Apa Itu Happy Hypoxia, Kematian Tanpa Gejala Pasien Corona?


Apa Itu Happy Hypoxia Dalam Covid 19?

Silent hypoxemia atau yang lebih dikenal masyarakat happy hypoxia belakangan ramai dibicarakan masyarakat karena dianggap dapat membuat pasien Covid-19 meninggal tanpa menunjukkan gejala sama sekali.
Lantas, apa sebenarnya happy hypoxia?

Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto pertama-tama menjelaskan, secara umum suatu infeksi di jaringan paru disebut sebagai penumonia.

Pneumonia akan menyebabkan gangguan sirkulasi oksigen masuk ke dalam darah, yaitu gangguan disfungsi atau gangguan pada vaskuler (pembuluh darah). Hal ini membuat darah tidak teroksigenisasi.

"Akibatnya, itulah yang disebut sebagai kandungan oksigen dalam darah rendah atau disebut hipoksemia".

Apa itu hipoksemia (hypoxemia)?

Hypoxemia atau hipoksemia adalah kurangnya kadar oksigen dalam darah, yang menyebabkan terjadi gangguan beserta keluhan pada organ tubuh lainnya.

Sedangkan, silent hypoxemia adalah kurangnya kadar oksigen dalam darah tetapi tidak diikuti gejala atau keluhan pada organ tubuh lain.

Presentase saturasi oksigen normal yang diharapkan yaitu 95 persen pada orang sehat.

"Di bawah milimeter normal (kadar oksigen dalam darah) itu kalau diukur saturasinya di bawah 94, kalau diukur kadar pO2 (tekanan oksigen) di bawah 80," jelasnya.

Adapun kondisi hipoxemia ini dapat menyebabkan hypoxia atau kadar oksigen rendah di jaringan. Ini terjadi ketika darah tidak membawa cukup oksigen ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Hypoxia (hipoksia)

Hypoxia atau hipoksia adalah kurangnya kadar oksigen di dalam jaringan darah, dan umumnya memiliki gejala.

Sementara, happy hypoxia adalah kurangnya kadar oksigen dalam jaringan tetapi tidak memilki gejala atau keluhan yang dirasakan pasien.

"Jadi terminologinya juga harus dipahami bahwa hipoksemia adalah kondisi kadar oksigen yang rendah di dalam darah," ucap Agus.

Sementara, ketika hipoksemia terus terjadi dan membuat kadar oksigen rendah di dalam jaringan, maka itu disebut dengan hipoksia.

Ironisnya, hipoksia dapat terjadi terus menerus yang mengakibatkan organ tubuh lama-kelamaan akan terganggu fungsinya.

Terutama organ-organ penting tubuh seperti jantung, otak, dan ginjal.

"Kalau itu kekurangan oksigen, akibatnya bisa terjadi penggalan organ akibat kekurangan oksigen," tuturnya.

Happy hypoxia dalam Covid-19


Dalam kasus Covid-19 ini, pasien memiliki gejala yang bervariasi, dari yang tidak bergejala, ringan, sedang sampai berat, dan kritis.

Pasien berkategori ringan, memiliki gejala batuk dan pilek. Kategori sedang umumnya memiliki gejala pneumonia atau radang paru.

Kategori berat memiliki gejala pneumonia dan hipoxemia. Sementara pasien Covid-19 yang kritis memiliki gejala oksigenasi yang terganggu berat sampai susah bernapas.

"Jadi kalau sudah terjadi pneumonia, atau terjadi pneumonia dan hipoxemia sampai gagal napas, itu umum ya di dalam darahnya terjadi yang namanya hipoxemia," tuturnya.

Agus mengatakan, tidak semuanya atau pada beberapa pasien Covid-19, ada sekitar 18,7 persen pasien Covid-19 yang tidak mengeluh sesak napas.

Padahal ketika diukur di dalam darahnya sudah terjadi hipoksemia. Dari data yang sama juga terlihat sekitar 40 persen pasien mengalami pneumonia.

Jadi fenomena ini sudah terjadi sejak kejadian Covid-19 awalnya di Wuhan, China.

Agus berkata, itu suatu kondisi pasien yang kelihatannya tidak ada gejala tetapi kadar oksigen di dalam parunya itu rendah di bawah normal yang artinya hipoksemia.

"Kondisi inilah yang disebut sebagai suatu silent hipoxemia atau hipoksemia yang tidak terdeteksi, atau familiar juga disebut happy hypoxia," jelasnya.

Jadi, orang-orang yang kelihatannya tidak bergejala pada Covid-19, tetapi bisa juga ternyata oksigen di dalam darahnya rendah atau mengalami hipoksemia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel