Hak Asasi LGTB dan Problematika Dunia Kesehatan

Human Rights and Well-Being“Kaum Minoritas Seksual dan Dunia Kesehatan“

It is during our darkest moments that we must focus to see the light - Aristotle Onassis
It's wrong to deprive someone else of a pleasure so that you can enjoy one yourself, but to deprive yourself of a pleasure so that you can add to someone else's enjoyment is an act of humanity by which you always gain more than you lose -Thomas More, Utopia
Life is a song - sing it. Life is a game - play it. Life is a challenge - meet it. Life is a dream - realize it. Life is a sacrifice - offer it. Life is love - enjoy it. - Sai Baba

Beberapa hari yang lalu, kita semua dikejutkan dengan berita tertangkapnya salah seorang artis tersohor di Indonesia atas tuduhan melakukan pencabulan terhadap seorang remaja pria.Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan bahwa tersangka memiliki masalah dalam orientasi seksual. Atas tindakannya tersebut, tersangka dijerat dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 82 ayat 2 dengan ancaman pidana penjara maksimal 15 tahun dan denda paling banyak tiga ratus juta rupiah. Ini adalah salah satu kisah dari sekian cerita yang memicu pertentangan dan argumentasi dari berbagai pihak tentang merebaknya isu LGBT (lesbian, gay, bisexual & transgender) di Indonesia.
Sejak penghujung tahun 2015, isu LGBT sudah mulai menghangat; sejumlah negara telah melegalkan pernikahan pasangan sejenis (Carrara, 2012)(Kole, 2007). Ada pihak-pihak yang menentang dengan keras, namun ada juga yang mulai “memaklumi” kaum-kaum tersebut di Indonesia.Isu LGBT sebenarnya hanyalah lapisan luar dari sebuah kenyataan bahwa fenomena ini bukan hanya dilihat sebagai sampah masyarakat dan ancaman akan identitas budaya dan kebangsaan Indonesia. Isu LGBT begitu luas, sehingga sangat disayangkan apabila banyak pihak yang hanya melihatnya dari satu perspektif saja. Tulisan ini dimaksudkan bukan untuk membenarkan maupun menentang praktik LGBT di Indonesia, namun agar kita mampu untuk melihat isu ini dari sisi yang berbeda, dari sisi mereka sebagai suatu individu yang memiliki entitas di negeri ini.

Baca Mini paper lainnya >>> DISINI

Salah satu sisi yang cukup menarik untuk dilihat dalam mencuatnya isu LGBT di Indonesia adalah masalah kesehatan. Bagaikan sebuah koin yang memiliki dua sisi, isu LGBT di satu sisi adalah sebuah disorientasi seksual, namun di sisi lain keberadaan mereka juga menjadi duri dalam daging bagi diri mereka sendiri. Berbagai tekanan emosi dan kekerasan tak jarang sering dialami oleh kelompok ini.Berbagai masalah kesehatanpun akhirnya bertambah, mulai dari merebaknya berbagai penyakit infeksius, penyakit menular seksual sampai meningkatnya angka kematian akibat bunuh diri.Sejauh ini, data yang didapatkan oleh penulis sebagian besar dilaporkan dari luar Indonesia. Belum adanya laporan dari Indonesia bukan berarti sama sekali tidak ada kasus kekerasan maupun kaum LGBT, akan tetapi karena kurangnya sistem pelaporan yang komprehensif untuk menggambarkan besarnya beban kesehatan yang berkaitan dengan kaum LGBT.

You can't blame gravity for falling in love - Albert Einstein

            Berbicara tentang isu LGBT, maka kita tidak akan terlepas dengan kaum minoritas seksual. Kaum minoritas seksual adalah suatu istilah umum yang didalamnya mengacu pada kaum LGBT.Kaum minoritas seksual dapat diartikan sebagai kelompok individu yang memiliki identitas, orientasi maupun praktik seksual yang berbeda dan sering dianggap tidak lazim oleh masyarakat pada umumnya (Math, 2013).Mereka dikatakan sebagai kaum minoritas, karena memiliki pola dan orientasi dan yang berbeda dari sebagian besar populasi yang ada di sekitar mereka.


Sexual Minority Youth ~ those who identify as gay, lesbian or bisexual or who have sexual contact with persons of the same or both sexes – are part of every community and come from all walks of life. They are diverse, representing all races, ethnicities, socioeconomic statutes and parts of the country   -Centers for Disease Control & Prevention-


Bagi sebagian masyarakat Indonesia, masalah seksualitas masih dianggap sebagai suatu hal yang sakral dan sensitif, sehingga bila terjadi pola perilaku seksual yang berbeda tentunya akan memicu beragam reaksi. Hal ini semakin diperberat dengan munculnya berbagai stigma dan stereotipe yang melekat pada kaum ini.Dengan melihat besarnya isu perbedaan yang terkandung di dalamnya, maka kaum minoritas seksual dapat dikatakan sebagai populasi yang rentan.

Kaum minoritas seksual rentan akan penolakan dari berbagai lapisan masyarakat (Carrara, 2012)(Kole, 2007). Tidak jarang masalah ini bisa meluas sampai ke kancah politik.Kaum ini biasanya mengalami kesulitan dalam  mengakses berbagai fasilitas publik dan sering mengalami diskriminasi dalam perlakuan (Tabaac, 2015). Adanya diskriminasi ini akan mencetuskan suatu pola kehidupan yang tertutup dan homogen, sehingga mereka hidup dalam tekanan sosial. Hal ini juga berpengaruh buruk pada tingkat kehidupan ekonomi yang pada akhirnya akan berujung pada meningkatnya angka kriminalitas.

I claim that human mind or human society is not divided into watertight compartments called social, political and religious. All act and react upon one another. - Mohandas K. Gandhi


Suatu studi menggambarkan bahwa wanita yang termasuk dalam kaum minoritas seksual yang memiliki akses ke fasilitas kesehatan terbatas yang diakibatkan oleh diskriminasi maupun perasaan tidak nyaman bila harus memeriksakan diri ke petugas medis dan menjelaskan pola kehidupan pribadi dan seksualitasnya (Tabaac, 2015).Adanya perasaan rendah diri sebagai warga negara kedua, membuat mereka merasa enggan untuk terbuka terhadap masalah-masalah kesehatan yang mereka hadapi, walaupun terkadang merupakan hal yang sangat serius.Hal ini akan berdampak pada meningkatnya risiko kematian akibat penyebaran penyakit-penyakit yang menular maupun yang tidak menular, karena minimnya tindakan pencegahan dan pengobatan dini yang seharusnya dapat dilakukan oleh petugas medis.

In many settings, the link between social exclusion & HIV risk is clear: discrimination in education and employment will result in limited income opportunities, which in turn, leads to sex work and increased HIV risk-Global Health Learning Center - 

Berbagai jenis tekanan yang dirasakan oleh kaum minoritas seksual tidak hanya dirasakan sampai disitu saja.Gibbs menyatakan bahwa sekitar 48% kaum minoritas seksual memiliki kesulitan untuk mendiskusikan masalah seksualitas mereka dengan orang tua (Gibbs, 2015).Kurangnya dukungan bahkan reaksi penolakan dari orang tua menimbulkan suatu keadaan tekanan mental yang berkepanjangan (stres kronik) bagi kaum minoritas seksual, dimana sebagai individu mereka tidak memiliki rasa aman dan dilindungi dari bahaya yang mengancam.Data lainnya juga menyebutkan bahwa sebanyak 42% kaum minoritas seksual meninggalkan agamanya karena merasakan adanya konflik internal antara keimanan dan seksualitasnya (Gibbs, 2015).Adanya perubahan status dan konflik internal merupakan suatu perjuangan tersendiri bagi kaum minoritas seksual, apalagi bila mereka harus berjuang seorang diri untuk melewatinya.

We know what we are, but know not what we may be - William Shakespeare

Tekanan emosi yang dirasakan oleh kaum minoritas seksual tidak hanya berakhir sampai di situ saja.Mereish et al melaporkan bahwa kaum ini juga mengalami kekerasan verbal dan kekerasan fisik (Mereish, 2014).Dalam suatu studi kualitatif terhadap kaum minoritas seksual, sebanyak 83% responden menyatakan bahwa stereotipe biseksual memengaruhi kehidupan pribadi mereka dan bahwa adanya stigma memiliki hubungan yang signifikan dengan gejala depresi yang timbul pada responden (Bostwick, 2012). Selain itu, masalah lain yang juga dihadapi oleh kaum minoritas selain stigma, yaitu reaksi penolakan dan biphobia yang memperburuk gejala depresi (Bostwick, 2012).Reaksi penolakan dan kekerasan yang dialami oleh kaum minoritas seksual merupakan sebuah pelanggaran hak asasi manusia, karena mereka sejatinya sebagai individu memiliki hak untuk dihargai dan mendapatkan penghidupan yang layak.

Life is a dream for the wise, a game for the fool, a comedy for the rich, a tragedy for the poor - Sholem Aleichem

Berbagai situasi ini menimbulkan suatu tekanan mental yang berlipat ganda dan berujung pada suatu kondisi depresi yang mendalam.Depresi yang mendalam dapat memicu timbulnya ide  dan usaha untuk melakukan bunuh diri. Pada populasi umum, kaum minoritas seksual memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri yang jauh lebih tinggi.Dan dari kaum minoritas seksual sendiri, kaum biseksual memiliki kecenderungan dua kali lipat untuk melakukan bunuh diri dibandingkan kaum homoseksual (gay dan lesbian) (Mereish, 2014).Usaha untuk bunuh diri juga didapatkan lebih tinggi secara signifikan pada kelompok yang pernah mengalami kekerasan verbal dan kekerasan fisik (Mereish, 2014).Hal ini menggambarkan suatu hubungan kausa yang jelas antara riwayat kekerasan sebelumnya dengan tingkat bunuh diri pada kaum minoritas seksual.

The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched - they must be felt with the heart - Helen Keller

Kerangka Konsep Pola Kesehatan Mental Kaum Minoritas Seksual

Gambar 1. Kerangka Konsep Pola Kesehatan Mental Kaum Minoritas Seksual
(Tabaac, 2015)(Mereish, 2014)(Bostwick, 2012)(Gibbs, 2015)


Bagan di atas adalah merupakan rangkuman dari perjalanan kondisi mental kaum minoritas seksual.Secara garis besar, walaupun tidak langsung, masyarakat memiliki andil dalam peningkatan kasus depresi dalam kaitannya dengan diskriminasi dan isolasi dari lingkungan sosial. Adanya gangguan depresi pada kaum minoritas seksual merupakan suatu perpaduan dari sejumlah proses yang memengaruhi kondisi psikis mereka dalam kaitan identitas mereka yang berbeda dengan sebagian besar masyarakat di sekitarnya.

Stigma dan pengucilan karena orientasi seksual yang berbeda merupakan wujud diskriminasi sosial yang akan membuat kaum minoritas seksual terisolasi dari lingkungan luar. Hal ini akan berdampak pada minimnya akses berbagai fasilitas publik selain juga karena takut untuk mengalami kekerasan verbal maupun fisik dari lingkungan sekitarnya. Kaum minoritas seksual akan mengalami tekanan yang terus berkelanjutan, mengalami krisis kepercayaan diri dan krisis akan identitasnya, yang pada akhirnya akan berujung pada depresi. Lingkungan yang terkungkung dan kurangnya dukungan dari keluarga akan memperparah kondisi mental, yang pada akhirnya berujung pada usaha untuk bunuh diri.
            Pola diskriminasi terhadap kaum minoritas seksual adalah bagaikan suatu lingkaran kematian.Mereka terus hidup dalam lingkungan mereka tanpa memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk menolong karena takut ditangkap oleh pihak kepolisian. Jika mereka terus hidup dalam kungkungan kegelapan ini, maka selama itu pula kasus depresi yang berujung pada kematian akan terus meningkat. Kasus kematian yang diakibatkan oleh bunuh diri kadang dianggap sebagai akibat dari beratnya tekanan ekonomi yang terus membebani seseorang.Pelacakan kasus kematian akibat bunuh diri belum dilakukan secara komprehensif untuk menilai sebab-musabab yang lebih jauh yaitu tekanan sosial yang mungkin jauh lebih besar daripada tekanan ekonomi yang dihadapi.Sayangnya, pendekatan psikologi forensik pada kasus-kasus seperti ini belum dilibatkan secara maksimal.
            Isu homophobia yang mulai merebak semakin memperkeruh keadaan.Ketakutan dan sikap antipati terhadap kaum minoritas seksual semakin meluas yang pada akhirnya mengakibatkan kelompok ini semakin terpinggirkan.Faktanya adalah kaum minoritas seksual sebenarnya adalah populasi kunci untuk pelacakan berbagai penyakit infeksius yang terus meningkat seiring dengan besarnya arus globalisasi masa kini.

In the rest of the world, the HIV pandemic is largely concentrated among groups such as sex workers, people who inject drugs & male sex with male. Transgender people are also often at high risk. These groups are sometimes referred to as key population
-Global Health Learning Center -


Dalam menunjang pencapaianSustainable Development Goalstahun 2030, Indonesia sepertinya masih perlu untuk terus berbenah dan bekerja secara lebih keras untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.Salah satu isu yang masih diperjuangkan adalah kesehatan. Indonesia memiliki beban ganda dalam mengatasi masalah kesehatan, karena selain berjuang dengan banyaknya penyakit degeneratif (penyakit jantung, kolesterol, diabetes, dbs) di daerah perkotaan, Indonesia juga di sisi lain sedang tertatih-tatih berjuang melawan penyakit-penyakit infeksius yang mengancam penduduknya, terutama yang hidup dalam garis kemiskinan.
Penyakit infeksi seperti tuberkulosis, malaria dan HIV/AIDS masih saja menjadi momok yang menyeramkan di kalangan petugas kesehatan. Besarnya beban penyakit ini merupakan suatu keadaan yang dapat mengakibatkan gangguan stabilitas pada kehidupan perekonomian yang pada akhirnya akan meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia. Pendekatan klasik yang hanya melibatkan fasilitas kesehatan tingkat primer saja tidak cukup, mengingat tidak semua memiliki akses yang sama mudahnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, adanya suatu pola pendekatan yang khusus perlu dipertimbangkan.


Pendekatan Kesehatan Masyarakat berbasis Kaum Seksual Minoritas
Gambar 2. Pendekatan Kesehatan Masyarakat berbasis Kaum Seksual Minoritas


Keberadaan kaum minoritas seksual di Indonesia sudah seharusnya dilihat dalam lingkup pemikiran yang lebih luas.Meskipun masih banyak kontroversi yang timbul, kaum minoritas seksual dalam perspektif kesehatan pencegahan memiliki andil yang cukup besar.Sebagai populasi kunci kaum minoritas seksual memiliki peran yang cukup signifikan dalam melakukan pemetaan population at risk, yaitu mereka yang memiliki risiko yang tinggi untuk terinfeksi dengan berbagai penyakit menular seperti HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.Keberadaan kaum minoritas seksual dapat menjadi tolak ukur perkembangan upaya pencegahan penularan penyakit menular terutama di kelompok yang tidak terjangkau oleh kriteria inklusi program pemerintahan.

Kaum minoritas seksual yang dilatih dan diperlengkapi dengan baik dapat menjadi rantai pelacakan sumber infeksi yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia adalah bagaikan fenomena gunung es, sehingga yang sering terlaporkan hanya mereka yang memeriksakan diri dan dirawat di klinik.Pada kenyataannya, kelompok terbesar penderita HIV/AIDS adalah mereka yang tidak kasat mata, oleh karena adanya isolasi dan penolakan dari masyarakat sekitar akibat stigma yang melekat pada diri mereka. Kaum minoritas seksual sebagai populasi kunci merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk melihat alur dan arus perpindahan penyakit antar suatu porte d’entrée ke pejamu dan kemudian menjadi porte d’entrée berikutnya untuk menginfeksi pejamu yang lain.

Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan lembaga-lembaga bantuan kesehatan luar negeri telah memiliki sejumlah program untuk memberantas penyakit-penyakit menular seksual. Akan tetapi, tidak adanya proses monitoring dan evaluasi yang baik membuat program-program yang sudah tersusun dengan rapi tersebut seperti tidak memberikan hasil yang signifikan untuk bangsa Indonesia. Seperti yang dijelaskan pada gambar 2, keikutsertaan kaum minoritas seksual akan membantu lembaga-lembaga bantuan kesehatanuntuk melakukan evaluasi keberhasilan pelaksanaan program-program pencegahan, karena merekalah yang paling mengetahui dan bersinggungan secara langsung dengan situasi yang terjadi di lapangan.Lembaga kesehatan internasional seperti WHO dan lembaga-lembaga lainnya telah sejak lama merancangkan berbagai pendekatan yang khusus dalam pengendalian penyakit menular (khususnya HIV/AIDS) yang bekerjasama dengan kaum minoritas seksual.

Suatu program kesehatan yang baik tidak akan bermanfaat jika tidak mampu mencapai target sasaran yang diinginkan. Pendekatan kesehatan masyarakat bekerjasama dengan kaum minoritas seksual akan membantu instansi-instansi terkait untuk mengetahui kebutuhan yang primer di lapangan dan dapat memberikan masukan dalam pengembangan kegiatan selanjutnya. Adanya pelibatan kaum minoritas seksual juga secara tidak langsung merupakan bagian dari pemberdayaan dan peningkatan kualitas mereka sebagai individu dalam masyarakat.



Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony - Mohandas K. Gandhi


Dalam mengatasi beban kesehatan yang semakin meningkat, Indonesia tidak bias hanya diam saja dan bekerja sendiri-sendiri. Di satu sisi, keberadaan kaum minoritas seksual juga tidak bisa kita abaikan.Terlepas adanya kontroversi dari berbagai sudut pandang, mereka di satu sisi adalah manusia yang tidak bisa tidak kita akui keberadaan mereka dan di satu sisi pula mereka secara hukum adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dalam mengatasi beban kesehatan ini, diperlukan suatu usaha dan kerjasama yang komprehensif, yang mampu untuk melibatkan semua pihak, tanpa terkecuali.

Baca Mini paper lainnya >>> DISINI

Correction does much, but encouragement does more - Johann Wolfgang von Goethe

Dalam hal ini kita diperhadapkan pada dua sisi yang penting, yaitu melihat Indonesia dan masalah kesehatan yang dihadapinya secara global atau melihat kaum minoritas seksual dan masalah kesehatan mental sebagai konsekuensi mereka sebagai individu. Tergantung kita melihatnya dari sisi yang mana, dan tergantung kita menggunakan kacamata berpikir seperti apa, tetapi seperti itulah keadaan yang terjadi sekarang ini. Dengan dunia yang terus berubah bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan dan menghakimi, akan tetapi sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 tujuan negara Indonesia sebagai bangsa yang besar, lakukanlah yang terbaik untuk kemajuan negara ini dan untuk kemaslahatan bersama.

To deny people their human rights is to challenge their very humanity.
Nelson Mandela

When freedom does not have a purpose, when it does not wish to know anything about the rule of law engraved in the hearts of men and women, when it does not listen to the voice of conscience, it turns against humanity and society.

Pope John Paul II
You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.
Mahatma Gandhi

Sumber: Disesuaikan dari tulisan Leonardo Alfonsius Paulus Lalenoh, MD,Gadjah Mada University, Yogyakarta
Makalah ini disampaikan dalam Seminar Call For Paper dengan tema: 
“Seeking the Peace and Prosperity of Our Nation” Yang dilakukan oleh 

Keluarga Mahasiswa Kristiani Pascasarjana (KMK PS) UGM


Daftar Pustaka:
Tabaac AR, Perrin PB, Trujillo MA: Multiple Mediational Model of Outness, Social Support, Mental Health, and Wellness Behavior in Ethnically Diverse Lesbian, Bisexual, and Queer Women. LGBT Health 2015; 2:243-249. DOI:10.1089/lgbt.2014.0110

Carrara S: Discrimination, policies, and sexual rights in Brazil. Cad. Saúde Pública 2012; 28(1):184-189

Mereish EH, O’Cleirigh C, Bradford JB: Interrleationships between LGBT-Based Victimization, Suicide, and Substance Use Problems in a Diverse Sample of Sexual and Gender Minority Men and Women. Psychol Health Med 2014; 19(1). DOI:10.1080/13548506.2013.780129

Bostwick W: Assessing Bisexual Stigma and Mental Health Status: A Brief Report. J Bisex 2012; 12(2):214-222. DOI:10.1080/15299716.2012.674860

Math SB, Seshadri SP: The invisible ones: Sexual minorities. Indian J Med Res 2013; 137(1):4-6. PMCID: PMC3657897

Gibbs, JJ: Religious Conflict, Sexual Identity, and Suicidal Behaviors among LGBT Young Adults. Arch Suicide Res 2015; 19(4):472-488. DOI:10.1080/13811118.2015.1004476

Kole, SK: Globalizing queer? AIDS, homophobia and the politics of sexual identity in India.Globalization and Health 2007; 3(8). DOI:10.1186/1744-8603-3-8

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel