Makna dan Filosofi Tarian Pado'a Bagi Orang Sabu

Makna Tarian Pado'a Bagi Orang Sabu
Tarian Pado'a

Makna Tarian Pado'a Bagi Orang Sabu

Secara Historis: Tarian Pedo'a bermula di Raijua yang dilakukan oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Tarian ini bertujuan untuk menciptakan keramaian dan menjadi tempat berkumpul semua penduduk Raijua, dengan harapan anak dari ibu yang hilang tadi juga akan datang ke tempat keramaian tersebut. Cerita tentang Na Ju Deo yang mencari anaknya masih terpelihara dengan baik dalam ingatan masyarakat Raijua. Tarian massal di Raijua tidak hanya Dho’a atau Pedho’a saja tapi juga ada Pegedhe.

Tarian Pado'a merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari ritual adat lainnya seperti Banga Liwu, Buihi dan Hole. Tarian ini biasanya dilakukan pada malam hari sebelum dilakukan kegiatan Buihi besok harinya. Seperti pada umumnya kegiatan Pado'a diawali dengan ritual-ritual adat suguhan sirih pinang dan Kelapa Wangi (Kenana, Kelalla dan Nyiu Wau Mangngi) di atas Batu Persembahan atau Wowadu Turu. Sesudah acara pendahuluan ini lalu Mone Pejo atau tokoh yang dituakan dan dianggap mengerti tata caranya mulai melakukan koordinasi dengan para peserta yang hadir dan sudah siap dengan ketupat yang dibuat dari daun lontar serta berisi kacang hijau untuk diikat di kaki. 

Secara Historis, Tarian pedo'a bermula di Raijua yang dilakukan oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Tarian ini bertujuan untuk menciptakan keramaian dan menjadi tempat berkumpul semua penduduk Raijua, dengan harapan anak dari ibu yang hilang tadi juga akan datang ke tempat keramaian tersebut. Cerita tentang Na Ju Deo yang mencari anaknya masih terpelihara dengan baik dalam ingatan masyarakat Raijua. Tarian massal di Raijua tidak hanya Dho’a atau Pedho’a saja tapi juga ada Pegedhe.

Dalam Syair yang dilantunkan oleh Mone Pejo (Mone Pejo adalah orang yang menyanyi dan memandu gerakkan semua peserta pedo'a) berisi puja dan puji kepada Sang Pencipta Alam Semesta dan Para Leluhur yang telah memberikan kesuburan, kemakmuran serta kelimpahan sehingga mereka telah panen hasil tanamannya, baik kacang hijau maupun jagung atau sorgum serta padi.

Pandangan masyarakat Sabu sendiri terhadap Pado'a adalah merupakan suatu ajang kebahagiaan terutama kepada pemuda-pemudi yang dibolehkan untuk saling bergandengan satu sama lainnya atau dalam bahasa Sabu Pegai, Pegatti dengan caranya masing-masing.

Sedangkan manfaat bagi orang tua acara ini merupakan suatu kesempatan bagi mereka untuk menjajakan jualan hasil kebun/panen. Selain itu juga bagi orang tua kegiatan Pado'a ini juga dijadikan sebagai arena hiburan dan pelepas lelah setelah mereka mengerjakan berbagai aktifitasnya. Kegiatan Pado'a ini biasanya berlansung selama tujuh hari saja dan sesudah acara Hole dilaksanakan oleh tokoh adat lokasi tempat Pado'a itu disiram dengan air gula sebagai pertanda kegiatan Pado'a berakhir.


_______________
Artikel  ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu kami untuk mengembangkan atau merevisinya. Silahkan tinggalkan komentar yang membangun di kolom komentar atau Hubungi kami.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel