Mengapa Orang Sabu Banyak Di Sumba: Ini Sejarahnya

mengapa orang sabu banyak di sumba

Sejarah Transmigrasi Orang Sabu Ke Sumba

Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten dari keempat kabupaten di Pulau Sumba, propinsi Nusa Tenggara Timur. Wilayah kabupaten ini menempati bagian timur dari Pulau Sumba. Sebelah utara berbatasan dengan Selat Sumba, sebelah timur dengan Laut Sabu, sebelah selatan dengan Samudra Hindia, dan sebelah barat dengan kabupaten Sumba Barat. 

BACA JUGA:
  1. "Rai Hawu": Jejak Belanda dan Majapahit Di Sabu
  2. Am'mu Kepue atau Rumah Adat Di Lima Kecamatan di Sabu
  3. Budaya Kenoto Sebagai Perkawinan Adat di Sabu Raijua (Bagian II)

Sejarah Perjumpaan Komunitas Orang Sabu di Kambaniru dan Umalulu

Orang Sabu adalah pendatang terbesar yang sifatnya imigrasi ke daerah Sumba. Kedatangan mereka di Sumba dilakukan secara bertahap sejak dahulu kala yakni pada masa para leluhur hingga proses migrasi pada saat ini. Kebanyakan mereka datang dan langsung menempati daerah-daerah pesisir laut dan di daerah khusus yang telah ditetapkan oleh pemerintah NTT dan kolonial Belanda seperti di kelurahan Kambaniru dan Umalulu. Demikianlah sejarah kedatangan orang Sabu pertama kali di Sumba, dimulai dari kisah legenda sejarah masyarakat Sumba dan Sabu, keterlibatan dengan pihak ketiga (yakni Belanda dan misi penyebaran agama Kristen) dan migrasi orang Sabu ke daerah Sumba hingga saat ini. 

Hubungan Emosional antara Suku Sumba dan Sabu Hubungan antara leluhur dari kedua Suku Bangsa (Sumba dan Sabu) Legenda menuturkan bahwa nenek moyang orang Sabu terdahulu berdiam di Tanjung Sasar pada sebuah kampung yang bernama Paraingu Hawu (negeri Sabu). Tuturan silsilah yang beredar di suku Sumba maupun di Sabu mengatakan bahwa para leluhurnya bersaudara kandung. Leluhur suku Sabu bernama Hawu Meha (Laki-laki) dan leluhur suku Sumba bernama Humba Meha (Perempuan). Humba Meha kawin dengan Umbu Harandipa Wolu Mandoku. 

Humba Meha menetap di Sumba, Hawu Meha tetap menjalin hubungan persaudaran dengan Humba Meha

Hawu Meha memberikan sebuah panggilan manis bagi saudaranya di Sumba dengan sebutan Do Wa (artinya orang yang tinggal di bagian barat bira wa : barat). Panggilan ini pun menjadi panggilan yang lazim digunakan kepada orang sabu yang berada di Sumba hingga pada masa kini. 
Hubungan Marga (Kabihu atau Udu) Marga-marga (Kabihu) di Sumba dan marga-marga (udu-udu) di Sabu mempunyai hubungan persaudaraan karena berasal dari leluhur yang sama dan hanya istilah/nama saja yang berbeda, misalnya : Luku Walu (Sumba) = Do Na Luru (Sabu); Watupelitu (Sumba) = Do Na Taga (Sabu); Anamburung (Sumba) = Do Na Horo (Sabu); Mbaradita (Sumba) = Do Ke Koro (Sabu); Nipa (Sumba) = Do Na Hipa (Sabu); Matalui (Sumba) = Do Na Mata (Sabu), dan lain-lain sebagainya. 

Hubungan Kawin Mawin Kawin mawin telah terjadi di antara orang Sabu dan orang Sumba sejak zaman dahulu kala hingga saat ini, antara lain : 
  • Umbu Jara Watu (bangsawan Sabu) kawin dengan Rambu Mai Nggadi (anak dari Umbu Tarubu Huru Nggaba / bangsawan Lukumara). 
  • Umbu Kaho Manu dengan Rambu Bangu Kahi (putri bangsawan Ruku Maru). 
  • Umbu Jami Riwu (bangsawan Sabu) kawin dengan Rambu Paji Jera maramba hawu (Putri bangsawan Mangili ) 
  • Umbu Ngg. Haumara (putra bangsawan Watupelit - Melolo) kawin dengan putri bangsawan sabu Melolo (Do Na Taga - saudari dari Ama Nai Jawa (Raja Sabu) dan Ama Dima Talo). 
  • Umbu Njanja Taranau (bangsawan Mangili) kawin dengan Rambu Kado Buki (bangsawan Mesara - Sabu). 
  • Perkawinan antara putra Sabu dengan putri Rende 
  • Perkawinan antara anak Raja Mangili dan Melolo menikah dengan anak Raja Seba (Sawu) 
BACA JUGA:

Transmigran Orang Sabu ke Sumba

Transmigran dari Pulau Sabu (Rai Hawu) Perpindahan penduduk dari Pulau Sabu telah terjadi sejak zaman dulu hingga sekarang, baik secara mandiri maupun atas prakarsa pemerintah. 

Transmigran Mandiri 
Perpindahan secara madiri telah terjadi dari zaman dahulu yaitu dalam kelompok-kelompok misalnya marga Hawu Horikundu, Kanatang-Dukuwatu, Haloi-Anajawa, Kabundung Kanjonga Luku. Selain itu pada tahun 1848 terjadi juga perpindahan orang Sabu ke Sumba. Mereka itu berpindah dalam suatu kelompok yang besar degan membawa serta istri dan anak-anaknya. Mereka berdiam di Kadumbul, pantai utara, bagian timur Sumba. Mereka berpindah atas inisiatif sendiri untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. 

BACA JUGA: Pelestarian Budaya Sabu di Sumba Kambaniru dan Umalulu


Raja Seba mengusulkan kepada Residen Izaac Esser pada tahun 1862 untuk memindahkan 400 orang Sabu ke Kadumbul dengan maksud untuk memberi kesempatan memperoleh lapangan kerja dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan juga untuk mengekang gerak-gerik orang Ende yang merugikan penduduk Sumba.
Atas inisiatif pemerintah Hindia Belanda Pemerintah Hindia Belanda mentransmigrasikan sejumlah orang Sabu ke Sumba pada akhir abad ke-19. Mereka itu ditempatkan di Melolo (wilayah Kerajaan Melolo) dan di Kambaniru (wilayah kerajaan Kambera). 


Atas Inisiatif Pemerintah NTT Pemerintah NTT memindahkan penduduk dari Sabu ke Sumba. Perpindahan ini terjadi pada masa bapak Gubernur El Tari. Mereka yang dipindahkan itu pada tahun 1977 ditempatkan di Petawang sebanyak 33 keluarga. Adapun perpindahan itu bermotif ekonomi demi memperoleh kehidupan yang lebih baik. Adapun latar belakang perpindahan orang Sabu ke sumba bervariasi. Perpindahan bermotif ekonomi (perdagangan), karena di Sumba terdapat banyak pohon lontar, bermotif politis yakni menyangkut keamanan dan untuk memadamkan peperangan yang terjadi dan untuk mencegah perdagangan budak yang dilakukan oleh orang-orang Ende. 

sumber: Bambang Darmadi. Baca Artikel Lengkapnya di Docplayer.info

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel