Catatan Untuk MUI: Buka mata mu, Eropa Surga Bagi Toleransi bukan Indonesia


Eropa Surga Bagi Toleransi bukan Indonesia

Ditulis  oleh: Erick Septiawan Tobing


Saya lahir di Indonesia dan besar di Indonesia. Masa kanak-kanak saya di tengah komunitas rakyat jelata menengah ke bawah, alias mayoritas rakyat Indonesia. Mereka semua 85% beragama Islam.

Tidak mudah hidup di tengah orang Islam. Anda harus menjaga perasaan mereka yang mudah tersinggung dan mudah merasa dihina. Saat puasa, anda tidak boleh makan di depan mereka. Saat waktu sholat, kuping anda akan bising karena suara yang bising dari Toa masjid dan mushola. Jika anda salah bicara tentang Islam, maka anda akan dipenjara atau bahkan dibunuh oleh massa, minimal bonyok digebuki massa.  
Saat acara-acara publik anda akan mendengar doa bahasa arab dikumandangkan, bahasa yang tidak anda mengerti, dan anda tidak boleh tertawa karena geli mendengar doa yang aneh itu.

Ibadah? wah sudah berapa banyak yang diganggu dan dihentikan? bahkan banyak rumah ibadah non Islam yang di bakar atau dirusak oleh orang Islam. Perijinan rumah ibadah non muslim sangat sulit, bahkan yang ada ijinnya saja bisa dibatalkan oleh pemerintah. Bom di gereja pun bertaburan hampir setiap tahun. Ibadah Natal setiap tahun harus dijaga dari gangguan orang Islam. Kalian kok malah bangga ibadah natal di jaga banser? Ibadah Natal dijaga pasukan tentara, polisi dan ormas adalah bukti bahwa kalian masih dijajah !!

Intinya, hidup di tengah orang Islam sangat sulit.
Begitulah hidup di tengah orang Islam di Indonesia. Ayo jujur siapa yang mengalami hal yang sama?

Bagaimana di Eropa?
Sekalipun Kristen adalah agama mayoritas, namun di sini ada Masjid Syiah, Sunni, Ahmadiyah  atau apalah itu.. semua berdiri dengan megah. Dilarang mengutuki Islam bahkan Anda tidak boleh berkata nabi mereka seorang tukang kawin karena melanggar hukum Eropa.

Orang Budha, Hindu, Kristen, Agama yang tidak pernah anda dengar di Indonesia bebas menjalankan ibadahnya tanpa boleh ada yang mengganggu. Semua bebas beragama dan beribadah dan dilindungi oleh undang-undang.

Selama ibadah anda tidak mengganggu orang lain: misal ibadah jihad ngebom gereja jelas dilarang. Toa Adzan jelas dilarang. Lonceng gereja bila dianggap mengganggu bisa diturunkan. 

Jadi kalau Indonesia dianggap contoh  yang baik bagi dunia Internasional bagi pluralisme beragama: TAIK Makan .....

Di Eropa, negara kafir, justru semua agama dihormati. Anda tidak akan dipersekusi karena pindah agama, atau bahkan anda menghujat Tuhan sekalipun. Mengkritik agama diijinkan selama anda tidak mengganggu ketertiban umum, misalnya : orang sedang ibadah, lalu anda membuat kegaduhan di sekitarnya. (Di Indonesia, ketika orang sedang ibadah Natal, maka Masjid membuat acara dadakan dan Toa nya dicorongkan ke gereja). 

Yang luar biasa: mereka menampung semua imigran islam dan tetap menghargai hak mereka beragama, selama mereka tidak memaksakan ibadahnya kepada orang lain. Mereka juga menampung imigran komunis dengan menghargai pendapat dan ideologinya, selama tidak memaksakan ideologinya kepada orang lain.

wow betapa hebatnya toleransi beragama orang kafir!!! Coba di Indonesia mana bisa begini???? 

MENGAPA? SEBAB INDONESIA BELUM MERDEKA, MASIH DIJAJAH MAYORITAS.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel