Guru Ini Tantang Para Pengamat Pendidikan Yang Hanya Pandai Teori

Ilustrasi
MENDIDIK PENDIDIKAN
(Kekeliruan kurikulum dan sistem ujian di Sekolah)


Ketika kualitas pendidikan dianggap rendah, kenapa selalu guru dan sistem ujian yang diperdebatkan?
Bagaimana dengan latar belakang keluarga, kesehatan, psikologis, dan ekonominya?
Kenapa orang yang menganggap dirinya paham pendidikan selalu hanya pandai bicara, menulis berpuluh-puluh artikel dan buku, menjadi mentor atau narasumber di berbagai workshop, dan viral di televisi, tetapi sekalipun tidak pernah terjun langsung ke lapangan.
Coba sehari saja pergi ke daerah pinggiran, silakan praktik menjadi guru kelas SD, saya yakin semua artikel dan teori itu akan gugur.

BACA JUGA: Ini Bukti, peran Guru tidak bisa diganti dengan Teknologi Secanggih Apapun

Praktik mendidik tidak seperti yang dibukukan, tidak seperti yang dipertontonkan di acara televisi, tidak seperti yang diperdebatkan di kalangan orang yang dianggap pakar. Pendidikan yang sebenarnya, satu guru mengelola anak satu kelas, satu sekolahan, dengan berbagai macam karakter dan latar belakang. Bukan masalah kurikulumnya, bukan masalah sistem ujian nasional, bukan masalah guru harus suka membaca atau tidak, tapi masalah memahami dan mendampingi anak.
Percuma semua berdebat baik buruknya kurikulum dan sistem ujian, karena setiap daerah berbeda keadaan. Sederhana saja, kalau mau paham tentang gajah, ya, datang ke kebun binatang, lihat langsung dan kalau mau lebih paham, pegang gajah itu. Kalau mau tau tentang gunung, batu, sungai atau laut, ya, datang ke gunung, pegang batu itu, datang ke sungai lihat airnya, dengarkan dan perhatikan langsung bagaimana warna air sungai, rasakan baunya, kalau perlu celupkan kaki atau tangan ke airnya, datang ke laut dan perhatikan bagaimana gemuruh ombaknya, bedakan baunya dan juga rasakan hembusan anginnya.

BACA JUGA: Ini Bukti, peran Guru tidak bisa diganti dengan Teknologi Secanggih Apapun

Mendidik anak tidak bisa dipraktikan sesuai dengan aturan kurikulum, tidak bisa dipaksakan harus diukur dengan nilai dalam kurun waktu yang dibatasi. Setiap anak memiliki kemampuan berpikir dan merespon setiap materi ajar yang berbeda.
Jadi, kalau mau bicara tentang pendidikan, silakan menjadi guru kelas dulu. Ceritakan dalam tulisan apa yang kita alami, itu baru namanya pakar pendidikan.

*catatan dari guru pinggiran, 10 Juni 2020
Sumber: Yusuf Wartin

BACA JUGA: Prof. Yusuf Henuk Bongkar Dugaan Ijazah Bodong Tengku Zulkarnain

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel