Semangat Interfaith Movement Adalah Jembatan Menjalin Kerukunan Antar Umat Beragama Di Indonesia

Semangat Interfaith Movement  Adalah Jembatan Menjalin Kerukunan Antar Umat Beragama Di Indonesia

Pokok Bahasan:

1) Latar Belakang
2) Tinjauan Pustaka
3) Pengertian Agama
4) Tinjauan Tentang Kerukunan Umat Beragama
5) Dialog Lintas Agama
6) Pembahasan
7) Pengalaman Empiris
8) Urgensitas Dialog Lintas Agama.
9) Landasan Prinsip Interfaith Movement

  • Latar Belakang
Fenomena nyata bahwa didalam setiap agama terkandung dua macam kecendrungan ajaran yang tampak saling bertentangan. Pertama kecendrungan yang mengajarkan bahwa agama yang dianut oleh seseorang adalah agama yang paling benar, mutlak, tidak sesat dan menyelamatkan; sedangkan orang-orang yang beragama lain adalah sesat, kafir, celaka dan harus dijauhi atau dibujuk untuk mengikuti agamanya. Kedua, adanya ajaran bahwa setiap orang harus dihormati, dicintai, tidak ada paksaan dalam memeluk agama dan dianjurkan berbauat kebajikan kepada siapa saja; bahkan kebajikan ini dianggap sebagai inti dari ajaran agama. 

Kedua kecendrungan tersebut sangat paradoks, disatu sisi bisa menimbulkan kerukunan dan di satu sisi lagi menimbulkan ketidakrukunan, tetapi berdasarkan dua macam kecendrungan tersebut, Indonesia malah didera banyak ketidakrukunan antar pemeluk agama, kemudian dalam kehidupan bermasyarakat muncul pula budaya agama mayoritas dan minoritas, agama mayoritas lebih punya kuasa sedangkan minoritas tertindas, kemudian hal lain yang manjadi masalah adanya fanatisme, kerusuhan, dan banyak masalah yang membuat kerukunan terganggu. apabila ketidakrukunan umat beragama telah tercederai, maka akan “menggoncang” Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dimana akan terjadi pergejolakan sehingga mengganggu jalannya sistem kenegaraan 

Sejarah perjalanan di negara Indonesia mencatat bahwa berbagai peristiwa ketidakrukunan antar umat beragama telah terjadi di negara agamis Indonesia. Ketidakrukunan itu kerap muncul dalam bentuk ketegangan atar umat beragama, penyalahgunaan kebebasan beragama, konflik, dan pelarangan beribadah, lalu menimbulkan permusuhan bahkan sampai adu fisik. Tahun 2010 lalu tepatnya minggu 12 September terjadi penyerangan terhadap rohaniawan HKBP di RT 003/RW 006, Ciketing Bekasi timur sekaligus tuntutan agar ditutupnya tempat ibadah HKBP tersebut. Pada 14 Januari 2009, puluhan warga merusak masjid kecil milik sebuah keluarga kecil yang sedang dalam tahap pembangunan di desa Sumberduren, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pelaku perusakan beralasan bahwa masjid tersebut tidak memiliki izin. Pada 5 Oktober 2009, sekelompok orang merusak masjid Mubarak di kawasan Mahato, Desa Tanjung Medan, Kecamatan Pujud, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau setelah Hari Raya Idul Fitri. pada tanggal 12 Juni 2012 adanya organisasi masyarakat berbasis agama yang menolak pelaksanaan kongres Konghuchu se-dunia di selenggarakan di Kota Medan yang sejatinya akan dilaksanakan tangal 22 Juni sampai dengan 26 Juni 2012, alasan penolakan tersebut dikarenakan penganut agama Konghuchu di kota Medan hanya sedikit. Kabar lain muncul serangan kepada umat Budha di tanjung Balai, yakni pada Mei sampai Juni 2010 terjadi pergejolakan, bahwa masyarakat sekitar atas nama agama menuntut diturunkannya patung Budha Amitabha Vihara Triratna, Tanjung Balai. Hal ini, dari sekian banyak pelanggaran yang belum ter-ekspose, adalah sebagai refleksi gambaran nyata dari sekian banyaknya kasus ketidakrukunan yang terjadi di negara agamis Indonesia. 

Dari bebagai peristiwa itu memunculkan adanya larangan melakukan ibadah berdasarkan keyakinannya, padahal Undang-Undang Dasar negara kami di Indonesia yakni UU 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2 sangat jelas memberikan kebebasan beragama dengan menyatakan bahwa 

“setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya masing-masing dan kepercayaanya itu; dan” 

“Negara Menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu” 

Dasar negara pancasila juga menyatakan pula bahwa ”Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila pertama ideologi nasional negara ini, Pancasila, menyatakan keyakinan kepada Tuhan yang maha Esa. 

Tampak ironis, ketika semua agama yang dianut masyarakat Indonesia, atau secara khusus yang oleh penganutnya diyakini sebagai dimensi yang paling suci yang membuat kehidupan manusia menjadi sakral atau kudus, ternyata dalam faktanya terjadi konflik antar umat beragama. Agama mengajarkan hal yang baik, yang memberi petunjuk bagaimana moral dijalankan, yang mengajarkan cinta kasih dan persaudaraan justru malah agama yang menyumbang terjadinya konflik dan mencederai kerukunan. Hubungan konflik, saling curiga, fanatisme dan bentuk-bentuk hubungan negatif lainnya muncul dimana-mana. 

Oleh karena peristiwa ketidakrukunan dan konflik antar umat beragama yang silih berganti terjadi di Indonesia maupun, lahirlah usaha-usaha untuk mencegahnya dan menjaganya. Diantara cara yang cukup efektif adalah dialog. Sebagai tindak lanjut dari dialog, ternyata memberikan sutu siatuasi yang melegakan hati. Agama-agama di indonesia menjalin kebersamaan satu dengan lainnya bekerja keras dan saling berupaya untuk mewujudkan persahabatan dan toleransi, dari kebersamaan ini muncul suatu gerakan persahabatan antar umat beragama atau interfaith movement. Karena menyatukan agama menjadi satu keyakinan merupakan usaha yang sia-sia, oleh karenanya harmonisasi dan menjalin persaudaraaan ditengah perbedaan adalah sebuah kebersamaan yang penuh kesahajaan. 

Kalau di Indonesia sudah banyak lapisan masyarakat yang membangun dialog persahabatan lintas agama, seperti youth interfaith, kelompok diskusi lintas agama, kelompok peduli kerukunan dan termasuk ada juga wadah yang difasilitasi pemerintah yakni Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang konsen terhadap kerukunan dan memang tugasnya untuk melakukan dialog lintas agama. 

1. Pengertian Agama 

Pengertian agama tidak bisa dikaji dengan defenisi yang amat lengkap, dimana defenisi agama itu tidak bisa diterima oleh semua orang, selalu ada perdebatan mengenai pengertian agama. Untuk itu perlu pendekatan lain untuk menyamakan persepsi tentang agama, maka pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan unsur. Dimana agama memiliki unsur-unsur tertentu yang semua unsur tersebut bisa diterima oleh semua orang. unsur-unsur utama yang pada dasarnya dimiliki oleh agama ialah ; 

  1. Ada oknum yang disembah ; kadang kala oknum ini disembah sebagai yang ilahi, yang berbeda jauh diluar manusia, yang kudus, yang memiliki kekuatan gaib atau misterius, dewa atau dewi, ataupun Allah. 
  2. Adanya pengakuan, keyakinan dan kepercayaan ; adanya kekuatan gaib yang misterius yang jauh diluar dari manusia, apakah kekuatan itu berbentuk oknum atau tidak, tetapi diresponi manusia dengan kenyataan, rasa hormat dan takut bahkan dengan rasa ketergantungan kepadanya. 
  3. Adanya pemujaan atau penyembahan : pemujaan berarti pengalaman religious yang berbentuk pertemuan antara sipenganut agama dengan yang disembah. Hal ini dilakukan dalam tempat-tempat tertentu yang dianggap mempunyai kaitan erat dengan kekuatan misterius dari yang disembah. 
  4. Adanya realisasi moralitas : maksudnya dalam bentuk usaha untuk menaati aturan-aturan agama yang dianut, manusia diharapkan mampu mengendalikan tingkah laku sehari-hari sesuai dengan ajaran yang dikehendaki oleh agama tersebut. 
  5. Setiap ajaran agama mengandung ajaran keimanan atau kaidah-kaidah azasi yang dipercayai kebenarannya secara mutlak yang dari padanya dijabarkan dalam sistem nilai dan norma hidup bermayarakat, segenap pola sikap dan tingkah laku pribadi. Tuhan Yang Maha Esa (YME) menyatakan kehendak-Nya melalui ajaran agama guna menjadi pegangan umat manusia dalam hidupnya. Ajaran agama memberi pedoman mengenai hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (YME), dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya, termasuk dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan bertanah air yang keseluruhannya itu merupakan ibadah. 
  6. Tuhan Yang Maha Esa menghendaki terjadinya kerukunan diantara sesama umat manusia, tidak menghendaki adanya pertentangan dan permusuhan, melainkan persatuan, persaudaraan dan perdamaian. Umat manusia dengan berbagai agama yang dianutnya adalah mahluk ciptaan Tuhan YME. Dan dengan jalan kebasan manusia dapat memilih jalan yang hendak dipergunakan dalam menyembah Tuhan Yang Maha Esa. 
  7. Agama memberikan nilai-nilai moral dan kaidah-kaidah sosial untuk mengendalikan tingkah laku dalam bermayarakat agar terwujud kedamaian dan tata tertib dalam pergaulan hidup bangsa dan umat manusia. Ajaran agama menyatakan supaya menghormati dan menghargai penganut agama yang berbeda karena berdasarkan kitab suci agama masing-masing semua menyembah Tuhan Yang Maha Esa menurut keyakinannya masing-masing. 
  8. Hakekat agama ialah wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang dituangkan dalam kitab suci/ajaran agama yang berisikan pokok-pokok iman dan hukum-hukum Tuhan Yang Maha Esa yang antara lain mengatur hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa serta hubungan manusia dengan sesama. Agama mengajarkan kebaikan, kerukunan, dan sejahtera secara spiritual dan material. Tidak ada satu agama pun yang menghendaki supaya agama yang berbeda binasa dan sensara, atau menghendaki manusia lain susah dan memderita. 

2. Tinjauan Tentang Kerukunan Umat Beragama 

Untuk mempermudah pemahaman tentang kerukunan antar umat beragama yang berbeda-beda dari tiap agama, perlu diadakannya kesepahaman bersama tentang indikator kerukunan, dalam hal ini indikator kerukunan dirunut dari PBM no 9 dan 8 tahun 2006, Aspek kerukunan dalam PBM tersebut adalah : 
  1. keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi. 
  2. Saling pengertian. 
  3. Saling menghormati. 
  4. Menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya. 
  5. Kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. 

3. Dialog Lintas Agama 

Dialog berasal dari bahawa yunani, dialogus, secara harafiah kata ini berarti dwi-cakap, percakapan antara dua orang atau lebih. Lalu adalam kontks agama ; banyak sekali orang yang menyanjung dialog, macam-macam predikat yang diberikan kepadanya; dialog sebagai suatu langkah iman;dialog sebagai suatu model hubungan manusiawi antar agama; dialog sebagai cara baru beragama;dialog sebagai fungsi kritis beragama dan sebagainya. 

Dialog antar agama adalah pertemuan hati dan pikiran antarpelbagai macam agama. ia merupakan komunikasi antar dua orang beragama atau lebih dalam tingkat agamis. Dialog bukan debat, melainkan saling memberi informasi tentang agama masing-masing, baik mengenai persamaannya maupun perbedaanya. 

Dialog adalah usaha atau kegiatan yang membutuhkan perencanaan yang hati-hati dan perhatian terhadap kepekaan penganut-penganut agama lain. Dalam dialog setiap pasangan berdialog harus saling mendengarkan dengan penuh keterbukaan dan simpatik, berusaha memehami setepat mungkin masing-masing pihak yang berdialog dari dalam. 


C. Pembahasan 

1. Pengalaman Empiris 

Pengalaman empiris penulis bahwa ketika menjalani usia sekolah Dasar (SD), selama kurang lebih 5 tahun, saya tidak pernah tuntas belajar agama di sekolah, ketika masuk jam mata pelajaran agama kami yang laki-laki mengisinya dengan bermain bola di lapangan sekolah sedangkan perempuan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, atau sekedar melirik teman yang beragama lain sedang belajar agama bersama gurunya. Kami tidak pernah tuntas belajar agama karena ketidak adaan guru agama, kalaupun ada guru agama yang mengajar itupun tidak berlangsung lama karena ada indikasi diskriminasi dilingkungan guru-guru sekolah membuat guru agama tidak betah dan memilih keluar. jadi selama kurang lebih 5 tahun kami tidak belajar agama di SD, tetapi ketika menerima rapot nilai agama kami tertera di rapot. kemudian di dalam kelas selama proses belajar semasa SD, kami yang beragama minoritas selalu mengalami diskriminasi dari beberapa guru yang sering menjelekkan ajaran agama kami dan selalu menyudutkan Tuhan yang kami sembah, dan menganggap Tuhan mereka lah yang benar, tetapi karena kami masih anak-anak, kami tidak berani melawan, dan beberapa dari kami hanya melaporkan ke orang tua, kemudian orang tua juga tidak melanjutkannya ke ranah lebih serius, tetapi hanya sebatas membangun gosip dan menjadi angin lalu di tengah-tengah masyarakat, para orang tua kami sebenarnya tahu bahwa kami yang beragama minoritas didiskriminasi di sekolah tetapi hanya pasrah karena kami juga minoritas di desa kami. 

Dari pengalaman empiris penulis tersebut, dapat dimengerti bahwa Dalam praktik beragama dan berkeyakinan, tidak bisa dipungkiri ketegangan sering timbul dalam interen umat beragama dan antar umat beragama, hal ini disebabkan oleh : 

  1. sifat dari masing-masing agama yang mengandung tugas dakwah atau misi 
  2. kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan agama lain. Arti keberagamannya lebih kepada sikap fanatisme dan kepicikan (sekedar ikut-ikutan). 
  3. Para pemeluk agama tidak mampu menahan diri sehingga kurang menghormati agama lain. 
  4. Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. 
  5. Kecurigaan masing-masing akan kejujuran pihak lain, baik interen umat beragama maupun ekstern umat beragama 
  6. Kurang mau mebuka diri dan saling pengertian mengenai masalah perbedaan pendapat. 
  7. Tidak terbinanya dialog atau intervaith movement antar umat yang berbeda agama. 

Maka dari itu, semangat interfaith movement merupakan jembatan untuk bertemunya para pemeluk keyakinan yang berbeda untuk saling berbagi dan saling memahami ditengah perbedaan. Sebab kita berada dalam satu payung negara yang sama, Indonesia, apabila kecemburuan, fanatisme dan saling curiga terus terpelihara dengan baik, maka kita akan menjadi negara yang hancur dari dalam, sebab kehancuran terbesar dari sebuah negara bukan datang dari luar negara, melainkan dari dalam negara itu sendiri. 


2. Urgensitas Dialog Lintas Agama. 

Dialog amatlah penting, dimana perwakilan semua agama dan pihak yang berkonflik tentang agama duduk bersama untuk mencari solusi. Dialog bukanlah debat, melainkan saling memberi informasi tentang agama masing-masing, baik mengenai persamaan maupun perbedaannya. Dialog antar agama tidak sama dengan usaha seseorang untuk meyakinkan orang lain tentang kebenaran agama yang ia peluk atau dialog juga bukan suatu usaha untuk menjadikan semua agama yang berbeda-beda menjadi disatukan, tetapi dialog adalah suatu kerjasama diantara para pemeluk agama yang berbeda. Betapa pentingnya dialog terbina, seperti misalnya dialog lintas agama, dan dialog-dialog agama lainnya. 

Dialog bahkan amat esensial bagi kita yang berada di Indonesia, untuk mengurangi kesombongan, agresivitas dan hal-hal negatif yang terdapat dalam cara-cara kita dalam menyebarkan agama masin-masing, apakah itu misi ataupun dakwah. Dialog juga sangat esensial untuk menghilangkan penilaian-penilaian negatif kita terhadap agama dan kepercayaan orang lain, yang kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak efektif dan tidak pula relevan. 

Sebagai tindak lanjut dari dialog, ternyata memberikan sutu siatuasi yang melegakan hati. Agama-agama di indonesia menjalin kebersamaan satu dengan lainnya bekerja keras dan saling berupaya untuk mewujudkan persahabatan dan toleransi, dari kebersamaan ini muncul suatu gerakan persahabatan antar umat beragama atau interfaith movement. Dari semangat interfath movement inilah pemerintah mengambil momentum yang tepat untuk memfasilitasi kerukunan umat beragama dengan membentuk forum resmi oleh pemerintah; Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dengan dasar Hukum Peraturan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No.9 dan 8 tahun 2006 

Diharapkan semanga interfaith movement ini bisa terjadi dimana mana, diseluruh lapisan masyarakat, baik di kampus, di lungkungan tokoh agama di organisasi tertinggi agama, sehingga dengan ini, diharapkan dunia akan menjadi damai, dunia akan saling menghargai ditengah perbedaan yang ada. Sehingga fanatisme, saling curiga dan pandangan negatif lainnya kalau pun tidak bisa dihilangkan, setidaknya di minimalkan. 

Saya mulai menganggap penting kerukunan ini, mulai sejak saya meneniti skripsi saya tentang kinerja FKUB ini dalam menjaga kerukunan di provinsi saya, Sumatera Utara. Lewat penelitian skripsi ini saya merasa sangat rindu untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mendorong terciptanya kerukunan, dan saya ingin sekali mendedikasikan diri untuk merawat kerukunan ini. Karena saya yakin dari aspek modal sosial, apabila negara rukun, maka negara tersebut akan maju. Saya mau dimana-mana semua bangs akan memaami dan memaknai kerukunan sebagai kebutuhan. 

3. Landasan Prinsip Interfaith Movement 

“Akidah Terjamin, Kerukunan Terjalin” merupakan prinsip dasar yang harus dipahami oleh setiap kita yang memahami pentingnya interaith movement. Akidah ialah kepercayaan dasar, keyakinan pokok dan iman dasar yang dimiliki oleh suatu agama. ada kalanya kecendrungan akidah antar agama satu dengan lainnya berbeda, maka dari itu dalam menjalin persahabatan dengan lintas agama harus menjaga akidah agama masing-masing tetap dipelihara. 

Untuk memelihara akidah tersebut tentu membangun kesepakatan diantara persahabatan antar iman, dengan terjaminnya akidah maka kerukunan antar umat beragama akan terjalin, seiring dengan terpeliharanya rasa saling menghormati dan saling memberi solusi atas setiap pergesekan yang terjadi dalam lalulintas agama yang berlainan. Sehingga apabila prinsip akidah terjamin, kerukunan terjalin dapat terpelihara dengan baik, maka lalu-lintas bernegara dengan dinamika yang kompleks dapat terjalin dengan baik, sehingga kita yang berbeda keyakinan dapat membangun bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan bergandengan tangan. 
Sabam Syahputra Manurung, S.Sos.
 Magister Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Desa (PWD)
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU)
Penulias adalah Pemerhati dan peneliti tentang kerukunan di Provinsi Sumatera Utara. Aktif meneliti kerukunan dan kinerja Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Sumatera Utara pada periode Desember 2014 hingga Mei 2015. Lulus dari Program Study Ilmu Administrasi Negara FISIP USU (2015), saat ini sedang menjalani study magister Program Pengembangan Wilayah dan Desa (PWD) USU.
Makalah ini disampaikan dalam Seminar Call For Paper dengan tema: 
“Seeking the Peace and Prosperity of Our Nation” Yang dilakukan oleh 

Keluarga Mahasiswa Kristiani Pascasarjana (KMK PS) UGM


DAFTAR PUSTAKA 
Buku 
  • AA. Yewangoe. 2002. Agama dan Kerukunan. Gunung Mulia: Jakarta. 
  • Arifinsyah dan Maratua Sumanjuntak. 2011. Peta Kerukunan Umat Beragama di 
  • Sumatera Utara, Perdana Publishing, Medan 
  • Arifinsyah dkk. 2014. Buku Panduan FKUB Sumatera Utara. La tansa Press, 
  • Medan. 
  • Arifinsyah. 2013. FKUB dan Resolisi Konflik, Mengurai Kerukunan antar Umat Beragama di Provinsi Suatera Utara. Perdana Publishing. Medan. 
  • Basrodi dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Rineka Cipta: Jakarta. 
  • Basir Tamala dan Elza Peldi Taher.1996. Agama dan Dialog Antar Peradaban. Paramadina. Jakarta. 
  • Publikasi Setara Institude 2007-2009. 2010. Negara Hasrus Bersikap, Tiga Tahun Laporan Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan di Indonesia 2007-2009. Setara Institude. Jakarta. 
  • Sinulingga, Risnawaty. 2008. Pendidikan Agama Kristen (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian). Pustaka Bangsa: Medan. 
  • Syafa’atun Elmizanah, Dkk. 2002. Pluralisme, Konflik dan Perdamaian (study Bersama Antar Iman) Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 
  • Syafi’i Mufid Ahmad.2014. Kasus-kasus aktual kehidupan keagamaan di Indonesia. Kemenag RI. Puslitbang kehidupan keagamaan. Jakarta. 
Jurnal dan Majalah 
  • Balitbang Kemetrian Agama, Peranan Forum Kerukunan Umat Beragama Dalam Pelaksanaan Pasal 8,9 dan 10 Peraturan Bersama Menteri agama dan Menteri Dalam Negri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006. 2010. Maloho Jaya Abadi Press : Jakarta. 
  • Media Kerukunan Edisi XII April-Juni 2013, Hal. 10-20.Konsep Kerkunan Hidup Beragama Dalam Kitab suci Agama-Agama Di Indonesia. Dan hal 21-23. Kerukunan Umat Beragama Di Sumatera Utara. 
  • Puslitbang Kekidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat, Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006. Jakarta; Departemen agama RI.2006. 
  • Peraturan Pemerintah dan UU 
  • Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen ke-IV 
  • Peraturan Bersama Menteri (PBM) Agama dan Menteri Dalam Negreri Nomor 9 & 8 ahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, Dan Pendirian Rumah Ibadat. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel