Di TTU, Dosen Paksa Tiduri Mahasiswi Setiap Malam Minggu Hingga Hamil

kasus dosen hamili mahasiswi di kupang
Ilustrasi

Pegiatliterasi.com – Sebagaimana diberitakan oleh media-wartanusantara.idSeorang mahasiswi berinisial AB (21) dari Fakultas Pertanian (Faperta), Jurusan Sains Terapan semester 3 di Universitas Timor (Unimor), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku kini tengah berbadan dua.


Anak yang dikandungnya tersebut merupakan hasil hubungannya dengan oknum dosen berinisial WT, yang merupakan staf pengajar di Fakultas Sosial Politik (Fisipol) di Universitas tempatnya menimba ilmu. Dosen tersebut pun akan dilaporkan..

Ironisnya, sang dosen tersebut sebelumnya, yakni pada bulan Oktober 2019 lalu, tersandung kasus merayu mahasiswinya untuk melakukan video call seks (VCS). Kasus ini kemudian menjadi heboh namun berhasil diredam setelah diurus secara kekeluargaan dan denda adat.


“Iya, saya dipaksa tidur berkali-kali oleh Bapa Dosen. Sekarang saya sudah hamil 7 bulan,” jelas AB kepada wartawan, ketika ditemui di kediaman orang tuanya di Toleu, Desa Lanaus, Kecamatan Insana Tengah, pekan lalu, seperti dilansir halamansembilan.com.

Ia menceritakan kasus ini bermula saat istri WT yang bernama MYL, pergi tugas ke Bali. MYL adalah sepupu kandung dari AB. MYL minta tolong kepada AB untuk tidur di rumah dan membantu mengurus rumah dan anak-anak.


Kesempatan itu dimanfaatkan WT untuk memperkosa AB berkali-kali. Bahkan setelah istrinya pulang, WT selalu meminta agar AB bermalam di rumah setiap Sabtu. Dengan alasan untuk membantu istrinya.

“Dan saya terus digilir Bapa Dosen. Setiap kali ada niat menceritakan kepada sepupu saya, namun takut dan tidak tega,” kisah AB, saat ditanya kenapa tidak mengadu kepada istri WT.




Kadang jika lagi kumat, lanjut AB, WT menelponnya malam-malam dan memaksa melakukan VCS. Dan diharuskan mengirim foto tubuhnya kepada WT.

Kedua orang tua kandung AB telah melaporkan kasus ini kepada Pemerintah Desa Lanaus untuk diurus secara kekeluargaan. Namun tiga kali surat panggilan dikirim, tidak ada respons.




“Karena itu kami akan lapor polisi dan meminta advokasi dari LSM perlindungan perempuan,” jelas kedua orangtua AB.

Oknum dosen, WT, belum berhasil dikonfirmasi wartawan di Kefamenanu. Telepon genggamnya selalu tidak aktif, kendati sudah dihubungi berkali-kali.


REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel