PEMBAKARAN BENDERA PDIP, BUNTUT UCAPAN MEGAWATI

"PEMBAKARAN BENDERA PDIP,  BUNTUT UCAPAN MEGAWATI:


Ketika bendera PDIP terbakar bersamaan dengan bendera bergambar palu arit, darah ini rasanya mendidih dan amarahpun nyaris tak terbendung. Dorongan untuk menghentikan aksi pembakaran yg tak jauh dari tempat aku berada begitu menghebat. Untung seorang kawan mengingatkan untuk tetap mengendalikan diri.

Peristiwa pembakaran itu sontak mengingatkan pada sederet peristiwa saat aku ikut mendampingi mbak Mega (1993-1998). Saya dan teman2 pejuang demokrasi merasakan bagaimana hidup dalam ketakutan, sakit dan sulitnya dibawah tekanan rezim otoriterian Orba.

"Makan gak enak, tidur tak nyenyak, di rumah bingung." Itulah suasana hati keseharian yg kami lalui, namun kami tetap semangat memperjuangkan demokrasi karena mbak Mega tidak pernah lelah memberi semangat dan pengharapan pada kami. "Kita pasti menang, asal kita terus bejuang."

Saat itu tidak seorangpun tahu akan berakhir seperti apa perjuangan yg kita jalani. Segalanya serba tidak pasti. Tapi setelah peristwa "GAMBIR BERDARAH 20 JUNI dan PENYERANGAN KANTOR DPP PDI, Sabtu, 27 JULI 1996" semakin jelas kemana arah perjuangan bersama mbak Mega. Kedua peristiwa bedarah itu ternyata menginspirasi pejuang2 demokrasi di seantero Indonesia untuk bersatu melengserkan pemimpin diktator Soeharto (sosok Soeharto menjadi musuh bersama) dan nama Megawati saat itu terus meroket tampil sebagai "Sosok Perlawanan Rezim Otoriterian Orba". Dan yg paling membanggakan sebagai simbul perlawanan yg tidak sia2 dan semakin mengobarkan api juang, ditambahkannya huruf "P" di akhir nama PDI menjadi PDIP. Sejak itu terpatri makna pada bendera PDIP sebagai simbul perlawanan rakyat terhadap musuh-musuh PANCASILA. Warna merah bergambar kepala  banteng moncong putih, menjadi bendera kebanggaan Rakyat yang menyimpan banyak makna penting dari perjuangan demokrasi di negeri GARUDA ini.

Bagaimana hati ini tidak terasa tersayat dan darah terasa mendidih melihat bendera yg penuh makna perjuangan demokrasi dibakar oleh orang2 pengabdi kebodohan.

Pastinya peristiwa itu bukan saja menyakiti dan melukai kader partai tapi semua pejuang demokrasi yg pernah ikut melahirkan PDIP.
Namun cukup mengejutkan ketika "partai" memilih bersikap lunak,  tidak mengutuk keras perbuatan pelecehan terhadap demokrasi, malah menghimbau agar kader partai tidak terprovokasi, jangan mau diadudomba dan memilih penyelesaian lewat jalur hukum. Semoga Indonesia sebagai Negara Hukum bukan sekedar "lips service."

Jangan naif, gerombolan yg membakar bendera PDIP adalah musuh2 nyata INDONESIA bukan hanya musuh PDIP. Cita-cita perjuangan mereka ingin menggantikan Pancasila dengan Khilafah dan meng-Islamkan Indonesia.

Seharusnya kita sudah pahami bersama bahwa sejak pilpres  2019 pertempuran ideologi telah dimulai sampai hari ini.
Dan kejadian pembakaran bendera PDIP saya menduga, salah satunya  buntut dari ucapan mbak Mega yg tegas dan viral "PENDUKUNG KHILAFAH USIR KLUAR DARI INDONESIA"
Ucapan mbak Mega ini bisa jadi membuat para belatung putih kebakaran jenggot dan nembuat emosi jiwa.

Secara pribadi maupun sebagai pemimpin Gerakan Jaga Indonesia (GJI) ucapan   itu adalah komando  perjuangan melawan gerakan belatung putih pengusung panji Khilafah.

Salam Juang.
PANCASILA YES  KHILAFAH NO.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel