Pembunuh Pria 63 Tahun Di Malaka Diduga Pura-Pura Gila



DK (dalam lingkaran), pelaku pembunuhan terhadap RTS di Desa Maktihan, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Sabtu (20/3/21).


Diberitakan sebelumnya, pria 63 tahun meninggal dunia karena dianiaya oleh orang gila. Namun, Dilansir dari sergap.id, – Kasus kematian RTS, warga Desa Maktihan, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka pada Sabtu (20/3/21) kemarin, memunculkan sejumlah pertanyaan. Apakah pelaku benar-benar memiliki riwayat sakit jiwa? Atau ada motif terselubung dalam kasus ini? Namun pertanyaan tersebut masih didalami polisi.

Informasi yang dihimpun SERGAP, menyebutkan, pagi sebelum kejadian naas itu, pelaku berinisial DK berjalan jalan kaki menuju rumah korban berinisial RTS.

BACA JUGA: Pengacara Senior Di Kupang Menyuap Dua Orang Untuk Berdusta Di Pengadilan

Dalam perjalanannya, pelaku sempat disapa oleh sejumlah pemuda di Desa Maktihan.

Pelaku kemudian pulang kembali ke rumahnya, dan siang harinya datang lagi ke rumah korban dengan mengendarai sepeda motor hingga terjadi penganiayaan dan membuat korban meninggal dunia.

“Pelaku itu, minggu lalu jatuh dari pohon kelapa dan tangannya patah,” ujar Nahak, warga Maktihan yang mengaku melihat pelaku berjalan kaki ke rumah korban pada Sabtu (20/2/21) pagi.



Sejumlah warga di rumah duka dan netizen tak percaya jika pelaku memiliki riwayat gangguan jiwa.

Pelaku diyakini sebagai orang waras lantaran selama ini diketahui selalu berpakaian rapi dan menggunakan handphone android.

“Orang gila tdk mungkin naik motor. Pura2 jadi gila atau disuruh pura2 jadi gila. Perlu ditangani polisi,” komentar Laak Paskalis dalam postingan berita SERGAP dengan judul “Dianiaya Orang Gila, Pria Umur 63 Tahun Meninggal Dunia” di grup facebook Chanel Berita Malaka.



Kapolres Malaka, AKBP Albert Neno melalui Kapolsek Malaka Barat, Iptu I Wayan Budiasa kepada wartawan, mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus pembunuhan tersebut.

“Penyidik terus mengembangkan penyelidikan agar kasus ini berhasil diungkap menjadi terang-benderang. Penyelidikan intens dilakukan untuk mengungkap motif apa di balik kasus ini,” ucap Budiasa.

Menurutnya, saat mendatangi rumah korban, pelaku berprilaku normal, yakni sebelum masuk rumah korban, pelaku terlebih dahulu mengetuk pintu rumah korban.

Dan, untuk memastikan psikologi pelaku, polisi masih terus mendalami kasus pembunuhan ini.




Dina, salah satu penghuni rumah korban kepada wartawan pada Minggu (21/2/21), menjelaskan, pelaku masuk ke dalam rumah dengan membawa dua buah batu di kedua tangannya.

Karena tidak melihat tuan rumah, pelaku masuk ke dalam kamar korban. Namun korban dan istrinya tidak berada di kamar. Pelaku kemudian menghancurkan sejumlah perabot di kamar tersebut.

Saat itu korban sedang duduk di balik pintu kamar tengah, sehingga pelaku tidak melihat korban. Sementara istri korban sedang berada di ruang makan. Namun ketika mengetahui pelaku sedang mengamuk di kamar, istri korban masuk bersembunyi di kamar yang dekat dengan ruang makan.

BACA JUGA: Ini Alasan 92 Ekor Sapi Asal NTT Ditolak Masuk Bima, Dikirim Kembali Banyak Yang Mati Dalam Perjalanan

Dina mengaku ia sempat berkomunikasi dengan pelaku di jarak kurang lebih enam meter di ruang tengah sebelum pelaku masuk ke kamar tidur korban.

Namun ia melarikan diri bersembunyi di belakang rumah setelah mendengar pelaku sedang memporakporandakan kamar tidur korban.

Setelah sempat dibawa ke RSPP Betun, korban kemudian dimakamkan di dekat rumahnya, Senin (22/2/210 sore. 

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel