Kisah Inspirasi: Hidup Melewati Batas Normal

Kesaksian dan kisah hidup yang inspirasi

Hidup Melewati Batas Normal

(Kesaksian teman ketika dia sedang menyelesaikan kuliah Doktornya)

Mendengar kampanye “new normal” atau “kebiasaan baru” akhir-akhir ini, mengingatkan saya ketika sedang menempuh pendidikan S3 lalu. Kala itu saya hidup betul betul melewati batas normal. Sehingga kampanye new normal sekarang ini sebetulnya bagi saya masih terbilang cukup normal. Mungkin rekan-rekan yang pernah atau sedang menempuh Pendidikan S3 akan berpendapat sama. 

Ketika memutuskan untuk mengambil S3, maka kehidupan sosial saya, mau tidak mau ikut berubah. Saya jadi tidak begitu rajin ikut kegiatan sosial, dan kehidupan dalam masyarakat juga ikut berjarak. Tidak ada kumpul-kumpul alumni dan teman-teman, silaturahmi kemana-mana, malas untuk pergi ke pusat keramaian dan lain-lain. Bahkan kehidupan sosial mediapun sangat sedikit, beberapa grup watsap yang ramai, perlahan-lahan mulai dihindari. Bahkan beberapa hobi abadi, seperti menonton sepak bola, membaca manga, membaca novel, main game dan lain-lain, sangat jarang di lakoni. Saya sekarang sudah tidak tahu perkembangan klub-klub sepakbola dunia dan pemain-pemain andal lainnya. Paling tidak hanya tersisa dua pemain, Messi dan CR7, selebihnya sudah pensiun dalam ingatan ini. Betul-betul sebuah kebiasaan baru.

Sebegitukahnya melanjutkan S3 hingga sedemikian rupa berubah kebiasaan hidup selama bertahu-tahun? Mungkin tidak sama bagi setiap orang, tetapi bagi saya ya seperti itulah adanya, rasanya setiap belajar, kepala serasa berasap. Kehidupan normal yang saya jaga hanyalah kehidupan rumah tangga, kehidupan Bersama istri dan anak-anak. Makanya saya ngotot untuk membawa istri dan anak-anak ikut Bersama saya ke negara tempat saya ambil S3, supaya kehidupan normal satu itu tetap terjaga. 

Jika sebelum ambil S3, kehidupan normal bermula dari sebelum dan terkadang sesudah subuh. Bersama istri mempersiapkan anak pergi sekolah, mengantar anak ke tempat orang tua atau mertua, pergi bekerja ke kantor dan ke kampus dan kemudian menjelang maghrib menjemput anak dari rumah neneknya serta berkumpul lagi Bersama keluarga pada pukul delapan dan bersiap untuk tidur pada pukul 10 atau 11 malam. 

Pada masa studi S3, maka kehidupan saya dimulai pada pukul 7 malam. Setelah menjemput istri di kampus (istri juga mengambil S3 di kampus yang sama, tetapi harus masuk laboratorium dari jam 8 hingga 6 sore), dan mengantar istri pulang ke rumah, saya pula yang pergi ke kampus pada pukul 7 atau setelah maghrib. Setelah maghrib saya langsung masuk perpustakaan dan pulang pada jam akhir pustaka. Tidak jarang saya masih duduk di ruangan pustaka ketika lampu perpustakaan mulai di matikan. Setelah sampai rumah pukul 10 lewat, saya mulai menidurkan anak-anak dan setelah mereka semua tertidur, saya lanjutkan lagi pekerjaan saya untuk menyelesaikan disertasi. Mengulas jurnal, menulis artikel, membuat presentasi dan mengolah data penelitian. Dan saya terus lakukan itu hingga sebelum subuh pada pukul 4, dan kemudian membangunkan istri dan anak-anak untuk memulai aktivitas mereka. 

Istri sudah harus saya antar ke kampus pada pukul 5, sebab istri pula memiliki kebiasaan baru dia tersendiri. Lab kampusnya berjarak 75 KM dari lab utama, dan dia harus bersaing dengan mahasiswa lain untuk sekedar dapat duduk di dalam bus, biar bisa melepaskan kantuk walau sebentar. Sedangkan saya pula setelah mengantar istri ke perhentian bus kampus, saya melanjutkan aktivitas dengan mengantarkan anak ke sekolahnya. Setelah mengantar anak sekolah, barulah saya pulang kerumah dan kemudian tidur. Sementara anak saya yang kecil, kadang dia ikut tidur atau bermain sendiri sambil saya temani sampai tertidur.

Menjelang sore, saya pergi lagi menjemput anak sekolah dan kemudian mengantarnya pergi belajar mengaji, setelah itu baru kami pergi menjemput istri di stasiun bus kampus.
Saya juga masih terbayang ketika data penlitian sudah berhasil saya kumpulkan dan kemudian dilakukan pengolahan data. Sesuai proposal, saya menggunakan AMOS untuk pengolahan data, akan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, di bootstrapping lah, di inikan lah, di itukanlah dan segala macam usaha lainnya, hasilnya tidak memuaskan. Bagaimana mungkin kepala tidak berasap kala itu. Setelah akhirnya saya memutuskan menggunakan Smart-PLS, barulah hasil penelitian sesuai dengan harapan. Berarti saya harus mengolah data dari awal lagi. Setelah selesai, saya ajukan ke supervisor, supervisor meminta saya mengubah hipotesis dari satu arah menjadi dua arah, walaupun masih menggunakan data yang sama dan hasil yang juga tidak jauh berbeda, saya terpaksa harus merombak Analisa-analisa yang sudah saya lakukan dan kembali mencari literature untuk mendukung hasil tersebut. Sekali lagi, kepala saya serasa seperti berasap kala itu. 

Kehidupan new normal seperti itu terus saya lakoni hingga akhirnya selesai ujian doctoral. Kenapa pula hingga sedemikian rupa menjalani kehidupan ber S3? Entahlah, yang jelas, dengan keterbatasan yang saya miliki, S3 tanpa beasiswa, bersama istri juga yang S3 tanpa beasiswa serta kemampuan akademik saya yang sebetulnya tergolong rata-rata, saya juga harus mengkondisikan keuangan saya yang juga rata-rata, saya tidak boleh menganggap situasi itu normal. Jika saya bersantai, maka kemungkinan studi saya tidak akan selesai, kalaupun selesai tentu memerlukan waktu yang lama, sehingga pengorbanan yang kami lakukan menjadi sia-sia. Oleh sebab itu, saya bertekad untuk untuk segera menyelesaikan S3 itu dengan cepat, dan untuk itu saya harus hidup di atas batas normal. 

Kehidupan saya kembali normal setelah selesai ujian doctor, baik itu jam tidur, media sosial, jalan-jalan dan lainnya. Malangnya, setelah saya selesai, dunia pula di landa corona, dan kehidupan dilanjutkan dengan kebiasaan yang baru pula.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel