Pengamat Ungkap, Mengapa Penyiram Novel Hukum Ringan, Ini Skenarionya, Ujung-ujungnya Salah Jokowi Lagi

Framing Lawan Jokowi di Balik Kasus Novel Baswedan

'VIRAL'.. Jaksa Penuntut Umum dalam kasus Novel Baswedan sebut saja namanya 'Buaya', apakah termasuk peran dalam framing ingin menjatuhkan Presiden Jokowi?

Ditilik dari jejak digital yang berhasil diungkap oleh cebong beradab, salah satu jaksa penggemar daun muda yang hijau menggoda itu ternyata adalah fans berat Rizieq Shihab dan simpatisan 212 sekaligus pembenci Ahok.

Tuntutan 'Buaya' yang mengatakan penyiram air keras kewajah NB tersebut sangat jauh dari hasil penyidikan kepolisian.
Kenapa 'Buaya' bisa menuntut seolah-olah penyiram NB itu tidak sengaja..??

Ini sebuah framing skenario besar untuk rencana pemakzulan Jokowi oleh Kadrun yang disokong oleh para Mafia dan Politikus Busuk yang sudah ereksi sekian lama tanpa ada tempat penetrasi.
Sehingga ejakulasi muncrat tak beraturan dan menimbulkan bau amis dimana-mana.
Ingat pesan embah, sepintar-pintarnya menyimpan bau busuk akan tercium juga.

'Buaya' si pembenci Ahok yang kebetulan seorang JPU ini, sengaja melakukan tuntutan sedemikian rupa agar bisa menjadi konstruksi hukum untuk menyalahkan Jokowi.

Setelah rencana pemakzulan pakai isu PKI, isu kebijakan penanganan Covid-19 gagal total, kelompok Kadrun ini mencoba bekerja dengan JPU untuk mempermalukan Jokowi.

Walau seandainya si 'Buaya' bukan seorang Kadrun, tuntutan tersebut bisa dimaknai sebagai karma seorang NB, tetapi setelah membaca tantutan Jaksa, sorak sorai bertepuk diseluruh seantero negeri dengan menyalahkan Presiden Jokowi.
Seakan Presiden Jokowi ikut bermain dipenuntutan.

Padahal Presiden Jokowi seorang Eksekutif sudah dari awal tidak ikut mencampuri lembaga lain baik Legislatif maupun Yudikatif.
Itu clear bagi orang-orang yang hatinya bersih.

Bukan rahasia umum bahwa di tubuh Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif banyak sekali Kadrun HTI penyusup yang ingin merongrong Kewibawaan Pemerintah dan Negara terkhusus ingin Jokowi tidak berkuasa.

Sebab dia satu-satunya Presiden dari sipil yang berani membubarkan kelompok radikal berbaju gamis yang ingin mengganti Pancasila di Bumi Pertiwi. 

Tapi mereka lupa, bahwa.
Di atas langit masih ada langit.
Di bawah puser wanita ada surga dunia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel