Kisruh, BANDARA El Tari Milik Pemkot Kupang, Tapi "BUNDARAN El Tari" Masih Milik Pemkab Kupang


Dikutip dari Rakyatntt.com, Selama ini, Kawasan Bandara El Tari masih menyisihkan masalah, karena kawasan itu sebagian lahan ada di wilayah Kota Kupang, dan sebagian lagi di wilayah Kabupaten kupang. Namun, Setelah adakan pertemuan antara para petinggi Provinsi NTT, Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, maka kawasan Bandar Udara (Bandara) El Tari, resmi masuk wilayah Kota Kupang. Hal itu setelah dilakukan pertemuan antara Pemerintah Provinsi NTT dengan Pemerintah Kabupaten Kupang dan Pemerintah Kota Kupang terkait penyelesaian perbatasan kedua wilayah. 
Usai rapat tersebut, Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore mengatakan bahwa dalam rapat itu memutuskan lokasi Bandara El Tari Kupang bergabung ke wilayah administratif Kota Kupang. “Intinya bandara itu masuk kita. Untuk Nasipanaf itu ada dua. Nanti dari pemetaan KPU kalau selama ini masyarakat itu masuk data pemilih kabupaten akan tetap masuk kabupaten, kalau kota yah tetap kota,” jelasnya.

"Patung El Tari" Masih Milik Pemkab Kupang,

Meskipun Masalah Bandara El Tari sudah selesai, tetapi "Bundaran Patung El Tari" atau dikenal dengan "Bundaran PU" yang kini santer disebut dengan "Taman Air Mancur Bundaran Tirosa" yang baru saja diresmikan wakil Gubernur NTT (Wagub NTT), Josef Nae Soi pada tanggal 20 Desember 2020 lalu, Masih menyisahkan masalah, Sebab, menurut bupati Kupang, Bundaran Tirosa masih Milik Pemkab Kupang. Sebagaimana diberitakan oleh Kriminal.co, Bupati Kupang mengatakan bahwa Air Mancur Terindah sedaratan NTT itu masih milik Pemkab Kupang. Bupati Kupang, Korinus Masneno yang dihubungi wartawan, Senin (28/12/2020) menegaskan bahwa air mancur Bundaran Tirosa merupakan aset Pemerintah Kabupaten Kupang bukan milik Pemerintah Kota Kupang.

“Air Mancur Bundaran Tirosa masih tercatat sebagai aset milik Pemerintah Kabupaten Kupang bukan milik Pemerintah Kota Kupang,” tegas Bupati Kupang.

BACA JUGA: Pengacara Jonas Salean: Tanah Negara Bisa Dibagi-bagi Kepada Masyarakat

Masneno menegaskan bahwa air mancur Bundaran Tirosa masih tercatat jelas sebagai aset Pemerintah Kabupaten Kupang. Namun, pengelolaannya oleh Pemkot Kupang.

Diakuinya bahwa memang benar bahwa air mancur bundaran Tirosa terletak diwilayah Pemerintah Kota Kupang, sehingga dikelolah oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang.

BACA JUGA: Ini 39 Nama Yang Mendapat Jatah Tanah Milik Pemkot Kupang Dari Jonas Salean dan Tomas More

 Tiga Tokoh Penting Yang Jadi "Patung Tirosa"

Jika Anda tiba dengan penerbangan, Anda akan masuk Kota Kupang dari arah Timur. Keluar dari bandara El Tari, Tugu Adipura adalah ornamen kota yang pertama kali Anda jumpai. Berkendaraan 1,3 km, Anda tiba di Tugu Merpati. Itu adalah bundaran perpotongan antara Jalan Adi Sucipto dengan ujung Jalan Piet Tallo dan pangkal Jalan W. Z. Yohanes. Tak perlu tanyakan supir taksi nama kedua tugu ini, apalagi maknanya. Sangat mungkin mereka tak tahu.Yang mereka tahu adalah Bundaran Undana, mengacu pada kampus negeri beberapa ratus meter dari bundaran di Tugu Merpati.

Berkendaraan 3 km menyusuri Jalan Piet Tallo, Anda tiba di bundaran dengan patung tiga sosok manusia di tengahnya. Itu Patung Tirosa, singkatan dari Timor-Rote-Sabu. Patung ini adalah monumen pengingat persatuan tiga wilayah yang membentuk Kabupaten Kupang tempo dahulu (Kupang di Timor, Pulau Rote, dan Pulau Sabu). 


Sosok-sosok beton pada monumen itu adalah tokoh dari tiga wilayah tersebut: Prof. Dr. Herman Johannes (pahlawan nasional, mewakili Rote),  El Tari (gubernur NTT pertama, mewakili Sabu), dan Hendrik Arnold Koroh (raja Amarasi, wilayah di Selatan Kabupaten Kupang, tokoh penentang Belanda).

Monumen Tirosa adalah salah satu monumen terpenting di Kota Kupang saat ini sebab dianggap gerbang penyambut tamu yang masuk dari wilayah Timur (Bandara El Tari). Itu sebabnya Wali Kota Jefirstson R. Riwu Kore menggelontorkan anggaran Rp 7,8 miliar untuk merenovasi monumen dan mengembangkan taman di sekitarnya.

Tetapi jika hendak mengunjungi monumen tersebut, jangan Anda katakan kepada supir taksi hendak ke Monumen Tirosa atau Taman Tirosa. Mereka mungkin sekali tak mengetahuinya. Yang mereka tahu adalah Bundaran PU.


Disebut Bundaran PU sebab dahulu di sebelah selatan monumen tirosa terdapat kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kupang. Mungkin istilah itu diperkenalkan oleh para kondektur angkutan umum (konjak bemo) yang tidak terpelajar.
Setelah ibu kota Kabupaten Kupang pindah ke Oelamasi sekitar 40 km dari Kota Kupang--dan kantor PU kini lenyap berganti Hipermart, nama bundaran itu masih juga Bundaran PU. Bahkan jalan yang membentang sepanjang 2 km dari Taman Tirosa ke arah Selatan hingga bertemu Jalan W. J. Lalamentik disebut Jalan Bundaran PU. Entah kapan Pemkot mau berhenti latah mengikuti penyebutan kondektur angkot dan menggantinya dengan Jalan Tirosa atau yang lainnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel