Gibran Rakabuming: Empat tahun Eyang Noto Gerah

GIBRAN CURHAT TENTANG NENEKNYA

Eyang Sudjiatmi Notomiharjo meninggal dunia. Ia lahir  tanggal 15 Februari 1943. Tutup usia di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 25 Maret 2020 pada usia 77 tahun. 

Empat tahun Eyang Noto gerah, tapi tak pernah menunjukkan rasa sakitnya kepada anak-cucunya. Beliau masih berusaha mendatangi pengajian, dan kegiatan-kegiatan lain, bahkan kadang naik becak sendirian, atau meminta diantar sopir.
Eyang Noto tidak pernah mau membebani anak-cucunya untuk beragam aktifitas beliau. Puasa dan shalat tahajudnya tak pernah putus, untuk mendoakan kami semua anak-cucunya, agar menjadi orang yang berguna untuk orang banyak. Kami sangat kehilangan atas kepergian beliau. Semoga Allah SWT mengampuni semua kesalahan semasa hidup, menerima semua amal baik dan dikaruniakan surga terbaik.

Kami memintakan maaf atas kekurangan dan kekhilafan almarhumah semasa hidup. Bukan berarti keluarga melarang, tapi dengan tanpa mengurangi rasa hormat, dan mengikuti kebijakan pemerintah terhadap situasi tanah air, saya menyarankan untuk mendoakan dari rumah saja.

Gibran Rakabuming


BACA TERKAIT:

DUKA INI TAK AKAN MAMPU MENAHAN LANGKAHKU

Seperti halnya ratusan negara lainnya, badai Covid-19 tengah menghantam negeri tercinta ini. Sang nahkoda kapal besar Indonesia dengan tegar dan dingin memimpin kapal untuk melintasi dan menaklukkan badai itu. 

Tak mudah, sangat berat bebannya - sebab banyak pecundang dan gelandangan politik di dalam kapal sendiri terus menganggunya tanpa malu, amoral, bahkan jahat dan menjijikkan. Di tengah badai dahsyat itulah, salah satu pundak tumpuan sang nahkoda di kala galau selama ini - dipanggil kembali oleh Sang Pencipta. Dia adalah ibunda sang nahkoda. Perempuan sepuh yang mulia. Bahkan di tengah badai dan dukapun, masih ada sebagian manusia bejat dan biadab yang menghinanya - juga ibundanya.
Nahkoda itu, lelaki itu, tetap diam. Dia hanya menatap nanar jasad ibundanya. Tak ada yang tahu apa yang dia pikirkan. Dan kita tak perlu menambah gundahnya. Yang kita tahu, di tengah duka itupun dia masih lebih memikirkan bangsanya. Dia perintahkan semua pembantunya untuk fokus menjalankan tugas, ketimbang datang melayat. Genderang perang terus ditabuh, tak ada gencatan senjata.

Nahkoda itu, lelaki kurus yang tengah berduka itu tetap dingin. Namun matanya yang gundah seperti mengatakan sesuatu :  "Bahkan duka ini tak akan mampu menahan langkahku untuk berperang menaklukkan Covid-19 sesegera mungkin." Pada lelaki seperti itu, kita semua mesti menangkupkan tangan seraya membisikkan degup hati terdalam kita : "Pak, engkau tak sendirian. Kami bersamamu."  Salam dari rakyat yang selalu mendoakanmu!


BACA JUGA:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel