Konferensi Al-Azhar: Islam Pro Demokrasi


demokrasi islam
Konferensi Internasional al-Azhar tentang Pembaruan Pemikiran Islam berlangsung dari tanggal 27-28 Januari 2020 yang menghasilkan 29 poin penting dalam pembaruan pemikiran Islam di masa depan mendapat perhatian khusus dari dunia internasional. Hal ini karena saat ini, ajran Islam sedang menjadi sorotan sejak munculnya kelompok ekstrimis ISIS. Karena itu, konferensi Kairo seakan mematahkan semua ajaran-ajaran ISIS yang melarang demokrasi dalam pemerintahan negera. Tertuang dalam salah satu poin dari 29 poin deklarasi itu bahwa: Negara menurut pandangan Islam adalah Negara demokrasi kontitusional. Berikut poin 12 dalam deklarasi itu yang menyoroti tentang Negara demokrasi.

Baca 29 Rumusan Pembaharuan Pemikiran Islam DISINI


“(poin 12) Negara menurut pandangan Islam adalah negara bangsa modern yang demokratis konstitusional. Al-Azhar—diwakili oleh para ulama kaum Muslim hari ini—menetapkan bahwa Islam tidak mengenal apa yang disebut dengan negara agama (teokratis) karena tidak memiliki dalil dari khazanah pemikiran kita. Ini dipahami secara tegas dari Piagam Madinah dan praktek pemerintahan Rasul serta para khalifah rasyidin setelah beliau yang riwayatnya sampai kepada kita. Para ulama Islam, di samping menolak konsep negara agama, mereka juga menolak negara yang mengingkari agama dan menghalangi fungsinya dalam mengarahkan manusia". Dengan demikian maka, deklarasi ini mematahkan ajara-ajaran kaum ekstrimis yang tidak menentang paham demokrasi.

BACA JUGA: Deklarasi Kairo Menjawab Kontroversi Larangan Ucapan Selamat Hari Raya Kepada Non Muslim


Kontroversi Larangan Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Non Muslim

Ucapan Selamat pada Hari Raya besar keagamaan  Kepada sesama umat beragama pada hari raya besar masing-masing agama adalah sesuatu yang menggambarkan kebersamaan, keharmonisan, dan kepedulian sekaligus toleransi antar umat beragama di tanah air bahkan seluruh dunia. Hari Raya besar keagamaan yang dimaksud, antara lain hari raya Nyepi dan galungan bagi umat Hindu, Hari Raya natal dan paskah bagi umat kristen protestan dan katolik, hari raya idul fitri dan idul adha untuk umat Islam, hari raya Imlek bagi umat Kong Hu Cu, Hari raya Waisak dan Kathina bagi umat Budha. 

Namun, terkadang ucapan itu dianggap sebagai "perbuatan dosa yang melanggar ajaran agama oleh kelompok-kelompok tertentu yang merasa diri paling paham agama, paling beriman dan paling dekat dengan pintu sorga." Kelompok-kelompok dimaksud merasa diri seperti mereka sudah mengkapling sorga untuk kaum mereka sendiri. Karena itu, mereka merasa tercemar kalau berikan ucapan selamat untuk sesama suadara mereka. Kaum-kaum itu seakan lupa bahwa mereka masih di hidup di dunia dengan latar belakang agama dan profesi yang berbeda-beda. Mungkin mereka tidak butuh orang lain yang berbeda dalam agama, namun jangan lupa bahwa kita masih saling membutuhkan dalam kemanusiaan. Karena Imam Ali bilang, "kita berbeda dalam iman, tetapi saudara dalam kemanusiaan".

Konferensi Internasional Al-Azhar Tentang Larangan Mengucapkan Selamat Kepada Non Muslim

Konferensi Internasional Al-Azhar yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Kairo, telah menghasilkan sejumlah rumusan terkait pembaharuan pemikiran Islam. Ada 29 rumusan yang dibacakan oleh pemimpin tertinggi Al-Azhar, Grand Syeikh Prof. Dr. Ahmed Thayyib. Delegasi Indonesia terdiri dari Prof. Dr. H. Din Samsudin, Prof Dr. KH. Quraish Shihab, Dr. TGB. H. Muhammad Zainul Majdi dan Dr. H. Muhklis Hanafi. Selama dua hari berturut-turut, konferensi menggelar tujuh sesi diskusi untuk membicarakan masalah-masalah pembaruan dan hal lain yang terkait dengan itu. Salah satu poin dalam deklarasi itu adalah tentang ucapan selamat kepada non muslim pada hari-hari besar keagamaan. Dimana dalam poin ke 16 deklarasi itu, disebutkan bahwa Larangan Ucapan Selamat Kepada Non-Muslim adalah kebohongan yang mengatasnamakan tujuan umum syariat Islam.

  Artikel Terkait: 

  1. Gerakan Islam Radikal di Indonesia Melemah sejak ISIS Melemah
  2. Khilafah Bukan Solusi
  3. Pancasila dan Para Pengkhianatnya
  4. Kesakitan Pancasila
  5. ANCAMAN GLOBALISASI
  6. ISU KRISIS NASIONALISME DAN PLURALISME AGAMA



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel