Sinode GMIT: Kunjungan Selamat Natal Antar Keluarga Sebaiknya Ditunda Sampai Pandemi Berakhir

Surat Edaran Ketua Majelis Sinode  GMIT Tentang Pelayanan dan Tata Ibadah Perayaan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 Di Masa Pandemi Covid-19
Ketua Majelis Sinode GMIT, Dr. Merry Kolimon

Surat Edaran Ketua Majelis Sinode  GMIT Tentang Pelayanan dan Tata Ibadah Perayaan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 Di Masa Pandemi Covid-19

Dalam Rangka Menyambut Hari Raya Natal tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 dalam wilayah pelayanan Gereja Masehi Injili Di Timor (GMIT) dan menindaklanjuti Surat Edaran Menteri Agama RI no. SE 23 tahun 2020, tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Ibadah dan Perayaan Natal di Masa Pandemi Covid-19, Majelis Sinode GMIT mengeluarkan Edaran tanggal 4 Desember dengan ditandatangani oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Merry Kolimon. Edaran itu berkaitan dengan aturan tata ibadah dan pelayanan Natal Tahun 2020 dan Tahun Baru 2021.
Dikutip dari victorynews.id, Surat Edaran itu dibagi dalam dua skala yakni kepada jemaat yang berada di zona merah terdiri atas 6 poin, dan juga kuning/hijau yang terdiri dari 14 poin. Khusus Zona Kuning/hijau, pada Poin Sepuluh, termuat himbauan agar Kunjungan Selamat Natal Antar Keluarga Ditunda Sampai Pandemi Berakhir:

"10). Kunjungan antar keluarga untuk saling menyampaikan ucapan selamat ditunda sampai berakhirnya masa pandemi. Khusus ucapan selamat natal masing-masing keluarga atau individu dapat membuat video pendek atau menyampaikan ucapan selamat melalui media digital yang lain. Hal itu dapat dimulai dari keluarga para pendeta yang membuat ucapan natal dan tahun baru lewat kartu digital foto atau video yang disebarkan melalui WA dan berbagai platform media sosial yang lain."
Seluruh umat yang ada dalam wilayah pelayanan GMIT di harapakan dapat mengikuti edaran ini. 

Bunyi Surat Edaran GMIT tersebut Selengkapnya sebagai berikut:

A. Pelayanan dalam jemaat-jemaat di wilayah/zona hijau dan kuning:

1). Ibadah dan perayaan Natal serta tahun baru dilaksanakan secara sederhana dan perayaan natal yang selama ini dilakukan di gedung-gedung kebaktian dan kelompok teritorial/kategorial/fungsional diganti dengan pelayanan diakonia kepada saudara-saudara yang membutuhkan dan memberi perhatian kepada persekutuan di tengah-tengah keluarga.
2). Perayaan natal dan tahun baru di gugus/rayon/sel/oikos, maupun di kelompok kategorial dan fungsional selama masa pandemi ditiadakan. Semua ibadah natal dan tahun baru secara berjemaat dilakukan di gedung gereja.
3). Selain diselenggarakan bersama di gedung gereja, ibadah natal dan tahun baru juga disiarkan secara daring/live streaming.
4).Liturgi tetap mengacu pada pembaruan SOP yang dikeluarkan oleh Majelis Sinode, yaitu semua lagu hanya SATU (1) ayat, durasi khotbah maksimal 10 menit, tidak ada paduan suara dan vokal group, maupun pementasan drama dan sejenisnya.
Pembakaran lilin dilakukan oleh petugas dengan protokol yang ketat (jumlah orang terbatas, memakai masker, dan menjaga jarak).
5). Bagi anggota jemaat dengan kondisi berikut: wanita hamil, anak-anak di bawah 12 tahun, dan orang lanjut usia, kondisi tubuh yang kurang sehat, atau memiliki penyakit bawaan yang berisiko terhadap paparan virus Covid-19, diminta untuk tetap beribadah di rumah.
6). Tidak ada acara makan dan minum selesai ibadah natal, termasuk salam jabat/ peluk- cium untuk mengurangi kontak fisik.
7). Jumlah jemaat yang dapat mengikuti kegiatan ibadah dan perayaan natal serta tahun baru secara berjemaat di gedung gereja tidak melebihi 50% dari kapasitas rumah ibadah.
8). Untuk itu majelis jemaat menambah frekuensi ibadah, terutama pada tanggal 24, 25, dan 31 Desember, serta 1 Januari yang berpotensi dihadiri ratusan sampai ribuan orang.
9). Seluruh ibadah perayaan natal, syukur natal, dan tahun baru dilaksanakan pada pagi hingga siang/sore hari. Perayaan pada ma omlam hari ditiadakan/dipindahkan ke pagi hingga sore agar majelis jemaat/panitia dapat melakukan pengawasan dan penegakan protokol kesehatan.
10). Kunjungan antar keluarga untuk saling menyampaikan ucapan selamat ditunda sampai berakhirnya masa pandemi. Khusus ucapan selamat natal masing-masing keluarga atau individu dapat membuat video pendek atau menyampaikan ucapan selamat melalui media digital yang lain. Hal itu dapat dimulai dari keluarga para pendeta yang membuat ucapan natal dan tahun baru lewat kartu digital foto atau video yang disebarkan melalui WA dan berbagai platform media sosial yang lain.
11). Selama masa pandemi, termasuk pada saat perayaan natal dan tahun baru, para pendeta tidak boleh meninggalkan tempat pelayanan di jemaat.
12). Majelis jemaat/majelis klasis dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Laboratorium Biomolekuler Prov. NTT untuk melakukan tes swab secara massal (q-pooled PCR test) kepada semua majelis jemaat/anggota jemaat. Sebelum swab test perlu dilakukan sosialisasi agar jemaat dapat memahami mengapa swab test perlu dilakukan.
13). Kewajiban majelis jemaat/panitia perayaan Natal dan tahun baru/tim tanggap Covid tiap jemaat:
a. Tim Covid-19 di lingkup jemaat menjadi ujung tombak dalam melakukan sosialisasi dan penyadaran kepatuhan protokol kesehatan demi pencegahan penularan Covid-19.
b. Memasang imbauan penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah pada tempat-tempat yang mudah terlihat.
c. Menyiapkan petugas/seksi khusus untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah. Seksi ini berkewajiban mengawasi dan menegakkan pelaksanaan protokol kesehatan di tiap ibadah natal dan tahun baru.
d. Melakukan pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area rumah ibadah.
e. Menyediakan fasilitas cuci tangan/sabun/hand sanitizer di pintu masuk dan pintu keluar rumah ibadah.
f. Menyediakan alat pengecekan suhu di pintu masuk bagi seluruh anggota jemaat yang datang beribadah, termasuk jemaat tamu. Jika ada anggota jemaat dengan suhu >37,5″C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), yang bersangkutan diminta untuk kembali beribadah di rumah dan tidak diperkenankan memasuki rumah ibadah.
g. Membatasi pintu/jalur keluar masuk rumah ibadah guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan.
h. Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai/kursi, minimal jarak 1,5 meter.
14). Kewajiban anggota jemaat yang akan mengikuti kegiatan ibadah dan perayaan natal dan tahun baru:
a. Anggota jemaat/umat dalam kondisi sehat.
b. Menggunakan masker dan face shield/masker wajah sejak keluar rumah dan selama berada di area rumah ibadah.
c. Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.
d. Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan.
e. Menjaga jarak antar jemaat/umat minimal 1,5 (satu setengah) meter.
f. Menghindari berdiam lama di rumah ibadah atau berkumpul di area rumah ibadah, selain untuk kepentingan ibadah yang wajib.
g. Bagi anak-anak dan jemaat/umat lanjut usia (di atas 60 tahun) yang rentan tertular penyakit serta orang dengan sakit bawaan yang beresiko tinggi terhadap Covid-19 diwajibkan mengikuti ibadah secara daring di rumah masing-masing dengan tata ibadah yang telah disiapkan oleh majelis jemaat.
h. Bagi jemaat tamu dari luar daerah/luar kota, perlu melapor diri kepada majelis jemaat setempat 2-3 hari sebelum kebaktian dengan memperlihatkan hasil tes PCR atau Rapid test yang masih berlaku.
i. Ikut peduli terhadap penerapan pelaksanaan protokol kesehatan di gedung gereja sesuai dengan ketentuan.

B. Pelayanan dan Perayaan Natal dalam jemaat-jemaat di wilayah/zona merah: 

Selama ada kasus Covid-19 POSITIF AKTIF di antara anggota-anggota jemaat setempat, ibadah dan perayaan natal serta tahun baru dilaksanakan di rumah-rumah dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Seluruh ibadah dan perayaan dilaksanakan di rumah tiap jemaat.
b. Majelis jemaat menyiapkan semua tata ibadah untuk pelayanan dimaksud dan jika memungkinkan menyiapkan pelayanan online/live streaming.
c. Kunjungan antar keluarga untuk saling menyampaikan ucapan selamat ditunda sampai berakhirnya masa pandemi. Khusus ucapan selamat natal masing-masing keluarga atau individu dapat membuat video pendek atau menyampaikan ucapan selamat melalui media digital yang lain. Hal itu dapat dimulai dari keluarga para pendeta yang membuat ucapan natal dan tahun baru lewat kartu digital foto atau video yang disebarkan melalui WA dan berbagai platform media sosial yang lain.
d. Di zona merah, di mana ibadah dan perayaan dilakukan di rumah masing-masing, majelis jemaat di rayon dan para pendeta dengan APD lengkap (masker, face shield, dan sarung tangan) berbagi peran mengunjungi jemaat dari rumah ke rumah untuk berdoa bersama anggota jemaat.
e. Selama masa pandemi, termasuk pada saat perayaan natal dan tahun baru, para pendeta tidak boleh meninggalkan tempat pelayanan di jemaat.
f. Majelis jemaat/majelis klasis dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Laboratorium Biomolekuler Prov. NTT untuk melakukan tes swab secara massal (q-pooled PCR test) kepada semua majelis jemaat/anggota jemaat. Sebelum swab test perlu dilakukan sosialisasi agar jemaat dapat memahami mengapa swab test perlu dilakukan. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel