Guru Bahasa: Ini Bedanya "Mudik" dengan "Pulang Kampung"

arti kata mudik

MUDIK BERBEDA DENGAN PULANG KAMPUNG

Setelah tayangan Najwa Shihab tadi malam usai, media sosial dihiasi oleh potongan Video saat Presiden Jokowi berhenti pada kata " ... itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung..!" 
Dan sudah bisa ditebak narasi ini akan digoreng oleh para pembenci Jokowi untuk kemudian disebarluaskan agar jadi bahan tertawaan para 'Netijen yang budiman'.

Celakanya banyak netizen yang tidak paham sepenuhnya makna mudik dan pulang kampung. Mungkin karena hanya menerima share Video yg sdh terpotong, atau efek psikis saking beratnya beban hidup akibat dampak pandemi Covid-19 sehingga hanya bisa menyalahkan Jokowi. Atau memang kekuatan Medsos kalo sudah bersabda "Maha benar Netijen dengan segala komentarnya!"

Pengertian maknawi dari mudik adalah pulang ke kampung dalam rangka lebaran Idul Fitri atau berkaitan dengan hari raya keagamaan lainnya dan biasanya dilakukan secara massal. Sedangkan pulang kampung bisa dilakukan kapan saja tidak terbatas waktu hari raya keagamaan dan dilakukan secara personal. Sebagai contoh, kita pulang ke kampung dalam rangka reuni sekolah entah SD, SMP atau SMA atau menjenguk orangtua yang sakit, kegiatan itu tidak bisa disebut dengan mudik. Tapi cukup dengan pulang ke kota asal atau kampung halaman.

Meninggal Dunia dan Tewas

Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan makna SEMANTIK, yaitu makna yang terkandung  pada suatu bahasa atau istilah. Dengan kata lain, semantik adalah pembelajaran tentang makna. Contoh lain kata "meninggal dunia" dan "tewas". Dua-duanya punya arti yang sama yaitu mati. Tapi makna semantiknya kedua kata itu berbeda. "Tewas" itu biasanya digunakan untuk kematian yang disebabkan oleh suatu peristiwa, entah kecelakaan atau bencana. Adapun orang yang kematiannya akibat sakit tidak pernah kita sebut dengan tewas. Jelas!

Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa di dunia yang penuh makna dan nilai rasa. Penyebutan orang ketiga tunggal juga berbeda-beda. Bagi orang yang kita hormati kita sebut dengan 'beliau'. Tapi bagi orang ketiga tunggal yang kita anggap setara kita bisa menyebut dengan 'ia' atau 'dia'. Bahasa Inggeris menyebut "rice", tapi dalam bahasa Indonesia kita sebut berbeda- beda, bisa gabah, beras atau nasi. Ini contoh yang disebut makna semantik.

Artikel ini ringan dan mungkin tidak penting. Namun sebagaimana kita tahu msh banyak penguasa medsos ataupun generasi baru Netijen yang gagal paham dan ikutan latah membully dengan menjadikan istilah mudik dan pulang kampung sebagai candaan di caption Wall pribadi maupun grup-grup yang diikutinya.

Mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.

Ttd: Guru Bahasa 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel