Sejarah Kampung Adat Namata di Sabu Raijua

asal-usul nama kampung adat namata di sabu raijua
Kampung Adat Namata

Asal-usul Kampung Adat Namata di Sabu Raijua

Secara historis, kampung adat NAMATA didirikan seorang tokoh bernama ROBO ABA. Robo Aba pada masa itu merupakan sala satu pemimpin besar diwilayah adat Habba. iA memiliki banyak pasukan dan pemburu yang bertugas untuk berburu babi hutan untuk makanan sehari-hari. Ia mempunyai empat orang anak. Dari keturunan ROBO ABA itulah maka lahirlah empat Suku besar di wilayah adat Hab'ba. Keempat anak ROBO ABA, yaitu 

1. Tunu Robo  yang menurunkan udu (suku) Namata (do* Namata)
2. Pili Robo yang menurunkan udu (suku) Nahoro (do Nahoro)
3. Hupu Robo yang menurunkan Udu (suku) Nahupo  (do Nahupo)
4. Dami Robo yang menurunkan Udu (suku) Nataga (do Nataga)
* "do" = Orang / menunjukkan Keturunan


Robo Aba Di Hanga Rae Robo

Sebelum tinggal dan berkediaman di Namata, Robo Aba awalnya tinggal di kampung yang bernama Hanga Rae Robo, yang sekarang terletak di Desa Robo Aba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua. Pada suatu hari ia menyuruh anaknya Tunu Robo bersama beberapa pasukan lainnya untuk pergi berburu ke sebelah barat dari kampung Hanga Rae Robo  yang bernama Radja Mara Kanni Bahi sekarang menjadi Namata. Di daerah yang bernama Radja Mara Kanni Bahi inilah mereka menemukan begitu banyak babi hutan atau bahasa Sabu Wawi Addu.

Tunu Robo, Berburu "Wawi Addu" di Radja Mara Kanni Bahi 

  • Hari pertama gagal mendapatkan Wawi Addu

Ketika sampai ke tempat berburu yang bernama Radja Mara Kanni Bahi, Tunu Robo beserta pasukannya menemukan satu ekor babi hutan yang sedang tidur di bawa pohon Duri. Pada saat bersamaan mereka menembaki babi hutan tersebut dengan menggunakan tombak namun berhasil, karena tombak yang mereka gunakan patah. Akhirnya mereka kembali dan memberikan informasi kepada Robo Aba bahwa di tempat yang bernama Radja Mara Kanni Bahi itu merupakan tempat yang banyak babi hutan atau wawi Addu. 

  • Hari Kedua Berhasil

Keesokan harinya, Robo Aba memerintahkan lagi anaknya Tunu Robo dengan beberapa pasukan untuk kembali berburu di tempat yang sama. Robo Aba berpesan, apabila mereka berhasil membunuh babi tersebut, maka mereka harus membawa tanah dimana babi tersebut tidur, yaitu tanah pada bagian kepala, bagian perut dan bagian kaki belakang.



BACA JUGA:  Silsilah Orang Sabu dari yang "Paling Keramat" sampai keturunan ke-71, atau Keturunan ke-21 dari orang pertama yang mendiami Tanah Sabu

Pada hari itu, Tunu Robo beserta pasukannya berhasil mendapatkan Wawi Addu dan membawa tanah seperti yang di janjikan ayahnya Robo Aba. Ketika kembali ke rumah,  dengan mambawa babi hutan serta tanah, maka Robo Aba mulai melihat tekstur tanah yang diambil tersebut. Robo Aba memutuskan untuk menentukan bahwa tempat yang bernama Radja Mara Kanni BaHi itu menjadi tempat berburu Wawi Addu. Dalam bahasa Sabu disebut "ERA PEMATA WAWI ADDU". Pada saat itulah tempat yang bernama Radja Mara Kani Bahi dirubah menjadi nama Namata. 

Lokasi yang bernama Namata tersebut ketika dilihat oleh Robo Aba, ternyata tempat dan tekstur tanahnya sangat cocok di buat sebagai salah satu perkampungan. Oleh karena itu, ia memutuskan pindah tempat tinggal dari Hanga Rae Robo ke Namata. 

Ketika berpindah dari Hanga Rae robo ke Namata. Pada saat membersihkan kampung Namata untuk dijadikan tempat tinggal, dibuatlah acara ritual yang dalam bahasa Sabu disebut "Haro Nada". Dalam acara itu pula, nama kampung diganti "Radja Mara" menjadi "Namata". 

Setelah Ritual Haro Nada dilakukan, maka langkah selanjutnya yang dibuat oleh Robo Aba adalah memindahkan Rumah adatnya yang bernama "Rahi Hawu". Rumah adat Robo Aba yang diberi nama  Rahi Hawu sampai saat ini dipercayai sebagai rumah pertama yang didirikan oleh Robo Aba di Seba.


Pemindahan Batu-batu Ke Namata 

Setelah memindahkan rumahnya dari Hanga Rae Robo ke Namata,  Robo Aba mulai membangun perkampungan megalitik untuk keperluan Ritual adat. Diambilah batu-batu megalitik yang sekarang. Sebelum adanya Nada di Namata, pada zaman sebelum Robo Aba sudah ada Nada di Merabbu, yang saat ini terletak di desa Dainao Kecamatn Sabu Liae serta Nada di Kolo Teriwu yang terletak di desa Teriwu, Kecamatan Sabu Barat. Oleh karena itu, maka terjadilah pemindahan nada dari Teriwu ke Namata yang ditandai dengan pemindahan batu-batu keramat yang diambil mulai dari Merabu dan Tertiwu. Akan tetapi tidak semua batu bisa dipindahkan ke Namata, sehingga ada batu yang tertinggal di Merabbu, Teriwu, yaitu Wowadu Dai Ie atau Batu Gempa Bumi. Batu itu tertinggal di kampung yang bernama Dai Ie (desa Titinalede), Wagga Mengaru  serta Hanga Rae Robo.

Baca Juga:



Kontributor: Pegiatliterasi.com, Ely Goro Leba
Sumber: Disesuaikan dari tulisan Aristo_Flores di Kampasiana.com yang disadur dari ceritra lisan pegiat budaya Sabu, Jefrison Fernando, S. I. P
___________________ 

DisclaimerArtikel  ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu kami untuk mengembangkan atau merevisinya. Silahkan tinggalkan komentar yang membangun di kolom komentar atau Hubungi kami.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel