DPRD DKI Minta Duit 888 Miliar Per Anggota, Denny Siregar: Anies dan DPRD DKI Rampok Uang Rakyat DKI, Jadi Kangen Ahok

apbd dki 2020

"PEMAHAMAN NENEK LU !!"

Lama sudah kita tidak mendengar keributan saat urusan anggaran di DKI Jakarta.

Dulu ada Ahok, yang dikenal dengan coretannya "Pemahaman nenek lu !" dan membangkitkan semangat rakyat bahwa masih ada orang yang tidak bisa dibeli dengan uang. Tambah rame ketika lawan Ahok muncul yaitu Haji Lulung dengan ketidakpahaman dia akan bedanya UPS dengan USB. Wah, rame lah..

Tapi keramaian itu hanya sebentar. Ahok tidak lagi memimpin Jakarta. Dan salah satu kader Gerindra, M Taufik menyambut gembira, "Asyik, bisa lagi makan lobster..". Zamannya Ahok kering, boss. Bahkan oli bekas pun harus dhitung sedetail2nya.

Sekarang, budaya berteman antara Gubernur dengan DPRD DKI kelihatannya kembali mesra. Anies Baswedan melenggang aman karena kebijakan dia gada yang ngeributin. Mau banjir kek, mau bikin kerumunan kek, santai aja. Kenyangkan DPRD DKI, biar semua tidur dan ngorok sehingga gada yang teriak kelaparan.

Gimana gak ngorok, liat anggaran yang diajukan DPRD DKI langsung jiwa misqueen kita bergetar. Pendapatan yang mereka minta setahun nilainya 8 milyar rupiah. Kalau ditotal ada 106 anggota, totalnya bisa berupa angka cantik 888 milyar rupiah. Itu baru setahun, kalikan 5 tahun mereka menjabat.

Liat aja, ada tunjangan perumahan nilainya 110 juta rupiah perbulan. Gile, itu setahun lebih dari 1 milyar rupiah untuk tunjangan perumahan apa ?? Padahal rumah mereka juga disediakan negara. 

Trus, ada tunjangan komunikasi senilai 21juta 500ribu rupiah perbulan. Itu mau nelpon siapa gede gitu angkanya ? Selingkuhan ?

Ada lagi tunjangan transportasi senilai 35 juta rupiah perbulan. Gak tau, itu buat bensin tank atau mobil ? Cuman anggota dewan ma Tuhan yang tahu.

Kalau dihitung2, satu anggota dewan di DPRD DKI Jakarta dapet duit 700juta rupiah perbulan. Banyak ya, mbang. Entah mereka mau apain duit sebanyak itu, mungkin buat mandi uang. 


Dan sakitnya, para anggota dewan itu minta duit sekian milyar rupiah disaat banyak warganya yang kehilangan pekerjaan, usahanya tutup karena pandemi sampe naiknya tingkat pengangguran. Sedangkan anggota dewan perutnya makin gendut kekenyangan.

Ada yang lucu. Seorang anggota DPRD DKI dari PDIP yang dulu sempat mengaku terinspirasi Ahok, bernama Ima Mahdiah, malah gada malu2nya membela diri bahwa uang segitu wajar. Gak malu apa bawa2 nama Ahok dengan model ngerampok uang segitu banyak ? 

Ada lagi dari PKS yang bilang, uang segitu kecil dibandingkan APBD Jakarta. "Kecil nenek lu !!" Harusnya ada yang ngomong begitu ke mereka.

Yang masih konsisten adalah partai kecil, yaitu Partai Solidaritas Indonesia. Mereka awalnya ikut pansus bahas anggaran itu. Tapi ketika tahu angkanya begitu besar, mereka menolak dengan keras untuk makan uang rakyat. "Takut sakit perut, uang panas.." kata seorang teman kader PSI.



Entah dimana nurani mereka, para anggota dewan itu. Mereka pesta pora ditengah kesulitan banyak orang. Tidak ada sedikitpun empati mereka bahwa negara sedang dalam kondisi sekarat akibat Corona, dan banyak driver online yang pulang hanya bawa uang 2000 rupiah saja untuk makan sekeluarga.

Ada anekdot ketika gedung DPR terbakar, mendadak banyak orang disekitar gedung mengumpulkan donasi..

Seorang pengemudi mobil melintas, lalu bertanya, "Ada apa ?" Salah seorang pengumpul donasi menjawab, "Mau ikut donasi, pak ?"

Pengemudi mobil bertanya lagi, "donasi berapa ?" Dan dijawab, "Cukup satu liter bensin saja.."

Mungkin di hari pengadilan, Malaikat gak perlu lagi repot2 bertanya. Pas liat anggota DPR berjalan, pintu neraka langsung dibukakan lebar2. "Selamat datang, wahai para pemakan uang rakyat.." Mereka lalu dikalungi rantai panas sambil disuruh berenang di kawah yang menggelegak.


Ah, rupanya ceret sudah mulai berbunyi. Malam2 pengen minum kopi. Enaknya jadi orang biasa-biasa aja, gak banyak nanti yang dipertanggungjawabkan kepada yang punya bumi dan seisinya.
Seruputtt..

Denny Siregar

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel