Denny Siregar: "Drama Bintang Emon" Mirip Propaganda Penggulingan Hosni Mubarak di Mesir

Pegiatliterasi.com - Bintang Emon benar-benar menjadi bintang dalam kasus Novel Baswedan. Karena Vlognya yang mengkritik JPU karena hanya memvonis ringan pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, yaitu 1 tahun penjara. 

Pegiat media sosial kawakan, Denny Siregar angkat bicara mengenai viralnya Vlog Bintang Emon yang menimbulkan pro dan kontra. Seperti Biasa, Denny Siregar muncul dengan analisanya yang tak pernah terpikirkan oleh orang awam.

BACA JUGA: Muncul Desakkan: MUI Segera Pecat Tengku Zulkarnain Si "Doktor Palsu"

Menurut Denny, Drama Bintang Emon ini, mirip dengan propaganda yang dilakukan ISIS di Mesir, yang bisa mengambil peluang di tengah ambruknya Hosni Mubarak. Ada kelompok tertentu yang membuat drama dalam vidio Bintang Emon. 

Hasil analisa Denny, dalam Drama Bintang Emon, ada satu kelompok yang berpura-pura terlihat dua kelompok, yakni kelompok yang "mengatasnamakan pemerintah" yaitu kelompok yang menyerang Emon karena kritik pemerintah. Kelompok yang kedua, yaitu kelompok yang mendukung Vlog Bintang Emon. Namun, lanjut Denny, itu hanya permainan para Kadrun saja. Sesungguhnya, itu hanya propaganda dari satu kelompok saja, yaitu, kelompok Radikal yang selama ini ingin jatuhkan Jokowi. Mereka hanya  berpura-pura terpecah dalam dua kubu. Dengan tujuan untuk membesar-besarkan vlog Bintang Emon. 

BACA JUGA: Belajar Dari Kematian Didi Kempot, Ashraf Sinclair, Ireng Maulana dan Adjie Massaid

Menurut Denny, "begitulah model perang kita sekarang. Bukan lagi memakai senjata, tetapi bagaimana memainkan opini di tengah massa. Harus saya akui kelompok-kelompok radikal dari Timur Tengah sangat jago memainkan media sosial. Ini dibuktikan dengan naiknya pamor Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang bisa mengambil peluang di tengah ambruknya Hosni Mubarak. Atau ISIS yang memainkan propaganda bahwa mereka adalah khalifah yang ditunggu-tunggu umat Islam". Tulisnya.

Propaganda Dari Vlog Bintang Emon, Mahasiswa Hingga Buruh



Denny mengatakan, kaum Kadrun ini sasarannya Jokowi. Mereka berpura-pura menjadi dua kelompok yang pro dan yang kontra terhadap vlog Bintang Emon yang kritik hukuman ringan kepada penyiram Novel. Ada yang sengaja menyerang Emon, ada juga yang  membela. Semakin hari, semakin diperbesar agar opini massa terbentuk. Kelompok yang sengaja menyerang Emon mengatasnamakan diri "kubu pemerintah". Sehingga mereka menyerang Emon secara membabi buta. Dengan demikian, akan memancing simpati dari penggemar Emon yang paling banyak dari mahasiswa atau Millenial. Sehingga, ujung-ujungnya langkah berikut, opini "pemerintah yang otoriter" bakal dipermainkan lagi. maka ujung-ujungnya Jokowi lagi. Padahal itu permainan mereka semua. 

Selanjutnya, kelompok ini bakal menunggangi UU  UU Omnibus Law untuk gerakkan agar demo pemerintah yang tidak pro terhadap buruh dan pekerja. Maka lengkaplah rencana mereka, Mahasiswa dan buruh akan bersatu karena mereka tahu, kedua kelompok massa ini sama-sama kuat dan mungkin untuk gukingkan pemerintah. 


Berikut hasil analisa Denny Siregar yang dikutip dari Tagar.id:

"Jokowi, setahap demi setahap, mereka bangun citranya sebagai seorang yang otoriter bahkan lebih otoriter dari rezim Soeharto. Kenapa harus begitu? Ini strategi untuk membangkitkan perlawanan seperti saat peristiwa 98. Dan seperti kita tahu, bahwa demo besar harus melibatkan dua unsur penting, yaitu buruh dan mahasiswa.
Ketika dua unsur itu ikut bergerak dengan jumlah massa yang besar, maka potensi kerusuhan sudah tampak di depan mata. Pentingnya komika seperti Emon, yang saya anggap sebagai korban dari permainan medsos saja, adalah karena dia banyak penggemar dari kalangan mahasiswa.

Dengan membangun opini bahwa dia dibungkam, maka diharapkan stigma bahwa Jokowi adalah pemimpin otoriter semakin menguat di kalangan mahasiswa. Dan strategi ini dibangun para pendukung Novel yang juga pendukung KPK pada masa lalu saat dia masih berkuasa di sana.
Nah, si penyerang komika, yang sebenarnya bagian dari mereka juga itu, mereka stigmakan sebagai BuzzeRp, yaitu alat Jokowi untuk membungkam kebebasan berpendapat.
Supaya makin drama, mereka membuat poster di mana Emon dan Novel mendadak disamakan dengan para aktivis yang benar-benar dibungkam seperti Marsinah, Munir, bahkan Widji thukul.
Dibangunlah narasi pemberontakan yang nanti akan berujung pada kata LAWAN!

Oke, pertanyaannya... ke mana ini ujungnya? Apakah selesai sampai di sini saja? Belum. Mereka punya agenda besar yang sedang disiapkan sebagai satu aksi massa besar yang diharapkan akan memicu kerusuhan, yaitu saat UU Omnibus Law kelak akan dikeluarkan. UU Omnibus Law ini adalah UU untuk melindungi investasi di dalam negeri".

Dengan Omnibus Law, peraturan-peraturan investasi di daerah yang ribuan jumlahnya dan tumpang tindih akan disatukan dalam satu peraturan supaya lebih ramping dan menarik minat investasi asing.

Kalau Omnibus Law ini keluar, mereka akan menggerakkan barisan buruh yang merasa terancam, dengan barisan mahasiswa yang merasa simpati dengan buruh, dan sudah pasti kelompok kanan berbaju agama akan ikut memanaskan situasi dengan membesarkan skala massa dan kerusuhan.
Dan semua ini nanti akan menyatu dalam bangunan opini, bahwa rezim Jokowi harus dijatuhkan karena otoriter dan kejam, seperti saat menjatuhkan Soeharto tahun 1998.
Sudah dapat gambar besarnya? Jangan lengah, kita harus waspada selalu. Semua gerakan kecil itu akan dibangun dalam satu gelombang besar pada wakunya nanti". 
BACA JUGAAksi Nyentrik Bupati Luwuk Utara Yang Jadi Sorotan


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel