UAS: Muslim Pilih Pimpin Non Muslim, Itu Kafir

Isu SARA di pilkada Medan
Pegiatliterasi.com, Menjelang 9 Desember, Pilkada Medan terus memanas. Para Calon terus galang dukungan dari para tokoh. Tidak ketinggalan, Ustadz kondang, Ustadz Abdul Somad (UAS) juga ikut bersuara untuk menegaskan dukungannya. UAS mengatakan bahwa, pemilih yang memilih pemimpin non muslim, mereka tergolong kafir. Jadi, jika ingin amal ibadahnya kembali diterima Allah SWT, dia harus melakukan tobat nasuha.


Hal itu sebagaimana dikutip dari Jurnas.com. Kepada jurnalis, melalui pesan Whatsapp, Jumat (04/12/2020), ketika ditanyakan Jurnas.com Biro Sumatera Utara, bagaimana tanggapan dan pendapatnya terkait adanya seorang tokoh agama selaku Ketua Komisi Fatwa MUI di Simalungun yang juga ketua partai politik di Simalungun, mengusung, mendukung dan mengkampanyekan calon kepala daerah yang non muslim untuk dipilih kepada masyarakat dan jamaah muslim pada Pilkada Simalungun.


Kepada wartawan UAS memberikan rujukan 4 video ceramahnya yang telah diunggah di youtube sebagai bahan kutipan sikap dan pendapatnya terkait memilih pemimpin dalam Islam. UAS menyatakan, dalam Islam nash tentang memilih pemimpin sangat jelas, tegas dan tidak ada tawar-menawar. Bahkan, dalam salah satu rujukan yang UAS berikan, jikapun disatu daerah, umat muslim dihadapkan pada dua kotak pendapat. Dimana dinyatakan satu calon muslim tetapi akhlaknya sangat bejat, suka korupsi, selalu berzina dan lainnya. Sementara satu calon lainnya non muslim tapi disebutkan orangnya baik, jujur, terpercaya dan pekerja keras, UAS menyatakan umat muslim harus keluar dari dua kotak pendapat itu.


Menurut UAS, pemimpin muslim yang koruptor, bejat maka akan merusak Islam dan keimanannya. Sementara pemimpin non muslim dalam nash Alquran dan hadist tegas dinyatakan ia pasti akan tolong menolong diantara sesamanya.

Jadi, kata UAS, memilih calon pemimpin non muslim sebaik apapun ia disebutkan tetap tidak dibenarkan dalam Islam. Sebab bisa saja baiknya, jujurnya itu hanya pencitraan. Setelah ia terpilih tetap akan tolong menolong diantara mereka saja. Sementara seorang muslim bila ia menjalankan ajaran agamanya dengan benar, maka ia pasti baik, jujur dan amanah.


"Maka nyatakan kami akan memilih pemimpin muslim yang baik, jujur, amanah dan bisa dipercaya. Pilih pemimpin muslim sambil berdoa agar ia amanah dan bisa dipercaya," kata UAS.

Dibagian lain rujukan pernyataannya yang diberikan, UAS lebih tegas menyatakan bahwa orang yang memilih pemimpin kafir maka ia kafir. Jenazahnya jika meninggal tidak harus dishalatkan, karena keimanannya telah gugur. Jalan satu-satunya ia harus tobat dengan tobat nasuha.


Dan jika ada ustadz, mengajak umat muslim untuk memilih pemimpin yang non muslim, maka UAS menyatakan dia `Ustadz Hantu`. Karena ustadz yang demikian tak lagi dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Dan ustadz yang demikian, ajakannya tidak perlu untuk dikuti karena telah mengajak pada kesesatan.

Selain itu, UAS juga merujuk pada kitab `minfiqhit daulah` karangan Syekh Yusuf Qardhowi, yang menyebutkan saat seorang berada dalam bilik suara untuk memilih calon pemimpin, maka ia sedang bersaksi kepada Allah bahwa orang yang dipilihnya memang layak untuk memimpin. Sehingga saat memilih harus berpikir matang-matang karena ia akan menggantungkan hidupnya pada orang yang ia pilih selama lima tahun.

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel