Gadis Cantik Asal NTT Ini Bawa Kabur Uang Arisan 1 Miliar Lebih, Begini Kronologinya

Yasinta Samira Pahu

Dilansir dari Kastra.co – Sebanyak 97 orang mengaku korban arisan dari Yasinta Samira Pahu asal kelurahan Lawir, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai memohon keadilan dan penegakan hukum.

Dalam rilis pers yang diterima Kastra.co, bahwa arisan yang diselenggarakan oleh Yasinta Samira Pahu setahun terakhir terhitung mulai dengan 2019 dan sampai dengan tanggal 25 September 2020 berjalan dengan baik, dimana hak semua anggota terpenuhi dan dibayarkan sesuai dengan jadwal.

“Mulai dengan tanggal 26 September 2020 Yasinta Samira Pahu sebagai pengelola dan admin arisan melakukan penghentian arisan secara sepihak dan tidak mengembalikan uang yang menjadi hak dari anggota arisan,” tulis dalam keterangan tersebut.


Sejak Yasinta Samira Pahu melakukan penutupan terhadap arisan tersebut secara sepihak, semua uang anggota yang sudah masuk ke rekeningnya tidak dikembalikan lagi kepada anggota arisan.

“Perkiraan total uang anggota yang disimpan dan tidak dikembalikan oleh Yasinta Samira Pahu mencapai lebih dari 1 miliar,” tambah mereka. Sejak Yasinta Samira Pahu tidak mengembalikan uang yang menjadi hak anggota, anggota arisan mengalami kerugian, baik uang maupun psikis, serta materi maupun moril.

Mereka juga mengaku, sejak Yasinta Samira Pahu tidak mengembalikan uang anggota, para anggota diancam untuk tidak boleh melaporkan atau berbicara di media sosial dan diharuskan untuk berkomunikasi dengan pengacara Yasinta Samira Pahu yang bernama Fransiskus Ramli.

Sejak komunikasi dengan pengacara, pengacara mengatur klien pengacara yang bernama Yasinta Samira Pahu untuk mengabaikan proses mediasi yang dilakukan oleh korban dan keluarganya.

“Bahwa sejak mediasi yang diselenggarakan oleh korban dengan saudara Yasinta Samira Pahu, korban tidak memperoleh itikat baik dari saudara Yasinta Samira Pahu dan mengatakan untuk melaporkan ke Polisi dan ke pengadilan,” tulis mereka.

Beberapa anggota korban telah mengadukan Yasinta Samira Pahu ke Polres Manggarai pada tanggal 10 Oktober 2020 dan sampai dengan saat ini belum ada kejelasan penindakan terhadap saudara Yasinta Samira Pahu.

Saat ini, kata mereka, telah berlangsung proses mediasi di Pengadilan Negeri Ruteng, namun Yasinta Samira Pahu tidak memiliki itikat baik untuk menghadiri mediasi dan bahkan terkesan menganganggap remeh proses mediasi di pengadilan.

“Kami semua yang menjadi korban Arisan Yasinta Samira Pahu membutuhkan keadilan dan penegakan hukum. Untuk mencapai keadilan dan penegakan hukum, kami meminta bantuan para pihak untuk membantu dan menolong kami, mengembalikan semua uang dan kerugian yang telah kami derita,” beber mereka.


Kemudian, informasi dari berbagai pihak bahwa yang bersangkutan memiliki rekening di sejumlah bank dengan nominal uang yang banyak dan bervariasi, serta juga dari akun facebook bahwa yang bersangkutan memiliki sejumlah aset berupa mobil, rumah dan tanah yang diindikasikan merupakan hasil uang arisan.

Untuk itu, mereka memohon kepada yang mulia dan yang terhormat: Mabes POLRI di Jakarta untuk menyelidiki kasus ini dan memohon agar menindak tegas Polres Manggarai yang mengabaikan laporan kami sebagai korban. Kapolres Manggarai untuk segera merespon laporan kami dan melakukan tindakan terhadap saudara Yasinta Samira Pahu demi keadilan dan martabat hukum di mata masyarakat. PPATK di Jakarta untuk melakukan pencegahan dan penindakan pencucian uang yang terjadi dalam kasus ini.

OJK di Jakarta untuk melakukan pengawasan terhadap perbankan yang menyimpan uang dari saudara Yasinta Samira Pahu. DPRD Kabupaten Manggarai di Ruteng untuk memanggil Kapolres Manggarai dan diminta pendapatnya terkait dengan tidak berjalannya laporan korban terhadap Yasinta Samira Pahu. Bank BRI Cabang Ruteng untuk membekukan seluruh rekening dan segala bentuk transaksi keuangan di BRI yang melibatkan Yasinta Samira Pahu.

Bank BNI Cabang Ruteng untuk membekukan seluruh rekening dan segala bentuk transaksi keuangan di BNI yang melibatkan Yasinta Samira Pahu. Bank BCA Cabang Ruteng untuk membekukan seluruh rekening dan segala bentuk transaksi keuangan di BCA yang melibatkan Yasinta Samira Pahu.


Bank Mandiri di Ruteng untuk membekukan seluruh rekening dan segala bentuk transaksi keuangan di Bank Mandiri yang melibatkan Yasinta Samira Pahu. Bank BPD NTT Cabang Ruteng untuk meminta pertanggungjawaban suami Yasinta Samira Pahu yang bekerja di Bank BPD NTT dan menghentikan seluruh transaksi keuangan atas nama keluarga Yasinta Samira Pahu di BPD NTT. Pengadilan Negeri Ruteng di Ruteng untuk menegakkan keadilan dan hukum terhadap Yasinta Samira Pahu dan mengadili perkara ini sesuai dengan tuntutan korban. PERADI di Jakarta untuk memanggil dan meminta keterangan saudara Fransiskus Ramli (dkk) selaku kuasa hukum dalam kasus ini yang terkesan tidak mengarahkan Yasinta Samira Pahu untuk mematuhi hukum dan membantu menegakkan keadilan dan hukum sesuai dengan kode etik pengacara.


Berikut nama lengkap, alamat dan Identitas dari korban:
Karolina Jelulut, S.E
Reguler Rp.167.050.000,-
Lelang RP. 347.500.000,-
Total: RP.514.050.000,-
(Tanpa bunga = UANG Rill yang ditransfer ke rekening Yasinta Samira Pahu.
Krisnawati Novita Suri
Uang modal = 83.710.000
Bunga UM = 22.343.571
Total Hak = 106.053.571
Siti Rafika Rp. 20.490.000
Thresia Tutut Hendrawati, S.IP Rp.14.580,000
Jubilina Djami Billi Rp.40.160.000,-
Maria Ivona Agur
Reguler: Rp.30.360.000,-
Lelang: Rp.51.000.000
Total: 81.450.000
Dalmasiana Wulan
Total Rp. 39.310.000,-

Diketahui, ada sekitar 97 orang yang menjadi anggota dalam Arisan Yasinta Samira Pahu yang membutuhkan keadilan dan penegakan hukum.

Sumber: Kastra.co

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel Sedang #Viral