Asal-Usul Sentral Peternakan Besipae di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur

sejarah sentral peternakan besipae di NTT

Sejarah Sentral Peternakan Besipae di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur

(versi Masyarakat dan Tokoh Adat Besipae)
Akhir-akhir ini, kampung Besipae di TTS menjadi populer karena demo "telanjang dada" oleh mama-mama Besipae dalam "menyambut" kunjungan gubernur NTT, Viktor Laiskodat.  Mereka menolak rencana pemerintah untuk menjadikan Besipae sebagai sentral peternakan dan lahan kelor terbesar di NTT. Wajar saja masyarakat khawatir karena kebiasaan selama ini, banyak orang datang dengan segala janji "sorga", namun akhirnya hanya "neraka" yang mereka nikmati. Lahan mereka di caplok seenaknya oleh para pendatang yang menjanjikan kesejahteraan, namun ujung-ujungnya merampas hak atas tanah mereka. Jadi, kalau masyarakat demo penolakan sampai telanjang dada, itu hal wajar. Jadi tidak perlu tindakan lebay seperti yang dilakukan Karo Hukum Setda NTT, berencana melaporkan mama-mama yang telanjang dada ke Polisi. Lebaylah.....!!!!!!!!!! 

Sedikit Catatan tentang Besipae
Besipae terletak di Desa Mio, TTS adalah lahan peternakan terbesar di NTT. Secara pribadi, penulis sangat setuju dengan rencana pemerintah untuk jadikan Besipae sebagai sentral peternakan dan kelor terbesar di NTT. Karena dari dulu, gubernur sebelumnya, kita sudah dikenalkan dengan slogan "NTT Provinsi Ternak dan Jagung" namun masih dalam angan-angan dan belum terwujud. Semoga dengan kehadiran Paket Viktor-Joss, NTT semakin "JOSS" menjadi provinsi ternak. 

Warga sering sebut Besipae sebagai Tanah Besipae bukan Hutan Besipae seperti yang selama ini sering kita dengar. Berdasarkan penuturan tetua di sana, awal mulanya, tanah Besipae yang sekarang dijadikan sentral Peternakan oleh pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur, dipinjam pakai (ingat, dipinjam pakai) oleh Pemerintah. Atau dengan kata lain Hak Guna Usaha (HGU) sejak tahun 1987 sampai tahun 2012.
Pada Tahun 1987, pemerinta RI lewat Bappenas, bekerja sama dengan pemerintah Australia melalui program Ausaid sepakat untuk mengembangkan ternak di NTT. Hal ini karena Pulau Timor merupakan salah satu Gudang Ternak di NTT. Maka dari itu, Gubernur NTT waktu itu bapak, Alosius Benediktus Mboy atau populer dengan Ben Mboy menginstruksikan kepada masyarakat adat Bena agar menyerahkan tanah mereka untuk dijadikan proyek percontohan Ternak oleh Ausaid. Tetapi sayangnya, program itu tidak berkembang. Akhirnya tinggal kenangan saja, karena NTT sebgai Gudang Ternak, hilang ternaknya. Salah satu penyakit karena ternak banyak yang mati dan dicuri. Makanaya, yang ditinggalkan Gudangnya saja, yang sekarang jadi Hutan Besipae.

Semoga semua masalah, bisa terselesaikan dengan baik tanpa ada yang tersakiti. DPRD TTS dan DPRD NTT serta DPR RI dapil NTT sekiranya turun tangan untuk bersama-sama menyelesaikan masalah miskomunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Berharap masyarakat tidak terlalu khawatir dan pemerintah juga tidak terlalu agresif kepada masyarakat. Pasti semua akan jadi baik dan aman kalau dikomunikasikan dengan baik dan tepat. 

BACA JUGA: 12 Catatan Sejarah Tentang Proses Panjang Tanah Besipae Versi Temuku Naek Nifuneke

Sudah saatnya Rakyat sebagai Subyek Pembangunan bukan sebagai obyek akhirnya pengelola proyek yang kaya raya dan Rakyat mendapat predikat KK Miskin dan diwariskan ke Anak cucu dan selalu mendapat Proyek Kemiskinan setiap tahun. Ayo Anggota Dewan kamu bisa!

BACA JUGA:
Cerita di Balik Pembentukan Provinsi NTT, Awalnya Ingin Dirikan Provinsi Flores

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel