Masih Bilang Jokowi Kaleng-kaleng? Baca Dulu Ini

suku anak dalam
Foto jokowi Ketika berkunjung ke Suku Anak Dalam
Pahit adalah pahit. Jangan pernah memaksakan rasa pahit yang sangat jelas terasa dilidah dengan janji rasa asam atau bahkan manis, itu tak akan berlangsung lama. Itu akan langsung ditolak saat itu juga ketika makanan atau minuman itu nempel dilidah. Seketika, bohong itu terbukti.

Pandemi Covid-19 jelas adalah pengalaman pahit, bukan hanya bagi kita yang sedang akan bergerak menjadi negara maju, namun bahkan negara yang super majupun  terjungkal dan bahkan akan sangat sulit bangun kembali.
Saya, anda, dan hampir dari kita semua, rasa-rasanya adalah korban badai ini. Badai yang tidak pilih-pilih pingin terjang siapa. Badai yang telah membuat kita terkapar dan bahkan frustasi untuk bangkit kembali.

Pahit adalah pahit. Menjadi miskin karena tak lagi memiliki penghasilan atau penghasilan kita berkurang karena sedang dirumahkan adalah rasa pahit yang harus kita terima karena dia datang dengan paksa dan kita tak mampu menolaknya. 

"Inikah apa yang dibilang nasib?"
Tidak semua permasalahan selalu dapat kita handle. Tidak semua derita dan bahagia dapat kita "setel" sesuka kita. Itulah hidup. Suka tidak suka, kita saling tergantung dan saling memberi pengaruh. 
Bila nasib dunia untuk sesaat harus runtuh karena pandemi ini, itu bukan karena saya atau anda yang menginginkan, itu karena keadaan alamiah. Itu diluar kontrol kita.

Berbeda ketika kita harus bangkit, jelas itu adalah tentang siapa saya, siapa anda dan siapa kita Indonesia? Itu tentang tekad dan kemauan kita. Bukan nasib buruk atau anugerah yang kita tunggu.

Itu juga terkait dengan seberapa siap kita bangkit. Seberapa kuat fondasi yang telah kita bangun dalu. Semakin semuanya siap, semakin cepat kita recovery.


BACA JUGA: Alasan Mengapa Bung Karno Dilengserkan dan Jokowi Dibenci


Itu adalah apa yang kita Indonesia alami hari ini. Mungkin, cara negara ini meng-handle pandemi ini dapat terus diperdebatkan. Tak ada teori terbaik dan tidak pula ada yang terburuk. 

Semua negara secara bersama dihadapkan pada satu keadaan yang belum ada contohnya. Tak ada satupun negara memiliki pengalaman dengan bencana seperti saat ini. Semua seperti learning by doing.

Siapa terbaik, sampai hari ini belum ada tolok ukur pasti bagaimana membuat penilaian tersebut. 
Ada negara yang korban meninggalnya sedikit namun ekonominya langsung hancur. Ada pula yang sebaliknya. Yang paling parah adalah korban luar biasa besar dan ekonomi negara tersebut juga hancur. 

BACA JUGA: Haikal Hassan Banjir Cibiran dari WargaNet

Sebentar lagi kita akan dengar negara mana itu. Namun yang pasti, tidak ada satupun negara yang menjadi kaya karena pandemi ini, semua negara dunia sedang bertumbuh dalam kurva negatif, pertumbuhan ekonominya.

Bila kata "beruntung" adalah idiom dari pemaknaan tak tahu diri dalam kondisi seperti saat ini, maka, kalimat "kita masih boleh bersyukur" negara kita adalah salah satu negara yang diprediksi paling cepat mampu bangkit dari keterpurukan, mungkin bukan kalimat berlebihan.

BACA JUGA: Dugaan Ijazah Palsu Ustadz Tengku Zulkarnain

Kita masih boleh bersyukur bahwa sebelum bencana ini datang, fondasi kita sudah dipersiapkan dengan baik oleh pemerintah selama lima tahun presiden terpilih ini memerintah.

Ada Potensi Investasi Rp 1.000 Triliun Masuk RI

Dikutip Dari detik.comAda Potensi Investasi Rp 1.000 Triliun Masuk RI. Ini adalah dampak Perang dagang Amerika dan China dan kemudian ditambah dengan bencana besar telah membuat banyak negara memindahkan perusahaannya dari satu negara ke negara yang lain. 
Badan Koordinasi Penanaman Modala (BKPM) baru saja mengumumkan berita positif ditengah derita kita. Sedikit senyum tentu bukan sesuatu yang berlebihan menanggapi berita ini. 
Paling tidak, ada harapan bagi kita mendapat kembali pekerjaan yang kemari telah hilang. Ada harapan kita dapat memutar kembali roda ekonomi yang sempat menyeret kita pada pertumbuhan yang hampir negatif.
BKPM  mencatat ada 17 perusahaan asing yang berpeluang melakukan relokasi atau pindah ke Indonesia dari negara lain. 

Nilai investasinya diperkirakan sebesar US$ 37 miliar dan diperkirakan mampu menyerap 112 ribu tenaga kerja. Ada pula sebanyak 119 perusahaan dengan nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 41,392 miliar dan dapat menyerap 162.000 tenaga kerja.
Bila ditotal maka potensi nilai investasi dari 17 perusahaan ditambah 119 perusahaan adalah US$ 78,392 miliar. Angka tersebut setara Rp 1.097 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Dan yang pasti, ada 7 perusahaan asing yang sudah dan sedang melakukan relokasi ke Indonesia dari negara lain. Nilai investasinya sebesar US$ 850 juta dan dapat menyerap 30 ribu tenaga kerja. Groundbreaking-nya sudah dimulai.


Baca Juga: Artis HH Ditangkap Karena Prostitusi, Hana Hanifah Jadi Perbincangan Warganet


Ada 143 perusahaan dari Amerika Serikat 57 perusahaan, Taiwan 39, Korea Selatan 25, Jepang 21, Hong Kong 1.
"Apakah ini kebetulan semata?"
Setau saya, tidak ada investor memakai dukun demi kebetulan yang diharapakan. Mereka profesional, mereka memilih Indonesia karena pertimbangan bahwa negara ini adalah surga bagi investasi mereka.

Dan ingat loh, aset negara, baru-baru ini sudah tembus lebih dari 10.000 triliun rupiah. Bagi yang sibuk itungin utang, sepertinya aset ini jauh lebih besar dari hutang kita. Bayar? Emang itu utang ada yang kejar-kejar apa? Yang tawarin aja malah makin banyak. Ini Bukti, Jokowi dan tim ekonominya memang bukan kaleng-kaleng.
Sumber Berita
Rahayu
Karto Bugel

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel