Vidio Detik-detik Pengambilan Paksa Jenazah Pasien Corona Di RSUD Ba'a



Dilansir dari  florespedia.com, Satu keluarga yang berasal dari Desa Modosinal, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, NTT nekat membawa pulang jenasah yang diduga terpapar COVID-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ba'a, Rote Ndao, Minggu Ironisnya jenazah digotong oleh keluarga tanpa menggunakan alat pelindung diri.

Belakangan diketahui bahwa aksi nekat tersebut dipicu oleh sikap managemen RSUD yang tidak menerapkan pelayanan pasien COVID-19 sejak almahrum dirawat.


“Tadi malam saja, almarhum masih tidur bersama cucunya di atas tempat tidur di ruang IGD," ujar Yohana Hello, kerabat korban kepada wartawan, Minggu (25/2/2021).

Dia menuturkan, sejak almarhum masuk rumah sakit pada Jumat (22/1/2021), pihak rumah sakit tidak pernah menjelaskan bahwa almarhum terkonfirmasi positif COVID-19.

Namun, saat almahrum meningggal dunia, pihak RSUD tiba-tiba menjelaskan ke keluarga bahwa, almarhum terpapar COVID-19.


“Sejak awal tidak disampaikan, bahkan sama sekali tidak ada penanganan sesuai protokoler kesehatan. Ini terkesan ada pembiaran," ujarnya. 
“Kami tanya ke dokter dan suster, tidak ada yang memberikan penjelasan. Karena itulah, kami keluarga membawa paksa pulang almarhum untuk dimakamkan,” sambungnya.


Berikut Vidio  Pengambilan Paksa Jenazah Pasien Corona Di RSUD Ba'a


BACA JUGA: 

Ini 11 Perusahaan Penyalur Bansos Yang Diduga Berafiliasi Dengan Politikus PDIP Dapil NTT, Herman Hery





Wakil Ketua DPRD Rote Ndao, Paulus Henuk yang ikut turun ke RSUD Ba’a meminta bupati segera mengganti Direktur RSUD Ba’a, karena dinilai gagal.


“Almarhum diambil rapid atau swab antigen pada saat masuk rumah sakit hasilnya positif. Sesuai Protokol penanganan COVID-19, mestinya pasien diisolasi dan tidak boleh lagi dibiarkan bersentuhan dengan keluarga,” jelas Paulus.

Ia menduga pihak RSUD Ba’a secara sengaja tidak menerapkan protokol penanganan COVID-19, dimana berpotensi sangat mengancam kesehatan dan keselamatan keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Menurut Paulus, dirinya sudah menghubungi Sekda untuk segera memerintahkan tim Gugus Tugas Covid-19 tingkat kabupaten bertindak cepat melakukan tes kepada pihak keluarga yang melakukan kontak erat dengan almarhum.
“Saya melihat tidak adanya keseriusan dalam penanganam COVID-19 di kabupaten Rote Ndao ini. Saya sungguh heran dengan pola dan menejemen penanganan wabah ini,” tegas Paulus.



Paulus menambahkan, sejak merebaknya COVID-19 di Rote Ndao, Pemda, meskipun tidak melibatkan DPRD menganggarkan puluhan miliar untuk penanganan COVID-19.

“Jujur pola pikir dan cara penanganan Covid-19 di Rote Ndao ini sangat membahayakan keselamatan rakyat. Padahal keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi,” tandasnya.

“Kesehatan masyarakat perlu diberi perhatian serius. Saya sangat mengapresiasi tenaga medis di Rote Ndao yang sudah berjuang keras untuk membantu masyarakat, tapi kalau pemimpinnya kurang memiliki Sense of Criss khususnya terkait kesehatan masyarakat, maka nyawa rakyat bisa menjadi taruhan,” pungkas Paulus.


Sumber:  florespedia.com,

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel