Ketika Tuhan Turun Tangan

Tangan tuhan selalu menyertai kita

Ketika Tuhan "Turun tangan"

Pada bulan Mei 2020, hampir seluruh dunia masih sibuk dengan penanggulangan wabah covid 19 di negaranya masing masing. Perhatian semua orang setiap hari masih konsentrasi mengikuti berita tentang korban covid 19 sehingga tidak memperhatikan kejadian genting di laut Cina Selatan.

Sebagai ekses ketegangan konflik China dan
Amerika, pada pertengahan Mei sudah terjadi pengerahan kapal induk dan beberapa kapal perang Amerika yang sengaja berseliweran di Laut China Selatan dan laut sekitar Taiwan.
Pengerahan beberapa kapal perang AS di perairan China, tentu dianggap provokasi dan sikap menantang secara langsung dan terbuka.

Amerika seolah sudah 'menjual' tinggal menunggu pihak China berani tidak untuk 'membeli'.
Ujung jari telunjuk China sudah menempel di pelatuk, karena Xi Jinping sudah memerintahkan seluruh militernya untuk bersiap perang sewaktu-waktu.
_Satu tembakan saja dari kapal China diarahkan ke sebuah kapal Amerika, tak pelak itu sudah cukup dijadikan alasan Amerika untuk menyerang balik semua kapal China, dan menghujani kota kota bisnis di pantai timur China dengan rudal-rudal nuklir. Sebaliknya China tentu tidak tinggal diam ia akan meluncurkan rudal-rudal jarak jauhnya ke seluruh pangkalan militer AS di sekitar Pasifik, Jepang, Philipina, Korsel.,Taiwan, Guam dan Hawaii. Tak terkecuali di pantai barat Amerika. Selanjutnya tentu akan berbalas penghancuran Beijing dengan rudal nuklir yang mungkin diluncurkan dari kapal selam nuklir Amerika di Pasifik.

Ini memang skenario terburuk dari perang China versus Amerika, yang menjadi awal kehancuran kawasan Asia Timur. Dampak berikutnya adalah kehancuran ekonomi di sebagian besar negara dunia.
Apakah ini imajinasi pesimis ? Sepertinya tidak, jika melihat nafsu berantem Trump yang sudah sampai ubun-ubun. Dan saat terakhir Trump sudah memborong minyak dari Timur Tengah serta melakukan beberapa langkah persiapan, termasuk rencana pemulangan mahasiswa-mahasiswa China yang belajar di Amerika.

Tapi ternyata ada kejadian yang tidak terbayangkan sama sekali oleh siapapun. Kok bisa tiba-tiba di suatu hari di Minneapolis seorang Polisi kulit putih Derek Chauvin teledor melakukan 'pembunuhan' terhadap seorang kulit hitam George Floyd di siang hari bolong dengan banyak saksi perekaman video.
Akibatnya solidaritas etnis kulit hitam terbangkitkan. Kemarahan, kerusuhan dan demo-demo anarki saat ini terjadi di puluhan kota besar di Amerika Serikat.
Trump dan para Jenderalnya yang semula sudah bersiap  mencari gara-gara perang dengan China jadi tiba tiba disibukkan menghadapi kerusuhan anarki di dalam negeri yang semakin meluas

Suatu hal unpredict , bahkan oleh CIA; FBI sekalipun.
Rencana perang dengan China tertunda.
Siapa yang menggerakkan kaki si polisi kulit putih untuk menggencet leher si kulit hitam?
Siapa yg menutup rasa belas kasihan si Polisi ?
Siapa yang mengatur kecerobohan tindakan di suatu jalan di Minneapolis, bisa menunda suatu malapetaka peperangan besar?
Siapa yang mampu mengatur skenario ini ?

Saya percaya Sang Maha Kuasa " Turun tangan".

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel