Tanggapan GBI Tentang Ajaran Pdt. Erastus Sabdono

Pdt. Erastus Sabdono
Pdt. Erastus Sabdono


Gereja Bethel Indonesia (GBI), memberikan penjelasan tentang beberapa perbedaan antara ajaran Pdt. Erastus dengan pengajaran GBI:


Sabdono:
Allah  itu  Dwitunggal. Roh Kudus selalu  menyatu dengan kehendak Bapa, sehingga Roh Kudus adalah pribadi ketiga yang relatif, tidak mutlak. Berbeda dengan Yesus yang ketika menjadi manusia bisa memiliki kehendak yang berbeda dengan Bapa, sehingga ada risiko terpisah selamanya dari Bapa. Lagi pula Bapa, Anak dan Roh Kudus itu tidak setara.
GBI
Allah itu Tritunggal: satu hakekat tapi memiliki tiga pribadi yang setara yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bisa dibedakan namun tidak bisa dipisahkan. Pandangan ES bukan hanya berbeda dengan ajaran GBI tapi dengan konsep gereja secara umum yang dirumuskan dalam konsili Nicea tahun 325 M.



Baca Juga: 



Sabdono:
Ada dua standar keselamatan dan kemuliaan, yaitu bagi orang yang percaya Injil dan sempurna akan mengalami kemuliaan dan memerintah bersama Yesus. Sedangkan orang yang belum mendengar Injil namun berbuat baik bisa selamat dan menjadi anggota masyarakat dalam dunia yang akan datang. Di Langit Baru bumi Bumi Baru (LB3) masih ada dosa dan hukuman Tuhan bagi masyarakat yang tidak taat, karena Tuhan akan memerintah dengan tongkat besi (Why. 2:27).
GBI
Menurut Yoh. 14:6, keselamatan hanya melalui Yesus Kristus. Tidak ada catatan Alkitab bahwa orang yang belum mendengar Injil namun berbuat baik bisa selamat.  Di langit baru dan bumi baru semua sudah disucikan, tidak ada lagi dosa. Memang di Kerajaan 1000 tahun damai di bumi yang mendahului langit baru dan bumi baru masih ada dosa, namun dosa tidak ada dalam kekekalan di langit baru dan bumi baru, dengan Yerusalem Baru sebagai ibukotanya.



Sabdono
Di Sorga masih ada perkawinan, dengan demikian masih ada hubungan seksual.
GBI
Di Sorga manusia akan hidup seperti malaikat, tidak kawin dan mengawinkan. Kasihnya agape bukan lagi eros. Perkawinan adalah lambang hubungan Kristus dan jemaat-Nya.


Sabdono: 
Lucifer bukan malaikat, tapi diciptakan sebagai anak Allah.  Ada tiga anak terkemuka Allah Bapa: Yesus, Lucifer, dan Adam. Lucifer adalah pangeran Kerajaan Tuhan di sorga yang kemudian jatuh dalam dosa. Adam gagal mengalahkan Lucifer, tapi Yesus berhasil mengalahkannya.
GBI
Lucifer bukan anak Allah yang diciptakan lebih tinggi dari pada malaikat. Dia adalah malaikat yang kemudian jatuh dalam dosa.

Sabdono
Lucifer belum terbukti bersalah hingga ada corpus delicti (bukti bahwa kejahatan itu telah terjadi). Ketaatan Yesus di kayu salib dan ketaatan orang percaya yang mengikuti gaya hidup Yesus (Why. 12:11) membuktikan  Iblis bersalah. Manusia diciptakan untuk mengalahkan Iblis dengan membuktikan bahwa Iblis salah karena manusia bisa taat sempurna kepada Allah, sedangkan Iblis tidak.
GBI
Alkitab, Firman Allah sendiri sudah menyatakan Iblis salah karena ditemukan telah kecurangan padanya (Yeh. 28:15). Ini tidak harus dibuktikan dulu dengan menunggu ketaatan manusia, karena Yesus lah yang telah mengalahkan Iblis. Lagi pula manusia diciptakan bukan untuk membuktikan Iblis salah, tapi untuk memuliakan Allah (Yes. 43:7).

Baca juga: YESUS BUKAN TUHAN ????

Gereja Bethel Indonesia (GBI), memberikan penjelasan tentang beberapa perbedaan antara ajaran Pdt. Erastus dengan pengajaran GBI:

Sabdono:
Allah  itu  Dwitunggal. Roh Kudus selalu  menyatu dengan kehendak Bapa, sehingga Roh Kudus adalah pribadi ketiga yang relatif, tidak mutlak. Berbeda dengan Yesus yang ketika menjadi manusia bisa memiliki kehendak yang berbeda dengan Bapa, sehingga ada risiko terpisah selamanya dari Bapa. Lagi pula Bapa, Anak dan Roh Kudus itu tidak setara.
GBI
Allah itu Tritunggal: satu hakekat tapi memiliki tiga pribadi yang setara yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bisa dibedakan namun tidak bisa dipisahkan. Pandangan ES bukan hanya berbeda dengan ajaran GBI tapi dengan konsep gereja secara umum yang dirumuskan dalam konsili Nicea tahun 325 M.



Baca Juga: 



Sabdono:
Ada dua standar keselamatan dan kemuliaan, yaitu bagi orang yang percaya Injil dan sempurna akan mengalami kemuliaan dan memerintah bersama Yesus. Sedangkan orang yang belum mendengar Injil namun berbuat baik bisa selamat dan menjadi anggota masyarakat dalam dunia yang akan datang. Di Langit Baru bumi Bumi Baru (LB3) masih ada dosa dan hukuman Tuhan bagi masyarakat yang tidak taat, karena Tuhan akan memerintah dengan tongkat besi (Why. 2:27).
GBI
Menurut Yoh. 14:6, keselamatan hanya melalui Yesus Kristus. Tidak ada catatan Alkitab bahwa orang yang belum mendengar Injil namun berbuat baik bisa selamat.  Di langit baru dan bumi baru semua sudah disucikan, tidak ada lagi dosa. Memang di Kerajaan 1000 tahun damai di bumi yang mendahului langit baru dan bumi baru masih ada dosa, namun dosa tidak ada dalam kekekalan di langit baru dan bumi baru, dengan Yerusalem Baru sebagai ibukotanya.

Sabdono
Di Sorga masih ada perkawinan, dengan demikian masih ada hubungan seksual.
GBI
Di Sorga manusia akan hidup seperti malaikat, tidak kawin dan mengawinkan. Kasihnya agape bukan lagi eros. Perkawinan adalah lambang hubungan Kristus dan jemaat-Nya

Sabdono: 
Lucifer bukan malaikat, tapi diciptakan sebagai anak Allah.  Ada tiga anak terkemuka Allah Bapa: Yesus, Lucifer, dan Adam. Lucifer adalah pangeran Kerajaan Tuhan di sorga yang kemudian jatuh dalam dosa. Adam gagal mengalahkan Lucifer, tapi Yesus berhasil mengalahkannya.
GBI
Lucifer bukan anak Allah yang diciptakan lebih tinggi dari pada malaikat. Dia adalah malaikat yang kemudian jatuh dalam dosa.

Sabdono: Lucifer belum terbukti bersalah hingga ada corpus delicti (bukti bahwa kejahatan itu telah terjadi). Ketaatan Yesus di kayu salib dan ketaatan orang percaya yang mengikuti gaya hidup Yesus (Why. 12:11) membuktikan  Iblis bersalah. Manusia diciptakan untuk mengalahkan Iblis dengan membuktikan bahwa Iblis salah karena manusia bisa taat sempurna kepada Allah, sedangkan Iblis tidak.
GBI: Alkitab, Firman Allah sendiri sudah menyatakan Iblis salah karena ditemukan telah kecurangan padanya (Yeh. 28:15). Ini tidak harus dibuktikan dulu dengan menunggu ketaatan manusia, karena Yesus lah yang telah mengalahkan Iblis. Lagi pula manusia diciptakan bukan untuk membuktikan Iblis salah, tapi untuk memuliakan Allah (Yes. 43:7).

Baca juga: YESUS BUKAN TUHAN ????

Sabdono: Penekanan yang berulang-ulang diberikan adalah bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan adalah Roh Allah.
GBI: Jika Roh Kudus keluar dari Bapa dan tidak keluar dari Anak, maka roh siapakah yang anak miliki? Apakah Anak tidak memiliki Roh? Padahal Alkitab menyaksikan bahwa ada Roh Yesus dalam Kis. 16:7: “Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka” dan juga  dalam  Flp. 1:19:  “karena  aku  tahu,  bahwa  kesudahan  semuanya  ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus”. Jika Roh Kudus hanyalah Roh yang keluar dari Bapa, lalu Roh Yesus atau Roh Yesus Kristus ini roh siapa, jika bukan Roh Kudus? Sebaliknya, jika Roh Yesus atau Roh Yesus Kristus juga dipahami sebagai Roh Kudus, maka dalil Sabdono gagal total.

Selain istilah Roh Yesus dan Roh Yesus Kristus, Perjanjian Baru juga menggunakan istilah Roh Kristus dalam Rm. 8:9: “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” 1 Pet. 1:11: “Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam  mereka, yaitu  Roh  yang  sebelumnya  memberi kesaksian tentang  segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu”. Jika Roh Kudus hanyalah Roh yang keluar dari Bapa, maka roh siapakah Roh Kristus ini? Apakah ada roh lain sehingga Allah ada 4 pribadi?

Sabdono: Allah tidak langsung membinasakan Lucifer karena tindakan Lucifer belum bisa dibuktikan  bersalah  selama  tidak  ada  verifikasi atau  pembuktian  bahwa  Lucifer bersalah. Karenanya harus ada semacam corpus delicti bahwa Lucifer bersalah (hal. 41, 42).
GBI: Alkitab sendiri mengatakan bahwa telah ditemukan kecurangan dari Lucifer (Yeh. 28:15). ‘Kecurangan’ merupakan terjemahan dari Ibr. התלוע (awlatah) dan Yun. ἀδικήματα yang berarti tidak benar atau perbuatan jahat. Kecurangan dalam terjemahan Indonesia atau התלוע (awlatah) dan Yun. ἀδικήματα jelas menunjukkan adanya tolok ukur. Sesuatu dikatakan jahat atau tidak benar bila ada tolok ukurnya sehingga saat Alkitab berkata Lucifer curang, maka saat itu sudah ada tolok ukurnya dan tidak perlu membutuhkan tolok ukur lain yaitu corpus delicti. Dalil untuk menghadirkan corpus delicti terlalu lemah dan malah tidak alkitabiah. Alkitab sama sekali tidak menyatakan hal tersebut.

Sumber: www.suarakristen.com

Baca Renungan Lainnya DISINI


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel