Pedagang Pasar Kasih Naikoten Hanya Takut Polisi Militer, Kalau Polisi Saja Tidak Peduli


Diberitakan oleh Victorynews.id, Pedagang Pasar Kasih Naikoten I Kupang protes dengan keputusan Wali Kota Kupang yang membatasi jam operasional pasar.

Pedagang menilai keputusan pemerintah yang membatasi operasional pasar ini tidak dikaji dengan baik karena akan sangat merugikan pedagang terutama yang berprofesi sebagai pedagang ikan maupun sayuran.
Untuk diketahui, Pemerintah Kota Kupang mulai membatasi jam operasional pasar tradisional yaitu pukul 05.00 hingga 10.00 Wita dan dilanjutkan pada pukul 16.00-19.00 Wita.

Keputusan ini tertuang dalam surat edaran Wali Kota Kupang tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Aturan ini diteken Jefri Riwu Kore 13 Januari 2021 dan diumumkan di Aula Garuda Balai Kota Kupang Kamis ini (14/1).

Cris dan kelompok pedagang ikan lainnya memprotes ini begitu dijumpai VN di blok penjualan ikan Pasar Kasih Kamis siang (14/1). Mereka mengaku belum mendapat pengumuman dari PD Pasar terkait pembatasan ini, dan juga tidak adanya pemerintah yang datang melakukan kajian dengan pedagang sebelum menerapkan aturan itu.

Mereka menilai Pemerintah Kota Kupang malah melakukan pembatasan pada jam-jam dimana aktivitas pembeli sebenarnya berlangsung. Menurut pedagang, pembatasan paling masuk akal jam 12.00 Wita sehingga pedagang juga mendapatkan pemasukan karena jualan mereka tidak bertahan lama.

“Itu jelas pengaruh besar karena biasanya saja jam 11 sampai jam 12 itu yang orang datang, apalagi jam 5 pagi mana ada orang yang datang belanja. Jam 11 atau batas jam 12 siang ya masuk akal,” tukas mereka.

Mereka juga sangsi apakah pada masa-masa awal penerapan pembatasan ini diketahui masyarakat atau tidak karena hal tersebut dapat berpengaruh pada bisnis mereka. Beberapa bahkan tak ingin tutup bila tidak ada penjelasan ke masyarakat luas tentang pemberlakuan pembatasan operasional ini.

“Kalau PM yang datang satu kompi baru ketong tutup kalau hanya polisi saja ya jangan marah maaf tetap ketong duduk,” ujar salah seorang di antara mereka.


Cris ikut menambahkan pentingnya pemerintah turun dan melihat dengan sejelas-jelasnya kondisi ekonomi masyarakat sebelum menerapkan aturan, tidak sekedar memberikan bantuan kepada masyarakat.

“Ini menyangkut ketong pung hidup kecuali Presiden langsung turun lihat keadaan ini kalau hanya sumbangan Wali Kota buat apa, mau bertahan berapa lama,” sambung Cris.
Paman Mus yang mempunyai kios sembako pun lebih mengkhawatirkan pedagang lainnya yang menjual ikan, daging dan sayuran.

“Karena barang yang kami jual tidak cepat rusak tapi mereka punya jualan itu tidak tahan lama, nanti kermana coba?” jawabnya kepada VN.
Ia juga tidak setuju apabila pasar tutup pukul jam 10 pagi. Aturan ini lebih masuk akal apabila pasar berhenti beroperasi sementara pada tengah hari.


“Pembeli sampai jam 11, kalau tutup jam 10 pasti itu jam belanja orang. Biasanya pembeli jam 10 datang. Kalau sudah begitu mau bagaimana kita tidak bisa lawan tapi itu jam belanja orang,” kata dia.

Sementara pada masa pandemi penjual sudah sepi apalagi sampai pembatasan ini dilakukan pada waktu operasional yang menurutnya tidak dikaji dengan baik sebelumnya.


“Kalau jam 12 sampai malam sudah sepi. Mulai sekarang malam tidak ramai. Tidak ada lagi yang belanja paling langganan warung. Jam 6 sore saya sudah tutup karena sepi,” ungkapnya.
Berbeda dengan pasar tradisional, pembatasan jam operasional untuk pusat perbelanjaan, mall dan toko- toko moderen sampai dengan pukul 19.00 Wita. Sementara pasar tradisional dilakukan pembatasan pada pukul 05.00 10.00 Wita dilanjutkan pada pukul 16.00-19.00 Wita.
Sumber: Victorynews.id

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel Sedang #Viral