Upacara "Dabba Ana" Sebagai Baptisan versi Kepercayaan Jingitiu di Sabu Raijua

Asal-usul Upacara Adat "Dabba Ana " di Sabu Raijua

sejarah dan asal usul dabba ana di sabu raijua

Sejarah Dabba Ana Sabu Raijua

Ritual adat Daba Ana dalam budaya Sabu dikenal sebagai kegiatan permaindian adat bagi anak-anak yang baru lahir. Ritual ini dilaksanakn pada bulan adat  Warru Dabba sesuai dengan kelender adat.
Ritual adat Dabba Ana merupakan kegiatan rutinitas bari masyarakat yang Kepercayaan JINGITIU (agama suku di sabu)Dabba Ana bertujuan agar anak yang dilahirkan telah diakui sebagai warga masyarakat Jingitiu dan telah dimatreikan sebagai milik Tuhan Allah  atau dalam Bahasa Sabu disebut Deo Ama

BACA JUGA:
  1. Keturunan orang Sabu dan Raijua dari Kika Ga sampai Kepada Dida Miha dan Ie Miha.
  2. Nama-nama Batu di Kampung Adat Megalitik Namata Di Sabu Raijua
  3. Pembagian Wilayah dan Jejak Gajah Mada di Sabu-Raijua
  4. Sejarah Kampung Adat Namata di Sabu Raijua
  5. Sejarah Pembagian Suku di Sabu Raijua

Asal Usul Dabba Ana Di Sabu

Ritual adat Dabba Ana pertama kali dilakukan oleh leluhur orang Sabu yang bernama Mone Ie,. Ritual dilakukan sebagai permandian adat bagi anaknya yang bernama Abba Mone. Ritual ini dilaksanakan di kawasan adat bernama "Dara Rae Mone Ie", di Desa Teriwu, Kecamatan Sabu Barat.

Proses Ritual Dabba Ana Di Sabu Raijua

Proses Dabba Ana diawali dengan kegiatan  Puru Loko atau pengambilan air oleh Ibu kandung dari anak yang bersangkutan. Dimana sang ibu, berpakian adat lengkap atau Nau Hawu serta memakai haik dalam bahasa sabu disebut "Haba Tenae" sebagai wadah penampungan air. 
Sekembali dari ambil air, sang ibu menempatkan air tersebut di salah satu wadah yang luas, yang terbuat dari Seludang Pinang atau dalam bahasa sabu "Keruba Wanyi"

Ketika air sudah disiapkan, maka bayi yang akan dimandikan dengan cara dimasukan ke wadah yang berisi air itu dalam pasisi berdiri. Proses permandian ini dilaksanakan di dalam rumah adat tepatnya di tiang induk rumah tersebut atau dalam bahasa Sabu Raijua "Tarru Duru". Ketika sang anak berada dalam posisi berdiri di dalam wadah yang berisi air tadi (Keruba Wanyi), maka ibu kandung nya mengambil air dan meneteskan di atas kepala Anaknya sebanyak 3 (tiga) kali dengan diikuti doa kepada Allah Bapa . Doa itu sebagai permohonan agar sang anak mendapat kekuatan, keberuntungan, umur penjang, dan kesuburan serta kesejahteraan. 

BACA JUGA:
  1. Silsilah Orang Sabu dari yang "Paling Keramat" sampai keturunan ke-71, atau Keturunan ke-21 dari orang pertama yang mendiami Tanah Sabu
  2. Sistem Pemerintahan Adat di Mesara dan Seba, Sabu Raijua 

Setelah doa dan kegiatan percikan air selesai, dilanjutkan dengan kegiatan makan siri pinang  bersama seluruh keluarga yang hadir. Pada tahapan ini ludah siri pinang akan dicap pada bagian testa sang anak sebanyak 3 (tiga) kali. 
Setelah itu, anak yang bersangkutan akan digendong oleh ibu kandungnya ke luar dalam keadaan telanjang. Sementara ibu kandung dan ayah kandung harus berpakian adat. Anak yang bersangkutan akan dibawa ke luar rumah. Lalu di depan rumah, si anak diangkat sebanyak 3 (tiga) kali dengan muka harus menghadap ke arah bagian barat. 
Pada tahapan ini, dibacakan doa kepada Tuhan yang Maha Esa agar anak tersebut  dijauhi dari segala marabahaya, malapetaka, sakit penyakit dan roh-roh jahat. Setelah tahapan ini, si anak, dibawa kembali ke dalam rumah untuk dipakaikan pakaian. 

Sabung Ayam dalam Acara Dabba Ana

Setelah rangkaian pembacaan doa tersebut dilakukan, tahapan terakhir pada hari itu adalah seluruh masyarakat yang datang  ke rumah itu dilayani dengan siri pinang. Pada saat yang bersamaan masyarakat yang datang  melakukan sabung ayam di depan rumah. 
Perlu diketahui bahwa sabung ayam tersebut tidak menggunakan pisau serta tidak boleh ada tahuhan atau unsur judi di dalamnya. 
Maksud dari kegiatan itu adalah seluruh masyarakat yang datang ke rumah orang  yang melakukan Dabba Ana merasa turut berbahagia bersama-sama tuan Rumah.      
      
Dua bulan kemudian menurut perhitungan kelender adat Sabu, makan masuk pada warru Bangaliwu atau tepatnya  satu hari sebelum bulan purnama atau dalam bahasa Sabu "Lodo Panu Pe". Dilakukan kegiatan lanjutan dari ritual Dabba Ana yang telah dilaksanakan di warru Dabba yaitu Ritual Nga’a Manu Ana. 
Dimana orang tua atau keluarga dari anak yang telah di Dabba dari 2 bulan sebelumnya, memotong ayam dan mengundang beberapa keluarga guna makan bersama.
Pada Bulan Purnama di Warru Bangaliwu, orang Sabu melakukan kegiatan Peiu Manu Bangaliwu pada siang hari,  Tarian 'do'a Buihi pada malam hari. Satu hari setelah itu, baru dilanjutkan dengan ritual adat Buihi dengan rangkaian kegiatan pehere jara buihi atau pacuan kuda

BACA JUGA:
  1. "Rai Hawu": Jejak Belanda dan Majapahit Di Sabu 
  2. Am'mu Kepue atau Rumah Adat Di Lima Kecamatan di Sabu 
  3. Budaya Kenoto Sebagai Perkawinan Adat di Sabu Raijua (Bagian II) 
  4. Budaya Kenoto di Sabu Raijua (Bagian I) 

Proses Dabba Ana Berakhir dengan Cukur Rambut


budaya dabba ana di sabu raijua

Mulai saat itulah Anak yang telah di dabba akan menjalani kegiatan cukur rambut yang menandakan bahwa proses Dabba Ana telah Berakhir. Dalam proses pencukuran, rambut  anak yang bersangkutan tidak dicukur semuanya. Tetapi akan dibiarkan segumpulan rambut pada dua bagian kepala yaitu pada bagian kepala di atas dahi atau dalam bahasa Sabu Runabaga dan  pada bagian tengah atau ubun-ubun yang disebut dengan Rukatu Ae
Setelah dicukur, rambut tersebut tidak boleh dibuang, tetapi dimasukan ke dalam ketupat atau Kedu'e dan akan disimpan dengan baik di dalam sebuah tempat yang terbuat dari anyaman daun lontar yang disebut dengan Kepepe
Proses cukur rambut ini memiliki makna "bahwa anak tersebut telah diterima sebagai warga masyarakat Jingitiu dan telah dimatreikan sebagai milik kepunyaan Deo Ama atau Tuhan Allah menurut kepercayaan orang Jingitiu". 
Perlu diketahui bahwa, budaya orang Sabu, kususnya bagi Masyarakat yang masih menganut aliran kepercayaan Jingitiu, apabila anak yang dilahirkan  meninggal dunia sebelum menjalani Ritual Dabba Ana, anak tersebut disebut anak Domehari sehingga dalam proses kematian tidak ada ritual adat Pemou Domade atau dalam tradisi orang kristen sama dengan ibadat pengucapan Syukur. 

________________________________
Sumber: Tulisan Pegiat Budaya Sabu: Jefrison Fernando 
Narasumber: Bapak WEMPI RUGE atau AMA WILA HEGE, (Tokoh adat di wilayah adat Liae).

_________________________________
Artikel  ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu kami untuk mengembangkan atau merevisinya. Silahkan tinggalkan komentar yang membangun di kolom komentar atau Hubungi kami

BACA JUGA:
  1. Budaya Pehere Jara dan Nga'a Doka Kebao di Wilayah Adat Hab'ba (Seba)
  2. Budaya Pemberian Nama Orang Sabu, Satu Orang Bisa Memiliki Tiga Nama
  3. Budaya Rukettu di Sabu Raijua
  4. Catatan Budaya: Upacara Adat Dab'ba Di Sabu-Raijua
  5. Deo Rai di Lima Wilayah Adat di Kabupaten Sabu Raijua

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel