Refleksi Father Day, Farry Francis: 10 Tahun Saya Dicaci Maki, Tapi Saya Tidak Balas

farry francis
Farry Francis, Legislator asal NTT
"Mengelola Kritik...Selama 10 tahun memegang jabatan politik di DPR, saya bersahabat dengan para pengkritik. Risiko jabatan memang demikian. Saya tidak saja dikritik tetapi  juga dibully, bahkan dicaci maki. Karena keeseringan, saya menganggapnya sudah seperti menu santapan harian. Diterima dan diambil hikmahnya.


Terhadap kritikan yang ad personam (menyerang pribadi), sebagai manusia kadang saya marah. Tetapi pernahkan saya menyerang balik bahkan melaporkan ke pihak berwajib agar menghukum pengkritik? Saya tidak memilih jalan ini. Saya bahkan mengambil alur lain, memaafkan dan dan mendoakan mereka.


Menjadi pemimpin itu mustahil tanpa kritik. Bersiaplah menerimanya. Seorang pemimpin bolehlah marah, apalagi demi kebaikan banyak orang. Tetapi bila marah karena merasa dirinya dilecehkan atau marah karena ingin menunjukkan bahwa "saya punya kuasa", pemimpin macam ini disebut sok kuasa dan sewenang wenang. Maka berkuasalah tetapi jangan sok berkuasa. Berwenanglah tapi jangan sewenang-wenang.


Tidak semua kritik itu buruk. Ia bahkan selalu merawat kesadaran kita. Lebih berbahaya lantunan puja-puji setiap saat karena mereka menyembunyikan kekurangan dan kelemahan kita. Kematangan pribadi kita juga ditentukan oleh bagaimana kita mengelola kritik dan merespon kritikan.

#FF Refleksi Father Day 22/6-20.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel