FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEJAHTERAAN KELUARGA DI SABU RAIJUA

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANGYANG MEMPENGARUHI KESEJAHTERAAN KELUARGA DI KABUPATEN SABU RAIJUA 

BAB I
Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Isu Kesejahteraan kini adalah isu yang sangat krusial di negeri ini. Kesejahteraan bertalian erat dengan pembangunan, baik di level nasional maupun daerah. Pembangunan nasional pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakatSejak terjadi krisis ekonomi tahun 1998 berbagai program peningkatan kesejahteraan telah dilakukan, namun belum dapat secara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tingkat kesejahteraan mencerminkan kualitas hidup dari sebuah keluarga (Ancok 1990). keluarga dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi berarti memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sehingga pada akhirnya keluarga tersebut mampu untuk menciptakan kondisi yang lebih baik untuk bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Tingkat kesejahteraan beranekaragam, tergantung pendekatan yang digunakan dalam mengartikan kesejahteraan. Menurut Undang-undang No 11 Tahun 2009, Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari negara. Akibatnya, masih ada warga negara yang mengalami hambatan pelaksanaan fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan bermartabatNasikun (1993) merumuskan sebagai padanan makna dari konsep martabat manusia yang dapat dilihat dari empat indicator yakni rasa aman (security), Kesejahteraan (welfare), Kebebasan (freedom),  dan jati diri (Identity).

Baca Mini paper lainnya >>> DISINI


Biro Pusat Statistik Indonesia (2000) menerangkan bahwa untuk melihat tingkat kesejahteraan rumah tangga suatu wilayah beberapa indicator yang menjadi  ukuruan, antara lain:
  • Tingkat pendapatan keluarga.
  • Komposisi pengeluaran rumah tangga dengan membandingkan pengeluaran untuk pangan dengan non-pangan.
  • ingkat pendidikan keluarga.
  • Tingkat kesehatan keluarga, dan
  • Kondisi perumahan serta fasilitas yang dimiliki dalam rumah tangga.
Sementara itu. Kolle (1974) dalam Bintarto (1989), merumuskan kesejahteraan dapat diukur dari beberapa aspek kehidupan:
  • Dengan melihat kualitas hidup dari segi materi, seperti kualitas rumah, bahan pangan dan sebagainya
  • Dengan melihat kualitas hidup dari segi fisik, seperti kesehatan tubuh, lingkungan alam, dan sebagainya
  • Dengan melihat kualitas hidup dari segi mental, seperti fasilitas pendidikan, lingkungan budaya, dan sebagainya
  • Dengan melihat kualitas hidup dari segi spiritual, seperti moral, etika, keserasian penyesuaian, dan sebagainya.
Di sisi lain, Drewnoski (1974) dalam Bintarto (1989), menerangkan kesejahteraan ada tiga aspek yaitu tingkat perkembangan fisik (somatic status), seperti nutrisi, kesehatan, harapan hidup, dan sebagianya, tingkat mentalnya, (mental/educational status) seperti pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya, integrasi dan kedudukan social (social status)Todaro (2003) mengemukakan bahwa kesejahteraan masyarakat menengah kebawah dapat direpresentasikan dari tingkat hidup masyarakat. Tingkat hidup masyarakat ditandai dengan terentaskannya dari kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik, perolehan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan tingkat produktivitas masyarakat.
2.      Rumusan masalah
Dengan mendasari diri pada latar belakang yang dikemukakan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Faktor apa saja yang mempengaruhi Kesejahteraan Keluarga di Kabupaten Sabu Raijua dan bagaimana upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di Kabupaten Sabu Raijua?”.


3. Tujuan Penelitian 
a) Tujuan umum 
Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan keluarga di Kabupaten Sabu Raijua dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan keluarga.
b) Tujuan khusus 

Tujuan khusus dari penelitian ini rneliputi:
  1. Mengetahui upaya-upaya pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di kabuapaten Sabu Raijua
  2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga di Kabupaten Sabu Raijua.
  3. Merumuskan rekomendasi kebijakan dalam rangka peningkatan kesejahteraan keluarga untuk Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua.


4.      Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan menghasilkan inforrnasi yang berkaitan dengan pengukuran tingkat kesejahteraan dan faktor-faktor yang yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga yang bemanfaat sebagai:
  1. Rekomendasi bagi pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam menyusun program-program pembangunan khususnya program-program intervensi pengentasan kemiskinan
  2. Masukan bagi masyarakat Sabu Raijua dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga.
  3. Sumber informasi bagi peneliti dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang kemiskinan dan kesejahteraan keluarga.

BACA JUGA:

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Konsep Kesejahteraan

Badan Pusat Statistik (BPS) mengartikan kesejahteraan sebagai kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup minimumnya. Keluarga yang tidak sejahtera (miskin) apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan minimumnya. Sementara BKKBN mengartikan kesejahteraan sebagai kemampuan keluarga ntuk hidup dan berfunggsi dalam masyarakat seperti memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial asyarakat dalam bentuk materi. Karena itu masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi berarti memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sehingga pada akhirnya keluarga tersebut mampu untuk menciptakan kondisi yang lebih baik untuk bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Tingkat kesejahteraan beranekaragam, tergantung pendekatan yang digunakan dalam mengartikan kesejahteraan.

2.      Pengertian Keluarga

Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota")  adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut. Pengertian Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

3.      Indikator Keluarga Sejahtera

Ada beberapa pendapat tentang pengertian kesejahteraan, antara lain:
“Kesejahteraan adalah hal atau keadaan sejahtera, aman, selamat, dan tentram”. (Depdiknas, 2001:1011). “Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang /maha Esa, memiliki hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan”. (BKKBN,1994:5). Karena itu, Kesejahteraan keluarga tidak hanya menyangkut kemakmuran saja, melainkan juga harus secara keseluruhan sesuai dengan ketentraman yang berarti dengan kemampuan itulah dapat menuju keselamatan dan ketentraman hidup.

4.      Tahapan-tahapan keluarga Sejahtera

1) Keluarga pra sejahtera

Yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic need) secara minimal, seperti kebutuhan akan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB.
  • Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga
  • Pada umunya seluruh anggota keluarga, makan dua kali atau lebih dalam sehari.
  • Seluruh anggota keluarga mempunyai pakaian berbeda di rumah, bekerja, sekolah atau berpergian.
  • Bagian yang terluas dari lantai bukan dari tanah.
  • Bila anak sakit dan atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sasaran kesehatan.

2) Keluarga Sejahtera I

Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhnan dasarnya secara minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi lingkungan tempat tinggal dan trasportasi. Pada keluarga sejahtera I kebutuhan telah terpenuhi namun kebutuhan sosial psikologi belum terpenuhi yaitu:
  • Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
  • Paling kurang sekali seminggu, keluarga menyadiakan daging, ikan atau telur.
  • Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang 1 stel pakaian baru pertahun
  • Luas lantai rumah paling kurang 8 meter persegi untuk tiap pengguna rumah
  • Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam kedaan sehat
  • Paling kurang satu anggota 15 tahun keatas, penghasilan tetap.
  • Seluruh anggota kelurga yang berumur 10-16 tahun bisa baca tulis huruf latin.
  • Seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini
  • Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga pasang yang usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil)

3) Keluarga Sejahtera II

Yaitu keluarga disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasasrnya, juga telah dapat memenuhi kebutuhan pengembangannya seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.
  • Pada keluarga sejahtera II kebutuhan fisik dan sosial psikologis telah terpenuhi namun kebutuhan pengembangan belum yaitu:
  • Mempunyai upaya untuk meningkatkan agama.
  • Sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.
  • Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
  • Ikut serta dalam kegiatan masyarakat dilingkungan keluarga.
  • Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang 1 kali perbulan.
  • Dapat memperoleh berita dan surat kabar, radio, televisi atau majalah.
  • Anggota keluarga mampu menggunakan sarana trasportasi sesuai kondisi daerah.

4) Keluarga Sejahtera III

Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan perkembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi masyarakat seperti sumbangan materi dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

Pada keluarga sejahtera III kebutuhan fisik, sosial psikologis dan pengembangan telah terpenuhi namun kepedulian belum yaitu:
ü  Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial/masyarakat dalam bentuk material.
ü  Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan atau yayasan atau instansi masyarakat. (BKKBN,1994:21-23).
ü  Kesejahteraan pada hakekatnya dapat terpenuhinya kebutuhan (pangan, sandang, dan papan) yang harus dipenuhi dengan kekayaan atau pendapatan yang dimiliki barulah dikatakan makmur dan sejahtera

Baca Mini paper lainnya >>> DISINI

5) Keluarga Sejahtera Tahap III Plus

Keluarga yang dapat memenuhi kriteria diatas dan dapat pula memenuhi kriteria-kriteria pengembangan keluarganya yaitu:
  • Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materiil.
  • Kepala Keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.

6) Keluarga Miskin

adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS - I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :
ü  Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging/ikan/telor.
ü  Setahun terakhir seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru.
ü  Luas lantai rumah paling kurang 8 M2 untuk tiap penghuni.

7) Keluarga miskin sekali

Yaitu keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS - I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :
ü  Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 kali sehari atau lebih.
ü  Anggota keluarga memiliki pakaian berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
ü  Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah.


Makalah selengkapnya Klik >>> DISINI





Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel