Seorang Ayah Di Sumba Gauli Anak Kandung Sampai Melahirkan 3 Orang Anak


Ilustrasi

Ayah Perkosa Anak Kandung Di Sumba

Seorang ayah bernisial TWL di desa Welibo, kecamatan Lamboya, kabupaten Sumba Barat tega mencabuli anak kandungnya sejak tahun 2007 sampai dengan 2020 hingga melahirkan tiga orang anak akibat dari perilaku biadabnya.


Kapolres Sumba Barat AKBP FX Irwan Arianto dalam pers rilis Minggu (7/2/2021) menjelaskan bahwa kasus asusila (percabulan) yang dilakukan pelaku TWL ayah kandung korban berinisial MTM muncul dipermukaan ketika korban MTM mendatangi SPKT Polres Sumba Barat tanggal 28 November 2020 lalu untuk melaporkan bahwa dirinya telah dicabuli dan hendak diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri.


“Setelah mendapat laporan tersebut, petugas SPKT bersama Penyidik Unit PPA langsung mengantar korban tersebut ke Rumah Sakit Lendemoripa untuk dilakukan pemeriksaan Visum Et Refertum dimana dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui bahwa korban mengalami luka lecet/gores di bagian dada,” kata Kapolres.


Ia menjelaskan, tindak pidana percabulan yang dilakukan pelaku TWL terhadap korban MTM terjadi pada tanggal 28 November 2020 di rumah pelaku jalan Pengerasan Weepawu, desa Welibo, kecamatan Lamboya, kabupaten Sumba Barat. Dilakukan dengan cara menarik paksa baju korban hingga robek dan meramas payudara korban, dan sebelumnya pelaku juga pernah menyetubuhi korban yang merupakan anak kandungnya sendiri secara berulang kali sejak tahun 2007 hingga melahirkan tiga orang anak akibat perbuatan pelaku.


Kronologi Kasus Ayah Perkosa Anak Kandung Di Sumba:


Pada tanggal 28 November 2020 sekitar pukul 09.00 Wita, korban MTM dicabuli dan hendak diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri TWL yang bertempat di jalan Pengerasan Weepawu, desa Welibo, kecamatan Lamboya, kabupaten Sumba Barat yang dilakukan dengan cara memaksa korban untuk berhubungan badan dengan menarik baju dan meremas payudara korban hingga baju yang korban kenakan robek dan dada korban tercakar oleh kuku pelaku, namun pemerkosaan tersebut tidak jadi terlaksana karena korban melakukan perlawanan dan berhasil melarikan diri ke rumah tetangga.


Korban berhasil melarikan diri ke rumah tetangga Yunita Dada Gole, korban langsung meminjam hand phone tetangga untuk menelepon suaminya berinisial AJR yang sedang berada di kampung Paronawo dan memberitahukan kepada suaminya bahwa dirinya dicabuli dan hendak diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri, dan tidak lama berselang pelaku kembali memanggil korban yang berada di rumah tetangga tersebut, dan korban langsung kembali ke rumahnya karena takut dengan pelaku, namun korban saat itu tidak masuk ke dalam rumah karena takut kejadian itu terulang lagi, melainkan duduk di depan rumah menunggu jemputan dari suaminya.


Mendapat informasi dari korban, suami korban AJR langsung berangkat ke rumah Kepala Desa Welibo Lukas L. Bole untuk melaporkan peristiwa tersebut dan meminta bantuan Kepala Desa untuk bisa menjemput korban di rumah pelaku, karena AJR tidak berani untuk menjemput istrinya sendiri di rumah pelaku dimana dirinya khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena sebelumnya telah diusir oleh pelaku dari rumah dan dirinya juga tahu persis bagaimana tabiat dari pelaku yang merupakan ayah mertuanya.


Setelah mendapat laporan dari suami korban, Kepala Desa Welibo langsung memanggil dan menyuruh Kedu Nyanyi untuk pergi ke rumah pelaku untuk menjemput korban. Saat itu Kepala Desa berpesan kepada Kedu Nyanyi untuk berpura-pura alasan dirinya menjemput korban atas perintah Kepala Desa untuk menandatangani uang bantuan Covid-19 yang tidak boleh diwakili dengan maksud agar pelaku tidak menghalangi proses penjemputan korban tersebut.


Mendapat arahan dari Kepala Desa Welibo, Kedu Nyanyi langsung berangkat ke rumah pelaku untuk menjemput korban, setelah sampai ke rumah pelaku, Kedu Nyanyi melihat korban sudah menunggu di depan rumah, sehingga dirinya menyampaikan kepada pelaku bahwa kepala desa menyuruh dirinya untuk menjemput korban agar bisa menandatangani dan mengambil uang bantuan Covid-19 karena tidak bisa diwakili, saat itu pelaku mengijinkan korban untuk pergi bersama Kedu Nyanyi, setelah itu Kedu Nyanyi membonceng korban dan membawanya ke rumah kepala desa Welibo.


Setiba di rumah kepala desa Welibo, korban langsung menceritakan kepada kepala Desa dan juga suaminya bahwa korban telah dicabuli dan hampir diperkosa oleh pelaku yang merupakan ayah kandungnya sendiri sesuai dengan kronologi di atas, sehingga kepala desa Welibo menyuruh suaminya dan korban untuk melaporkan kejadian tersebut ke Pihak Kepolisian.


Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap para saksi tersebut di atas, diperoleh fakta bahwa pelaku telah berulang kali menyetubuhi korban yang merupakan anak kandungnya sendiri dimana perbuatan tersebut telah dilakukan oleh pelaku sejak korban berusia 20 tahun pertama kali pada tahun 2007 dan terakhir kali pada tahun 2014.

Korban telah melahirkan tiga orang anak akibat dari perbuatan pelaku tersebut, dimana ketiga anak tersebut dirawat oleh korban dan istri pelaku yang merupakan ibu kandung korban dan ketiganya juga tinggal di rumah pelaku. Anak pertama lahir pada bulan Januari 2008, anak kedua lahir pada bulan Maret 2010, dan anak ketiga lahir pada bulan Mei 2012, dimana dua orang anak yang berjenis kelamin laki-laki mengalami cacat mental (difabel).


Sejak tahun 2014, pelaku masih sering berupaya untuk kembali menyetubuhi korban, namun korban terus berusaha untuk menghindar, sehingga perbuatan tersebut urung terjadi.

Perilaku keseharian dari pelaku di tengah masyarakat dianggap cukup menyimpang, karena setelah menghamili korban hingga memiliki tiga orang anak yang sudah menjadi rahasia umum warga setempat, pelaku terus berupaya untuk melakukan perbuatan serupa terhadap korban, dimana kepala desa Welibo sudah berulang kali memediasi persoalan di antara mereka atas pengaduan dari suami korban yang melaporkan bahwa pelaku tersebut terus mencari celah untuk kembali menyetubuhi korban, karena sejak tahun 2018 setelah korban dan suaminya menikah, kepala desa Welibo menyarankan dan menyuruh korban untuk tinggal bersama suaminya dengan maksud untuk menghindari perbuatan pelaku tidak terulang, namun pelaku terus berupaya memanggil kembali korban untuk tinggal di rumahnya dengan berbagai modus, mulai dari pelaku mengalami mimpi dari nenek moyang, hingga mengaitkan sakit yang di derita korban dengan persoalan adat yang belum terselesaikan. Lalu Pada bulan Oktober 2020 korban sempat tinggal kembali dengan pelaku untuk berobat, namun pelaku mengusir suaminya untuk tidak tinggal bersama korban di rumah pelaku demi melancarkan niat buruknya.



Setelah dilaporkan, pelaku sempat melarikan diri selama satu bulan, dan pada tanggal 28 Desember 2020 pelaku berhasil ditangkap. Dalam pemeriksaannya, pelaku menyangkal bahwa dirinya tidak melakukan percabulan terhadap korban pada tanggal 28 November 2020, namun pelaku tidak pungkiri bahwa sebelumnya pelaku pernah menyetubuhi korban sejak tahun 2007 hingga korban melahirkan tiga orang anak, dimana perbuatan tersebut dilakukan di kebun milik pelaku yang beralamat di Kampung Wenita, desa Welibo, kecamatan Lamboya, kabupaten Sumba Barat, peristiwa tersebut terus berulang di lokasi kejadian yang sama dalam rentang waktu sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2014, dan alasan dirinya melakukan perbuatan tersebut karena khilaf dan tidak bisa menahan hawa nafsu.


Saat korban melahirkan tiga orang anak tersebut, ibu korban juga mengetahui bahwa yang telah menghamilinya adalah pelaku yang merupakan ayah kandung korban sendiri, namun ibu korban tidak bisa melakukan apa-apa karena takut dengan pelaku.

Untuk diketahui, saat ini pelaku telah menjalani masa penahanan di ruang tahanan Polres Sumba Barat sejak tanggal 29 Desember 2020.

“Atas tindakan asusila tersebut, tersangka dijerat dengan pasal 289 KUHP dengan Pidana Penjara paling lama 9 tahun,” terang Kapolres. (RadarNtt.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel