yayasan, untuk memberikan tanggapan entah mau menerima dana dari seorang donatur Jerman yang dalam wasiatnya meminta agar harta miliknya dihibahkan untuk lembaga Yaspem.


“Ia (jaksa/notaris) semula meminta melalui email Yaspem agar kami mengirimkan alamat resmi kantor Yaspem. Sekretaris Pengurus masih membalas email tersebut dengan pertanyaan ‘Siapa Anda, dan untuk apa meminta alamat Kantor Yaspem?’. Jaksa tersebut mengatakan kami akan mengirim surat dan apabila membaca surat tersebut baru kamu paham mengapa kami membutuhkan alamat Yaspem. Sekretaris pengurus mengirimkan alamat tersebut. Ternyata kami mendapat kiriman dokumen
yang berisi permohonan bahwa seorang donatur yang baru saja meninggal, meninggalkan sebuah wasiat berisi permohonan agar seluruh hartanya dihibahkan untuk Yaspem,” kata Heni Doing.

Dalam dokumen itu, lanjut Heni Doing, jaksa meminta Yaspem untuk mengirimkan jawaban entah bersedia menerima warisan itu atau tidak.
“Di dalam itu jaksa tersebut menyediakan sebuah pernyataan yang harus ditandatangani pengurus Yaspem. Sebagai bentuk penghormatan dan niat baik kepada Pater Heinrich Bollen, SVD pengurus berinisiatif memperlihatkan dokumen itu kepada Pater Heinrich Bollen, SVD dan menanyakan kepadanya ‘apakah ia mengenal donatur bersangkutan.”

Pater menjawab “Ada begitu banyak donatur dan saya tidak bisa ingat semuanya.”
“Ia (Pater Bollen, Red) juga dengan suka hati menaruh tanda tangannya di dokumen tersebut. Kami pun mengirimkan dokumen yang sudah ditandatangani Ketua Badan Pengurus Yaspem dan Pater Heinrich Bollen, SVD tersebut kembali kepada Jaksa di Jerman disertai dengan dokumen berisi nomor rekening resmi Yaspem yang biasanya Yaspem berikan untuk dana-dana yang akan diaudit secara publik melalui audit independen,” katanya.

Pengurus Yaspem, lanjut Heni Doing, terkejut ketika mendapat sebuah email dari Pater Heinrich Bollen, SVD yang mengatakan bahwa orang-orang yang mengirimkan dokumen ke kejaksaan Jerman adalah penipu dan pembohong.

“Kemudian ia juga selalu mengatakan bahwa ia mengenal baik donatur tersebut, hal yang justru dalam pembicaraannya dengan pengurus, ia sangkal. Karena itu, Pengurus Yaspem terpaksa memberikan klarifikasi ke Jaksa pengurus warisan di Jerman, untuk menunjukkan bahwa lembaga Yaspem bukan lembaga abal-abal dan Pengurusnya juga sah. Jaksa tersebut mengatakan bahwa karena hal ini sudah menjadi konflik, maka Pengadilan di Jerman harus memproses dan memberikan putusan,” kata Heni Doing.

“Jaksa meminta kami untuk mengirimkan semua kelengkapan dokumen resmi lembaga. Setahu kami, dari daftar kegiatan Notaris, pengurus warisan di Jerman yang dikirimkan kepada kami, bukan hanya kami yang diminta tetapi juga Pater Bollen dan Pengacaranya juga diminta dokumen resmi yang sama. Pusat Komunitas SVD di Jerman yang disebut sebagai Steyler Missionsgesellschaft juga dipanggil sebagai pihak ketiga yang dapat memberikan kesaksian tentang Yaspem,” kata Heni Doing.

Selama pengadilan itu, lanjut Heni Doing, Pater Heinrich Bollen, SVD dan pengacaranya juga aktif mengirimkan informasi. “Bulan Oktober Tahun 2020 Jaksa menyampaikan kepada kami bahwa warisan akan diberikan kepada Lembaga resmi Yaspem dan bukan kepada pribadi Pater Heinrich Bollen, SVD. Jadi, pengadilan Jerman yang memutuskan bahwa hibah tersebut diberikan kepada Yaspem sebagai sebuah lembaga sosial,” kata Heni Doing.

Beberkan 7 Fakta Lainnya

Selain terkait dana hibah salah seorang donatur Jerman di atas, Heni Doing juga menyampaikan 7 informasi penting lainnya tentang Yaspem.

Pertama, aset Yayasan tidak bisa dialihkan oleh pribadi tertentu di dalam Yayasan, apa pun kedudukannya dalam Yayasan tersebut, karena aset Yayasan adalah milik bersama yang pemanfaatannya dipergunakan untuk kepentingan sosial.

Kedua, secara hukum CV Yaspem Sarana yang mengoperasikan Hotel Sea World Club dan Bengkel Yaspem adalah milik Yaspem. Tanah-tanah di atasnya hotel berdiri disertifikat atas nama Yaspem.

Ketiga, Pater Heinrich Bollen, SVD sudah mengundurkan diri secara resmi dari Pembina Yaspem melalui sebuah surat yang ditandatanganinya sendiri di hadapan 2 orang saksi tertanggal 24 Agustus 2015; bahkan sebelum penandatanganan tersebut ia mendesak Bapak Silvester Nong, sebagai seorang anggota Pembina Yaspem untuk segera membuat rancangan surat pengunduran diri tersebut (copy terlampir). Pater Heinrich Bollen, SVD sendiri semasa hidupnya tidak menyangkal bahwa ia membuat
surat pengunduran diri tersebut. Ia memang pernah meminta untuk kembali duduk sebagai Pembina, yang tidak ditanggapi oleh pembina yang lain.

Keempat, kami juga menegaskan sebagai orang Katolik dan setelah meminta konfirmasi dari sejumlah imam SVD, bahwa seorang biarawan SVD tidak diperkenankan mengangkat anak angkat dan juga apabila ia memiliki harta sebelum ia menerima kaul, itu dianggap sebagai warisan pribadi, namun sebagai anggota biara itu harus menjadi milik biara SVD. Apalagi Pater Heinrich Bollen, SVD sudah secara resmi menyatakan melalui akte notaris di hadapan saksi SVD, bahwa ia tidak memiliki harta pribadi, dan bahwa Hotel Sea World Club dan barang lain yang ia daftarkan atas nama Yaspem merupakan milik Yaspem. Akte Notaris tersebut dapat dicek pada Provinsial SVD Jawa.

Kelima, berkaitan dengan Pater Heinrich Bollen, SVD yang tinggal di Hotel Sea World Club SVD, dan saat itu sakit, SVD melalui Provinsial Ende juga sudah melakukan kesepakatan resmi dengan Yaspem.
Keenam, setelah meninggalnya Pater Bollen tidak ada yang berubah menyangkut aset Lembaga.

Ketujuh, sesudah waktu yang ditentukan bersama SVD, kami akan membersihkan rumah Pater, mengembalikan harta pribadi pater kepada SVD, dan selanjutnya kamar itu akan kembali berfungsi sebagai salah satu cottage di Hotel Sea World Club yang disediakan untuk tamu.

Turut mendampingi Ketua Pengurus Yaspem Ir. Agustinus Romualdus Heni saat memberikan keterangan ini, di antaranya Sekretatis Yaspem Aleksius Armanjaya, Direktur CV Yaspem Sarana Rafael Raga, Anggota Pembina Yaspem Falentinus Pogon, dan Manajer Hotel Sea World Club Alfred Wempy.

Surat Wasiat Pater Bollen, SVD

Pengacara Polikarpus Raga,SH (kiri) membacakan surat wasiat Pater
Bollen kepada awak media di Restoran Sea World Club Desa Waiara,
Kecamatan Kewapante, Sabtu (23/1). Foto Istimewa.

Sementara Pater Heinrich Bollen, SVD sebelum meninggal menulis surat wasiat terkait tanggapanya atas kepengurusan Yaspem 2016-2021 yang dinilainya cacat, dan tanggapan baru dibacakan oleh pengacara subtitusi, Polikarpus Raga,SH dalam acara pembacaan surat wasiat Pater Bollen pada tanggal 23 Januari 2021 di Restoran Sea World Club Desa Waiara, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, NTT. Dalam surat tanggapan atas kepengurusan Yaspem yang baru itu, Pater Bollen menulis: “Kepada saudara Silvester Nong Manis, SH sehubungan dengan jawaban dan tanggapan terhadap surat saudara tanggal 27 November 2017 bersama ini saya sampaikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, bahwa apabila saudara bermaksud baik untuk menjaga dan memelihara visi dan misi yang tertuang dalam anggaran dasar seharusnya saya selaku ketua pembina dan anggota pembina diundang dapat bersama-sama membentuk pengurus baru guna melanjutkan program yang sejalan dengan maksud dan tujuan pendirian Yaspem.

Kedua, bahwa oleh karena saudara sewenang-wenang mengangkat pengurus baru Yaspem periode 2016-2021 tanpa sepengetahuan dan keikutsertaan saya selaku pendiri dan ketua pembina Yaspem maka segala keputusan yang saudara ambil baik rapat pembina maupun kepengurusan adalah cacat hukum.

Ketiga, bahwa dengan ketidakikutan dan ketidakhadiran saya dalam rapat tersebut maka itu adalah keputusan pribadi anda. Dengan demikian keputusan anda yang mengatasnamakan pembina adalah keputusan palsu / fiktif. Yang merupakan suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum etika dan moral.

Keempat, bahwa seyogyanya saudara harus menyadari tujuan pembentukan Yaspem adalah pembentuk membantu masyarakat kecil yang mempunyai kesulitan terutama para fakir miskin, yatim piatu sehingga para pengurus yaspem harus betul-betul memahami hakekat dari visi dan misi yaspem

Kelima, bahwa hal lain yang perlu saya sampaikan adalah keputusan pengurus yang anda bentuk tidak sesuai dengan semangat awal dari pada pembentukan Yaspem sehingga yang saudara lakukan tanpa kehadiran saya disinyalir adalah sebuah rencana jahat yang dilakukan secara sistematik, terencana melalui pembentukan pengurus periode 2011-2016 di mana dalam akta pendirian saya, anda, almahrum VB dacosta dan Romanus Woga sebagai dewan pendiri. Sedangkan yaspem itu sudah berdiri sejak tahun 1970.

Selain itu perlu saya tegaskan bahwa jabatan yang diberikan kepada anda baik sebagai anggota pembina maupun pengurus LBH Veritas adalah jabatan belas kasihan dari saya bukan karena jerih payah anda maupun kemampuan anda.

Keenam, bahwa perlu saya ingatkan kepada anda pada suatu hari sekitar bulan Februari 2016 anda menyodorkan sebuah surat yang saya tanda tangani yang saya tidak mengetahui dan membaca isi surat tersebut ternyata di kemudian hari anda mengatakan bahwa surat pengunduran diri dari saya selaku pembina Yaspem padahal anda mempunyai maksud busuk atau jahat untuk menipu.

Ketua Badan Pengurus Yaspem Maumere Ir. Agustinus Romualdus Heni (tengah) didampingi Direktur CV Yaspem Sarana Rafael Raga (kanan) dan Anggota Pembina Yaspem Falentinus Pogon memperlihatkan sejumlah dokumen terkait legalitas Yaspem kepada wartawan di Kantor Yapsem Maumere, Sabtu (30/1).


Karena sudah berulangkali saya menyurati anda, menelpon, dan mengirimkan email kepada anda, Romanus Woga, Heni Doing untuk mengangkat satu orang pembina karena VB Da Costa meninggal untuk mengisi kekosongan anggota pembina tetapi anda dan semuanya tidak pernah datang menjawab surat saya. Anda bersikap egois, masa bodoh, arogan seolah olah anda sudah menjadi penguasa penuh dan pemilik yaspem. Supaya anda tahu bahwa yaspem itu adalah milik masyarakat.

Anda bersikap egois, masa bodoh, arogan, seolah-olah Anda menjadi penguasa penuh di Yaspem. Supaya anda tahu Yaspem itu milik masyarakat.

Ketujuh, bahwa perlu saya tegaskan pemilihan pengurus Yaspem periode 2016-2021 yang anda bentuk tanpa rapat pembina adalah cacat.

Dan mengingat desakan dari tokoh masyarakat berbagai kampung di Kabupaten Sikka dan alumni yang pernah saya biayai yang tersebar di berbagai kota di seluruh wilayah Indonesia serta para fakir miskin dan anak panti asuhan yang saya bantu semuanya mendesak agar segera dibentuk kepengurusan baru periode 2017-2022 dan direstui oleh saya selaku pembina Yaspem untuk menghidupkan kembali visi misi Yaspem yang sesungguhnya yaitu kepedulian keperpihakan terhadap orang kecil kaum termarjinalisasi atau kaum terpinggirkan.

Demikian tanggapan saya selaku pendiri ketua pembina. Hormat Pater Heinrich Bolen,SVD”

Klarifikasi yang Disampaikan Silvester Nong Manis Inilah klarifikasi resmi yang dikeluarkan Pembina Yaspem Silvester Nong Manis, SH terkait surat wasiat Pater Bollen di atas yang diterima Matanews.net dari Ketua Pengurus Yaspem Ir. Agustinus Romualdus Heni, di Kantor Yaspem Maumere, Sabtu (30/1/).
Pembina Yaspem Silvester Nong Manis, SH. (Foto istimewa)



Inilah kutipan lengkapnya:

1. Tuduhan Pater bahwa Kepengurusan Yaspem (Yayasan Sosial Pembangunan Masyarkat) periode sebelumnya 2011-2016 tanpa kehadiran Pendiri dan Ketua Pembina Yaspem diduga adalah sebuah rencana kejahatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana.
Tuduhan di atas adalah fitnah. Karena ternyata di dalam Anggaran Dasar Yaspem tercantum dengan jelas dan tegas bahwa yang hadir di hadapan Notaris kala itu adalah Pater Bollen sendiri bersama Bapak Romanus Woga sekaligus mewakili Bapak V.B. da Costa dan saya;

2. Pada poin satu surat wasiat fitnah itu Pater mendalilkan :

“Apabila saudara bermaksud baik untuk menjaga dan memelihara visi dan misi yang tertuang dalam anggaran dasar seharusnya saya selaku ketua pembina dan anggota pembina diundang dapat bersama-sama membentuk pengurus baru guna melanjutkan program yang sejalan dengan maksud dan tujuan pendirian Yaspem.

Tanggapan saya :

Bagaimana mungkin saya melibatkan Pater, karena pada kenyataannya pater sudah mengundurkan diri sejak tanggal 24 Agustus 2015. Pengunduran diri pater ini diawali dengan safari pater ke SVD dan ke Bapak Uskup Maumere untuk berkonsultasi, apakah ia masih harus tetap sebagai Pembina atau berhenti sebagai pembina YASPEM. Akhirnya Pater disarankan oleh SVD dan Bapak Uskup untuk mengundurkan diri karena alasan lanjut usia.

Atas pertimbangan yang demikian itu, maka Pater menulis email kepada saya tertanggal 11 Agustus 2015 jam 12.07 PM. agar saya mempersiapkan Surat Undur Diri Pater. Tapi karena alasan Pater sakit, tanda tangan surat undur diri yang sedianya dilaksanakan di Jakarta, ditunda untuk beberapa waktu.

Ketika saya ke Maumere untuk urusan pelayanan dan bantuan hukum, saya ketemu Pater, lalu pater tanya : “Sil, mana surat undur diri saya?” Akhirnya saya minta Alfred Wempy print out suratnya, tertanggal 24 Agustus 2015, lalu pater menandatanganinya di hadapan saya dan Alfred Wempy. Sejak itu tugas, fungsi dan wewenang Pater selaku pembina, otomatis ikut tanggal.

Bagaimana mungkin saya melibatkan pater dan berkonsultasi dengan Pater, kalau Pater sendiri bersama pengacaranya dan bersama MARIA MAGDALENA, secara ilegal sedang merestrukturisasi anggota organ Yaspem?

Dengan demikian, dalil poin 1, 2 dan 3, sekaligus terjawab, karena semuanya berjalan sesuai dengan koridor hukum yang ada.

3. Dalil Pater poin 4, “Bahwa seyogyanya saudara harus menyadari tujuan pembentukan Yaspem adalah pembentuk membantu masyarakat kecil yang mempunyai kesulitan terutama para fakir miskin, yatim piatu sehingga para pengurus Yaspem harus betul-betul memahami hakekat dari visi dan misi yaspem

Tanggapan Saya :

Puluhan tahun saya bekerja dalam diam melayani orang kecil yang tertimpa bencana ketidak-adilan hukum sesuai visi misi pater yang tertuang dalam anggaran dasar Veritas dan Yaspem dengan tanpa berkeluh kesah, tanpa pamrih. Tugas saya sekarang adalah tetap jaga visi misi Veritas dan Visi misi Yaspem. Dengan demikian tuntutan kredibilitas pengurus dalam menjalankan program kerja Yaspem, menjadi penting adanya.

4. Terhadap dalil poin 5.
Keputusan Pengurus yang saya bentuk, keputusan yang mana? Tentang apa? Karena banyak keputusan pengurus yang saya bentuk, termasuk salah satunya adalah menyelenggarakan Renstra, yang dari hasil renstra tersebut salah satu poin yang sudah dijalankan adalah melakukan audit terkait penyalahgunaan keuangan SEA WORLD CLUB, sekitar kurang lebih Rp3 miliyar rupiah, selama masa kepemimpinan Martin Wodon yang Pater tunjuk, antara lain secara ilegal membiayai usaha sabotase YASPEM yang dimotori oleh MARIA MAGDALENA dan secara ilegal pula memilih anggota organ Yaspem baru, namun pada akhirnya mentok karena terhalang oleh
hukum.

5. Dalil lain yang pater tuduhkan kepada saya masih pada poin 5, yang katanya saya disinyalir melakualn sebuah rencana jahat yang dilakukan secara sistematik, terencana melalui pembentukan pengurus periode 2011-2016; adalah sebuah fitnah yang keji.

Bagaimana mungkin saya melakukan sesuatu yang saya sendiri tidak memghadirinya dan tidak mengambil bagian di dalamnya. Karena yang hadir di hadapan notaris kala itu adalah Pater dan Bpk. Romanus Woga, sekaligus mewakili Bpk. V.B. da Costa dan Saya. Yang jalas secara etika dan moral serta hukum, selaku pembina Yaspem saya dapat pertanggungjawabkan atas tuduhan itu, walaupun saya paham betul bahwa yang menuduh itulah yang wajib membuktikan tuduhannya.

4. Dalil poin lima terkait jabatan saya, baik di YBBH Veritas maupun di Yaspem, apakah itu merupakan belas kasihan pater? Hal itu hanya pater yang tahu. Karena selama puluhan tahun saya hidup dan berkarya bersama Bpk V.B. da Costa dam Pater, saya hanya menempatkan diri sebagai pesuruh murni. saya tidak pernah berharap apa-apa atas abdi saya, saya juga tidak pernah meminta jabatan, saya juga tidak pernah meminta Pater harus menghidupi saya dan anak istri saya.


Perlu diketahui pula, karena beban tanggung jawab atas tugas pelayanan yang saya emban begitu berat, maka pada tahun 2002 Setelah membela Tibo, Cs. di Poso, saya meminta kepada Bapak V.B. da Costa agar saya ada di luar YBBH Veritas, namun
Bpk. V.B. da Costa diam, ia tidak menjawab sampai dengan ia menghadap sang Khalik

Terhadap Yaspem, ketika saya dipaksa oleh orang kepercayaan Pater, yaitu Paul Djuadi agar Sea World Club pisah dari Yaspem, dengan tegas saya katakan, tidak. Ia lalu dengan keras memghardik saya, dia bilang: “Sil, kalau saya masih muda seperti engkau, saya sudah caplok itu SEA WORLD CLUP, saya langsung jawab, jika demikian maunya Om, saya siap mundur dari Pembina. Atas keinginan Paul Djuadi ini, Pater Bolen juga pernah menegur Paul Djuadi, pater katakan, he Paul apakah engkau mau ambil SEA WORLD CLUB? Suatu waktu, ketika rapat pembina (Pater, V.B. da Costa dan saya), Paul Djuadi juga hendak masuk terlalu jauh untuk urusan Yaspem, akhirnya Paul Djuadi dibentak dan disuruh stop bicara oleh V.B. da Costa.

Jujur, memimpin YBBH VERITAS dan YASPEM, itu adalah sebuah beban; untuk VERITAS, Bapak V.B. da Costa pergi hanya meninggalkan kami anak-anak didiknya dan lembaga dengan keuangan minus. Walaupun demikian, kami tetap eksis memberikan pelayanan dan bantuan hukum sampai dengan sekarang ini. sedangkan untuk YASPEM, saya hanya diwarisi beban masalah yang antara lain diciptakan oleh Pater sendiri, antara lain berkelahi dengan Ricard dan Gizela yang pater percaya sebagai Marketing Hotel SWC. Pater juga berupaya melaui pengacaranya, secara ilegal membentuk pegurus Yaspem baru, namun kemudian mentok karena terhalang oleh aturan. Keuangan SWC dipegang dan dikelola oleh Pater sendiri, sehingga orang-orang terdekat Pater senantiasa menyalahgunakan kepercayaan Pater, sehingga keuangan SWC sering minus.

Lalu, apa tugas saya sekarang?

Sampai demgan sekarang tugas saya untuk YASPEM, tetap, tidak berubah, yakni kawal misi dan visi Pater yang tertuang dalam Anggaran dasar YASPEM, Jaga aset Yaspem supaya tidak tercecer keluar; jaga anggota komunitas Yaspem agar tetap kompak, tidak boleh ada satu pun anggota yang tercecer di luar. Selain itu melakukan bersih-bersih, dengan mulai melakukan audit keuangan, serta menerapkan transparansi manajemen, terutama manajemen keuangan. Karena sebelumnya keuangan hotel SWC hanya Pater dan orang- orang kepercayaan pater yang tahu.
Pengacara Polikarpus Raga,SH (kiri) memperlihatkan surat wasiat Pater Bollen kepada awak media di Restoran Sea World Club Desa Waiara, Kecamatan Kewapante, Sabtu (23/1). Foto Istimewa.


Dan yang perlu dicatat, pembina YAYASAN tidak digaji, oleh karena itu selama ini banyak uang pribadi saya yang keluar untuk tugas pembinaan saya di Yaspem. Saya hanya diberi gratis penginapan dan makan minum.

Jadi mengurusi VERITAS dan YASPEM itu adalah salib yang sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidup saya yang harus saya pikul.

5. Dalil Pater pada poin 6, alinea pertama, sudah terjawab pada poin dua di atas; semuanya transparan, semuanya tanpa rekayasa, yakni diawali dengan konsultasi pater ke SVD dan ke Bapak Uskup, kemudian Pater minta saya melalui email agar saya buatkan surat undur diri, lalu Pater tandatangani dihadapan saya dan Alfred Wempy, pada tanggal 24 Agustus 2015.

Dan sejak tahun 2015 itu pula Pater tuntas merampungkan statusnya sebagai pembina di Yaspem dan aset-aset Yaspem dengan menyatakan sikap dihadapan Notaris yang ditujukan kepada Provinsial SVD, di mana pada pokoknya ditegaskan bahwa Pater tidak punya harta milik pribadi, semua harta atas nama YASPEM, Pater juga tidak punya anak angkat.


6. Dalil pater poin 6, aline kedua, terkait dengan pergantian pembina, dengan penuh rasa tanggung jawab sudah saya jalankan, yaitu, ketika pater meminta agar Alm. Bapak V.B. da Costa digantikan oleh Bapak Nong Susar, yang kala itu menjadi Wakil Bupati Sikka, Bapak Nong Susar hanya menjawab : “Sil, apakah Om Romanus Woga, Heny Doing dan Rafael Raga serta engkau sendiri tidak mampu, jadi saya harus ke sana (menjadi Pembina Yaspem)?” Karena jawaban yang demikian itu maka saya
sampaikan kembali kepada Pater dan mengusulkan Bapak Falentinus Pogon untuk menggantikan Bapak V.B. da Costa, sebagaimana sebelum meninggalnya, Bapak V.B. da Costa, ia meminta agar Falentinus Pogon untuk menggatikan beliau ketika dia sudah tidak ada. Mendengar usulan itu, pater marah besar dan mengusir saya dengan ancaman, Pater akan menghadirkan Pengacara Pater untuk merombak semua anggota organ Yaspem. Dan itu benar dilakukan oleh Pater melalui kuasa hukumnya
dari Kedutaan Jerman, lalu ditambah lagi Wue Robert Bait Keytimu. Upaya ilegal ini menelan biaya yang begitu besar. Tapi sayang semua urusan itu mubazir karena bertentangan dengan undang undang.

7. Dalil poin 7, terkait dengan tuduhan bahwa pengurus yang saya bentuk adalah cacat, namun anehnya, Pengacara Pater, baik yang didatangkan dari Kedutaan Jerman dan dari Wue Robert Bait, tidak mempersoalkannya. Kementerian Hukum dan HAM pun tidak mempersoalkannya, bahkan mengesahkannya. Anehnya, Pater malahan
menyimpan semua permasalahan tersebut ke dalam brangkas sebagai wasiat.

Kemudian baru saya tahu, bahwa Pater simpan dendam terhadap saya untuk dihibahkan kepada orang yang tidak bertanggung jawab, supaya orang-orang itu ramai-ramai memfitnah saya, ketika Pater sudah tidak ada lagi?

Walau masih ada tanya:


1. Apakah Surat Fitnah Pater yang ditujukan kepada saya juga
merupakan objek Wasiat?
2. Jikalau sebagai objek wasiat siapa yang diberi wasiat?
3. Apa tujuan pemberian wasiat itu?
4. Apakah untuk mewariskan fitnah? 

Sumber: matanews.net

REKOMENDASI UNTUK ANDA

There is no other posts in this category.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel