Deklarasi Kairo Menjawab Kontroversi Larangan Ucapan Selamat Hari Raya Kepada Non Muslim

Benarkah-Tidak-Ada-Dalil-Yang-Melarang-Ucapan-Selamat-Natal-

Kontroversi Larangan Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Non Muslim

Ucapan Selamat pada Hari Raya besar keagamaan  Kepada sesama umat beragama pada hari raya besar masing-masing agama adalah sesuatu yang menggambarkan kebersamaan, keharmonisan, dan kepedulian sekaligus toleransi antar umat beragama di tanah air bahkan seluruh dunia. Hari Raya besar keagamaan yang dimaksud, antara lain hari raya Nyepi dan galungan bagi umat Hindu, Hari Raya natal dan paskah bagi umat kristen protestan dan katolik, hari raya idul fitri dan idul adha untuk umat Islam, hari raya Imlek bagi umat Kong Hu Cu, Hari raya Waisak dan Kathina bagi umat Budha. 


Namun, terkadang ucapan itu dianggap sebagai "perbuatan dosa yang melanggar ajaran agama oleh kelompok-kelompok tertentu yang merasa diri paling paham agama, paling beriman dan paling dekat dengan pintu sorga." Kelompok-kelompok dimaksud merasa diri seperti mereka sudah mengkapling sorga untuk kaum mereka sendiri. Karena itu, mereka merasa tercemar kalau berikan ucapan selamat untuk sesama suadara mereka. Kaum-kaum itu seakan lupa bahwa mereka masih di hidup di dunia dengan latar belakang agama dan profesi yang berbeda-beda. Mungkin mereka tidak butuh orang lain yang berbeda dalam agama, namun jangan lupa bahwa kita masih saling membutuhkan dalam kemanusiaan. Karena Imam Ali bilang, "kita berbeda dalam iman, tetapi saudara dalam kemanusiaan".

Konferensi Internasional Al-Azhar Tentang Larangan Mengucapkan Selamat Kepada Non Muslim

Konferensi Internasional Al-Azhar yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Kairo, telah menghasilkan sejumlah rumusan terkait pembaharuan pemikiran Islam. Ada 29 rumusan yang dibacakan oleh pemimpin tertinggi Al-Azhar, Grand Syeikh Prof. Dr. Ahmed Thayyib. Delegasi Indonesia terdiri dari Prof. Dr. H. Din Samsudin, Prof Dr. KH. Quraish Shihab, Dr. TGB. H. Muhammad Zainul Majdi dan Dr. H. Muhklis Hanafi. Selama dua hari berturut-turut, konferensi menggelar tujuh sesi diskusi untuk membicarakan masalah-masalah pembaruan dan hal lain yang terkait dengan itu. Salah satu poin dalam deklarasi itu adalah tentang ucapan selamat kepada non muslim pada hari-hari besar keagamaan. Dimana dalam poin ke 16 deklarasi itu, disebutkan bahwa Larangan Ucapan Selamat Kepada Non-Muslim adalah kebohongan yang mengatasnamakan tujuan umum syariat Islam.

Kutipan poin ke-16 Konferensi Kairo tahun 2020

Berikut ini kutipan poin ke-16 dari deklarasi itu, “ (poin 16) Salah satu kebajikan yang diserukan Islam kepada kita adalah mengucapkan selamat kepada kaum non-Muslim saat perayaan hari besar mereka. Hukum haram terkait itu yang dikatakan kelompok ekstrem merupakan sikap kaku dan menutup diri (eksklusif), bahkan kebohongan yang mengatasnamakan tujuan umum syariat Islam. Klaim keharaman ini masuk dalam kategori fitnah yang lebih keras daripada pembunuhan, dan menyakiti non-Muslim. Ucapan selamat kepada non-Muslim tidak bertentangan dengan akidah Islam sebagaimana dikatakan kaum ekstremis” . Lebih lanjut, poin ke-17, tertulis bahwa, “ (poin 17) Para pejabat yang berwenang harus menghentikan propaganda media yang berisikan pemikiran-pemikiran semacam ini, terutama pada saat-saat peringatan hari besar non-Muslim, karena bisa menimbulkan keresahan dan kebencian terpendam di antara para anggota satu kelompok masyarakat”.

Dengan demikian, maka sudah jelas bahwa larangan mengucapkan selamat kepada non muslim hanya pemikiran sempit dari oknum-oknum yang radikal di negeri ini. oknum-oknum itu menjadi provokator bagi toleransi umat beragama di negeri ini. Jadi, seharusnya, kita harus berbulat tekad agar tidak ada lagi fatwa-fatwa yang mengatakan larangan ucapan selamat natal dan sebagainya kepada non muslim. Salam Waras!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel