Pembagian Wilayah dan Jejak Gajah Mada di Sabu-Raijua



jejak gajah mada di sabu
Ilustrasi Wajah Mahapatih Gajah Mada

Bagian Pertama

 Selayang Pandang Tentang Budaya Sabu Raijua 

1.       Sekapur Sirih Tentang Sabu Raijua
Kabupaten Sabu – Raijua (Sarai) terdiri dari dua pulau, yakni Pulau Sabu (Hawu) dan Pulau Raijua.

Tanah Sabu atau Pulau Sabu (Kabupaten Sabu – Raijua) dikenal dengan sebutan, “Rai Hawu” yang artinya “Tanah dari orang  bernama  Hawu Ga”, yang dipercayai sebagai leluhur orang Sabu yang mula-mula mendiami pulau Sabu[1]. Sementara itu, Orang Sabu, disebut dengan, “Do Hawu”.


Secara historis, orang Sabu (Do Hawu) merupakan keturunan dari orang India Selatan yang letaknya berada di Sebelah barat Pulau Sabu. Hal ini diakibatkan oleh adanya perpindahan penduduk secara besar-besaran dari India Salatan  ke  kepulauan Nusantara pada abad ke-3 dan ke-4 karena adanya peperangan yang berkepanjangan di sana. 
Para pengungsi dari India itu pertama kali mendarat di Pulau Raijua. Mereka hidup dibawah kekuasaan Kika Ga dan Hawu Ga. Maka terjadilah kawin-mawin sehingga menyebar sampai ke Hab’ba, Mehara, Menia, Dimu dan semua daratan Sabu. Keturunan Kika Ga inilah yang kemudian disebut, “Do hawu”.


Baca Juga: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG YANG MEMPENGARUHI KESEJAHTERAAN KELUARGA DI


Jejak-jejak keturunan orang Sabu, terbaca dari syair-syair Kuno orang Sabu. Dalam syair itu, diketahui bahwa nenek moyang orang sabu berasal dari negeri yang sangat jauh di seberang lautan disebelah barat yang bernama “Hura”. Sementara itu, di India, terdapat suatu tempat bernama “Surat” di wilayah Gujarat Selatan di Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Mengapa “surat” menjadi “hura”, karena orang Sabu tidak bisa melafalkan kata “surat”, sehingga menjadi “hura”[2].

Sebagai informasi tambahan, mengapa “Surat” berubah menjadi “Hura”, karena dalam bahasa daerah Sabu, tidak mengenal huruf “S”. Biasanya, bila ada kata-kata Bahasa Indonesia yang mengandung huruf “S”, berubah menjadi huruf “H” dalam lafal bahasa Sabu. Seperti Sekolah menjadi “hekola”.


BACA JUGA: SEJARAH RITUAL ADAT HOLE DI KABUPATEN SABU RAIJUA

2.       Pembagian Wilayah di Pulau Sabu[3]
Pada Generasi ke-18, terdapat orang bernama Wai Waka yang berkuasa di Pulau Sabu dan Raijua. Pada masa inilah terjadi pembagian di Pulau Sabu berdasarkan jumlah anak-anak Wai Waka, yaitu:
  • 1)      Dara Wai mendapat wilayah Hab’ba (Seba)
  • 2)      Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara) - orang Mesara: Do Mehara
  • 3)      Wara Wai mendapat wilayah Liae - orang Liae: Do Liae
  • 4)      Laki Wai mendapat wilayah Dimu atau Hawu Dimu (Sabu Timur) - orang Hawu Dimu: Do Dimu
  • 5)      Dida Wai mendapat wilayah Menia - orang Menia: Do Menia
  • 6)      Jaka Wai mendapat wilayah Pulau Raijua - Orang Raijua: Do Raijua (di Raijua, terdapat tempat bernama Lie Jaka. “Lie” artinya: Gua, sehingga Lie Jaka dipercaya sebagai rumah atau tempat tinggal Jaka Wai). Semua wilayah  ini mempunyai dialek yang berbeda-beda, tetapi bahasanya sama.
3.       “Udu” dan “Kerogo” di Kabupaten Sabu - Raijua
Pembagian wilayah seperti tersebut di atas, telah menyebabkan terbentuknya komunitas-teritorial, dimana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Dari rumpun ini terbentuk lagi komunitas yang lebih kaceil namanya “Udu” yang dikepalai oleh “Banggu Udu”. Sementara “Udu” mempunyai  rumpun yang lebih kecil lagi, yang disebut, “Kerogo”. Di Sabu dan di Raijua terdapat 104 Kerogo. (Profil Daerah Kabupaten Sabu Raijua, 2012. BAB 1, hal. 3).


Bagian Kedua

Jejak Majapahit di Sabu-Raijua[4]

Menurut sumber-sumber tuturan para tetua, Majapahit mempunyai pengaruh di Pulau Sabu dan Raijua. Beberapa bukti antara lain:
  1.  Menurut Cerita Rakyat, Majapahit dan Istrinya pernah tinggal di Ketita (salah satu tempat/gunung keramat, sekaligus tempat tinggal “Deo Rai (dewa)” di Raijua).
  2.   Ada Wowadu (batu) Maja dan ei mada (sumur) Maja di tempat bernama Dhaihuli, dekat Ketita
  3. Ada ritual adat yang dilakukan oleh Udu Nadega (salah satu Udu di Raijua) sebagai penghormatan dan peringatan akan Majapahit
  4. Jejak Majapahit lainnya terdapat dalam motif tenunan selimut yang berupa Pura.
  5.  Di Mesara, ada desa yang bernama Tanah Jawa yang penduduknya memiliki profil seperti orang Jawa
  6. Ada Tempat bernama, “Mulie”, yang diambil dari bahasa Jawa Mulih, yang artinya, “Pulang”.

Artikel Terkait: Peluang dan Tantangan “NTT Provinsi Ternak”

 

________________________________________  
Artikel ini disesuaikan dari berbagai sumber, Mohon maaf bila ada kesalahan pengutipan atau informasi yang kurang tepat karena "TIADA GADING YANG TIDAK RETAK"Terima kasih, karena sudah mampir. Salam! 

DisclaimerArtikel  ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu kami untuk mengembangkan atau merevisinya. Silahkan tinggalkan komentar yang membangun di kolom komentar atau Hubungi kami.


[1] Profil Daerah Kab. Sabu Raijua, 2012. Kerjasama Pemerintah Daerah Kabupaten Sabu Raijua dan BPS Kab. Sabu Raijua (BAB 1, hal. 2)
[2] Profil Daerah Kab. Sabu Raijua, 2012: Sejarah Singkat Kabupaten Sabu Raijua ( hal. 2)
[3] Profil Daerah Kab. Sabu Raijua, 2012: Sejarah Singkat Kabupaten Sabu Raijua ( hal. 3)
[4] Profil Daerah Kab. Sabu Raijua, 2012: Sejarah Singkat Kabupaten Sabu Raijua ( hal. 4)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel