Pendidikan Karakter Bagi Generasi milennial


Membekali pemuda dengan pendidikan karakter sejak awal, adalah langkah pembangunan bangsa sejak dini dan merencanakan kebaikan untuk masa depan suatu negara. Ali Bin Abi Thalib, berujar “Kebaikan yang tidak diorganisir dengan baik, akan dengan mudah dihancurkan oleh kemungkaran yang diorganisir dengan baik (Nur Kholiq, 2011)”. Pendidikan karakter sejak dini ibaratnya, orangtua sedang menanam pohon dan merawatnya agar tumbuh dengan posisi yang tidak bengkok atau tegak lurus. Kalau pohon itu tumbuhnya sudah bengkok sejak kecil, maka sulit untuk membuatnya lurus kembali ketika ia tinggi. Begitu pula dengan karakter seseorang. Kalau sejak muda tidak dibina, dididik, diarahkan dengan baik, maka akan menjadi pribadi yang berkarakter buruk.
Pemuda adalah simbol kekuatan suatu bangsa. Bung Karno pernah berkata, “berikan aku 100 orang tua, akan ku cabut Semeru dari akar-akarnya. Berikan aku 10 orang pemuda, akan ku guncang dunia”. Tentang pemuda, tokoh pemuda, Tan Malaka mengatakan, “kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda adalah idealisme”. Kalau mau “membunuh” pemuda,  maka bunuhlah dahulu idealismenya. Kalimat itu mengindikasikan bahwa pemuda adalah orang-orang yang penuh dengan cita-cita dan idealism yang tinggi. Pemuda pula bagai tiang utama bagi berdirinya suatu bangsa. Buktinya, perjuangan kemerdekaan bangsa ini adalah juga perjuangan para pemuda. Dari gerakkan-gerakkan pra hingga pasca kemerdekaan. Kita pasti ingat sejarah awal pergerakkan pemuda guna merebut kemerdekaan bangsa ini. Seperti organisasi Pemuda Boedi Oetomo tahun 1908, Tri Koro Dharmo 1915, Jong Sumatra Bond (Persatuan Pemuda Sumatra) 1917, Perhimpunan Pelaja-pelajar Indonesia tahun 1925, Jong Indonesia tahun 1927 yang kemudian mempelopori semua perhimpunan pemuda di Indonesia dan melahirkan ikar yang dikenal dengan “Soempah Pemoeda” pada tanggal 28 Oktober 1928. Hingga runtuhnya Orde Baru, juga karena perjuangan para pemuda (mahasiswa). Hal-hal itulah yang menyebabkan betapa pentingnya peran pemuda bagi kemerdekaan bangsa ini.
Kendatipun demikian, harus kita sadari, bahwa masa muda adalah masa dimana seseorang mencari jati diri, menggali potensi diri, merealisasikan mimpi dan idealismenya, serta menentukan masa depannya. Sebab itu, pemuda sedang diperhadapkan dengan berbagai pilihan hidup dan memutuskan, “untuk apa dan bagaimana dia hidup?”. Karenanya, pada fase ini, seseorang sangat rentan terhadap kehancuran kalau mengambil keputusan yang salah bagi masa depannya. Salah pilih jalan hidup ketika masih muda, bakal menuai badai di hari tua. Apa lagi, kini pilihan hidup semakin kompleks. Maka, agar terhindar dari itu, perlu pendidikan, pembinaan dan pengarahan sejak muda, supaya tidak menyesal pada hari tua. Pendidikan karakter adalah salah satu cara agar anak muda tidak terjebak dalam kehidupan yang merugikan diri-sendiri, bangsa dan Negara.

Kepribadian dan Karakter
Sebelum bahas panjang lebar tentang pendidikan karakter, kita perlu pahami, bahwa ada dua hal yang perlu diketahui yang selama ini orang agak sulit membedakan keduanya. Dari sudut pandang Psikologi, manusia mempunyai karakter dan kepribadian. Banyak orang yang sulit membedakan keduanya, karena hampir sama. Pada dasarnya, karakter berbeda dengan kepribadian. Menurut Doni Kusuma, karakter adalah ciri-ciri, gaya, sifat yang terbentuk oleh lingkungan melalui proses pembelajaran dalam waktu yang relatif lama, sedangkan kepribadian adalah sifat atau tempramen bawaan manusia sejak lahir. Ketika dilahirkan, manusia hanya membawa kepribadian (personality) belum mempunyai karakter. Setelah manusia tumbuh dan bisa bergaul dengan lingkungannya seperti keluarga, orangtua, teman-teman, baru mempunyai karakter atau karakteristik atau ciri khusus yang membedakannya dari orang lain. Dari batasan tersebut, jelas bagi kita, bahwa karakter dibentuk melalui proses pembelajaran, namun kepribadian adalah sifat bawaan sejak lahir. Karenanya, pendidikan karakter sangat dibutuhkan.

Pendidikan Karakter: Lima Strategi Pembentukan Karakter Generasi Pemuda
Pendidikan karakter bagi kaum muda dapat ditempuh melalui pertama, menginternalisasikan nilai-nilai religius atau spiritual. Saat ini, ada enam agama di Indonesia, belum termasuk agama suku yang ribuan jumlahnya. Agama mengandung nilai-nilai kebenaran yang sekalipun tidak dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan secara ilmiah, tetapi para pengikutnya mengakui itu sebagai sebuah wahyu yang tidak dapat ditawar-tawar. Agama mengatur hal-hal yang bertautan dengan hukum-hukum moral, mengajari pemeluknya tentang hubungan antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia dan manusia dangan alam. Karena agama berhubungan dengan moralitas yang tercermin dalam sikap dan perilaku, maka berkaitan erat dengan karakter seseorang. Itulah pentingnya nilai-nilai agama wajib diinternalisasikan kepada kaum muda agar terbentuk karakter yang baik. Oleh sebabnya, memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada kaum muda dapat dijadikan salah satu metode guna membentuk karakter yang baik.  Kedua, bentuk karakter pemuda lewat seni bela diri dan olahraga. Lewat cara ini, karakter seseorang akan dibentuk menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, berjiwa besar, pantang menyerah, semangat menjadi pemenang, nilai juang yang tinggi, berpikiran tenang dan sabar, terbiasa dalam tekanan namun mampu mengelola emosi. Selain itu, bela diri atau olahraga juga dapat melatih dan membentuk kekuatan mental seseorang. Olahragawan sudah pasti mempunyai mental yang tahan uji. Ketika seseorang terjun ke bidang olahraga, secara otomatis harus bisa sportif tanpa kecurangan, harus berjiwa besar sekalipun kalah, pantang menyerah dengan nilai juang yang tinggi karena mereka berjuang untuk menjadi pemenang. Ketiga, pendidikan karakter pemuda lewat penginternalisasian nilai-nilai budaya dan toleransi terhadap perbedaan. Hidup berdampingan secara damai, adalah salah satu nilai yang digaungkan oleh Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan menanamkan nilai-nilai itu maka pemuda akan mampu hidup dan bergaul dalam lingkungan yang heterogen Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (Sara). Memperkenalkan bahwa Indonesia adalah “Negara Sejuta” budaya kepada kaum muda bahwa Indonesia kaya akan kebudayaan yang karena perbedaannya sehingga memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing. Dengan begitu, maka terbentuk karakter pemuda yang cinta tanah air, menghargai, hormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Keindonesiaan berdasarkan falsafah Pancasila. Pemuda yang berkarkater Pancasila dan Kebhinekaan selalu memegang prinsip “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Keempat, pembentukan karakter melalui organisasi. Sudah barang tentu organisasi adalah wadah pembelajaran karakter bagi para anggotanya. Tempat untuk bersosialisasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, budaya, dan kelas sosial. Dengan berorganisasi, orang dapat saling mengenal, menerima tanggung jawab, terbiasa dengan karakter orang yang berbeda-beda, belajar mengelola emosi, belajar menerima kelemahan orang lain, menemukan kelebihan dan kelemahan diri. Dengan demikian, maka melalui organisai akan terbentuk pemuda yang matang secara mental dan emosional. Kelima, pendidikan karakter melulai bangku pendidikan formal dan nonformal. Ini bukan lagi hal baru, sebab salah satu tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi). Karena itu, pendidikan tidak hanya berbicara soal penginternalisasian ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan nilai-nilai pendidikan karakter kepada peserta didik.
Dengan kelima strategi pendidikan karakter tersebut di atas, maka akan menghasilkan pemuda-pemuda Indonesia yang matang secara mental dan spiritual, sehat jasmani dan rohani, Pancasilais, loyal dan patuh terhadap konstitusi Negara, berintegritas tinggi, selalu mengedepankan hidup berdampingan secara damai dalam bingkai NKRI demi persatuan dan kemajuan bangsa Indonesia.

***Salam Generasi Indonesia Emas 2045***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel