Begini Modus dan Kronologi 12 Sopir Asal Malaka Ditipu Di Kupang, Mobil dan Uang Puluhan Juta Raib Dibawa kabur Pelaku


Para sopir yang menjadi korban penipuan. (Foto: Rocky Tlonaen/RNC).


Dilansir dari rakyatntt.com, sebanyak 12 orang sopir asal Kabupaten Malaka menjadi korban penipuan di Kupang. Uang mereka senilai puluhan juta rupiah raib dibawa kabur dua orang pelaku.

Ditemui RakyatNTT.com, Sabtu (20/2/2021) malam, di depan Hotel Neo Aston, sebanyak 12 orang korban menceritakan kisah tragis yang dialami mereka. Dua pelaku yang berhasil membawa kabur uang para sopir tersebut diketahui bernama Ade Mince Mooy dan Muhamad Ruslan Ali.


Kedua pelaku menjanjikan bahwa PT. Naka akan menyewa kendaraan mereka selama sebulan untuk operasional survei lokasi proyek nasional di Pulau Timor.

Salah satu korban, Arnoldus Yustinus Seran mengungkapkan, kedua pelaku sebelumnya mengatakan akan ada survei jalan trans Timor yang bakal dikerjakan para konsultan dari PT. Naka di Jakarta, sehingga perusahaan itu membutuhkan 12 mobil dengan sopir untuk operasional.


Para sopir diiming-imingi upah Rp 10 juta dan gratis menginap di Hotel Neo Aston selama sebulan. Sejak 6-20 Februari mereka dijadikan staf PT. Naka dan dilengkapi tanda pengenal. “Jadi kita berangkat itu dari Malaka tanggal 6, ada 10 unit mobil langsung check in ke Hotel Neo,” kata Arnol.

Ia menyampaikan selama di penginapan mereka tidak merasa curiga, sebab pelayanan di hotel sama seperti yang disampaikan para pelaku. Selasa (16/2/2021) kedua pelaku menyampaikan bahwa para konsultan akan tiba di Kupang, maka mereka wajib mempersiapkan diri dengan mengikuti pemeriksaan rapid test. Namun 1 jam kemudian dibatalkan dengan alasan para konsultan tidak jadi berangkat dari Jakarta. Alasan ini disampaikan para pelaku berulang-ulang.


Arnol menjelaskan selama di hotel mereka dilarang untuk keluar, karena katanya bos perusahaan tak mau ada sopir yang reaktif terhadap covid-19. Para sopir juga mengungkapkan mereka selalu memberikan uang kepada kedua pelaku. Para pelaku sering beralasan untuk kepentingan kelancaran proyek.

Arnol mengatakan, Sabtu (6/2/2021) lalu, saat ia hendak membayar angsuran mobil di Adira, Ade Mooy memintanya agar tidak dilakukan pembayaran dan membiarkan mobil ditahan sementara oleh Adira. Pasalnya angsurannya telah jatuh tempo. Saran itu pun diikuti Arnol karena pelaku mengatakan Kepala Kantor Adira adalah kakak iparnya, sehingga satu hari kemudian mobil sudah bisa diambil kembali.


Selang beberapa jam, Ade Mooy pun meminta Arnol untuk mentransfer uang ke rekeningnya senilai Rp 5.000.000 untuk membayar angsuran mobil. Pelaku beralasan sudah berkoordinasi dengan kakak iparnya yang adalah Kepala Kantor Adira. Saat Arnol tiba di kamar hotel, kedua pelaku sudah berada di kamarnya. Mereka pun meminta lagi uang senilai Rp 5.000.000 untuk melakukan pembayaran 2 bulan kredit yang tertunda.

“Katanya ini harus tambah lagi 5 juta. Semua itu kena Rp 10.198.000 untuk 2 bulan. Jadi saya telpon ke isteri di rumah di Malaka, tolong tranfer dulu ke rekening ini karena mobil kita besok mau diambil, kita mau tebus kembali,” ungkapnya.


Istri Arnol pun hanya mentransfer Rp 3.000.000. Selebihnya Arnol dibantu rekannya. Uang pun diberikan kepada kedua pelaku. Tak hanya itu, keesokan hari, kedua pelaku berulah lagi dengan meminta uang pada Arnol senilai Rp 500.000 untuk digunakan sebagai pelicin bagi pihak bank agar mencairkan dana untuk biaya para sopir. Namun ketika keduanya kembali ke hotel tidak membawa uang.

Arnol juga mengungkapkan, hingga saat ini ia belum mengetahui pasti di mana mobil Avanza miliknya. Ia selalu meminta pelaku untuk membawa kendaraannya ke hotel, namun pelaku mengaku mobilnya sementara digunakan kakak kandungnya. Ia menyebut kakaknya adalah Anggota DPRD Kota Kupang.


“Katanya dia punya kakak nona dewan. Dia bilang kaka nona anggota dewan yang ambil, jadi sementara di rumah mama yang jaga jadi oto aman bersih, kalau bawa ke hotel nanti petugas hotel tidak mau karena parkiran sudah penuh,” ucap Arnol mengutip kata-kata pelaku.

Setelah menginap lebih dari 2 pekan akhirnya Arnol dan rekan-rekannya sadar bahwa mereka telah ditipu. Sejak Jumat (19/2/2021), manajemen Hotel Neo Aston mengatakan mereka belum membayar biaya penginapan sehingga pelayanan akan dihentikan. Hotel Neo meminta agar para sopir membantu mencari tahu keberadaan pelaku yang harus bertanggung jawab telah menjaminkan 1 unit mobil yang ditahan pihak hotel. Mobil tersebut adalah mobil rental dijaminkan pelaku.
“Tolong selidiki itu ibu Ade Mooy dulu karena ini di hotel juga belum dibayar. Sudah 9 juta lebih. Karena belum ada pembayaran, kami sudah tahan mobil, kunci dan STNK,” ungkap Arnol menirukan pernyataan petugas hotel.


Merasa telah menjadi korban, Arnol dan teman-temannya pun langsung melapor ke Kepolisian Daerah (Polda) NTT Sabtu siang. Saat melapor, mereka juga mendapat informasi kedua pelaku juga sudah menjadi sasaran kepolisian, sebab ada laporan yang sama dari warga Malaka dan Kefamenanu dengan modus yang hampir sama.

Untuk diketahui, ke-12 sopir ini tak hanya ditipu tapi juga mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Menurut Arnol total uang yang diberikan kepada pelaku mencapai Rp35.000.000. “Ada juga yang kasih untuk DP mobil itu 14 juta dengan modus sama bahwa dia punya ipar kandung yang kepala di Adira. Lalu ada teman Ca itu ada 6 juta, tambah lagi Bojes itu 2 juta, Yongki 500 ribu, Yudi Seran 3.500.000. Itu total yang yang dia ambil selama kami di hotel,” pungkas Arnol. 

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Berita Terbaru

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel