ASAL-USUL NEGARA NATURALIS : NATURAL ATAU KONVENSIONAL

Natural dan konvensional? “Natura” dalam bahasa sehari-hari berarti “alam.”Arti ini tidak menyimpang, meskipun belum sepenuhnya tepat dalam konteks filsafat politik.Tetapi, diperlukan pengertian yang lebih mendalam mengenai alam. Alam di sini tidak menunjuk pada realitas seperti gunung, sungai, tebing, laut, sawah, hutan, dan yang semacamnya sebagaimana kita pikirkan dalam hidup seharihari. Dalam hidup sehari-hari, apa yang natural jelas memiliki karakter dan intensitas yang asli, otentik, dan sejati. Sebaliknya, apa yang konvensional ialah apa yang merupakan produk dari konvensi, kesepakatan, dan persetujuan. Sesuatu yang konvensional berarti yang merupakan buatan, rekayasa, dan artifisial. Terminologi “natural” dalam filsafat politik sangat penting, karena berurusan langsung dengan kesejatian, dari realitas yang dipersoalkan. Dalam konteks perdebatan tentang natura manusia. Makna natural menunjuk pada realitas kodrati yang dibawa sejak lahir Natura berkaitan dengan akal budi Ilahi. Maksudnya, keteraturan kodrat kehidupan ini sudah sedemikian sempurnanya, sehingga manusia diundang untuk menata hidupnya selaras dengan natura. Tradisi filsafat politik menampilkan tema natura  , karena mereka mengunggulkan pengertian natura sebagai “semacam” akal budi ilahi yang mengatur sekaligus membimbing kehidupan ini dalam sistemnya.
Filsafat Stoa, misalnya, menegaskan bahwa natura adalah perwujudan akal budi para dewa.The good life, menurut sekolah filsafat ini, menunjuk pada hidup yang ditata rapi selaras dengan hokum-hukum alam.Jika akal budi manusia sangat terbatas dalam memahami realitas, natura yang adalah cetusan akal budi ilahi tampil di hadapan kita sebagai sesuatu yang secara universal, otentik, sejati menjadi referensi kehidupan ini. Manusia sendiri memiliki segala kemuliaan dan keunggulan karena kodrat/naturanya yang demikian memesona, yang membedakannya dengan makhluk-makhluk lainnya.Dari sebab itu, manusia harus bertindak dan membangun sistem kehidupan secara natural. Menurut para filosof klasik (Sokrates, Plato, Aristoteles, Machiavelli, Hobbes, dan seterusnya), konvensional, melainkan pada apa yang terapan, pas, efektif, dan memenuhi kebutuhan atau sasaran yang hendak diraih oleh negara secara gampang. Mengendurnya pembicaraan seputar tema natural-konvensional juga dipicu oleh invasi perkembangan teknologi, sistem informasi, komputerisasi dan yang semacamnya, yang semuanya menampilkan realitas rekayasa dan artifisial.
Bukan untuk menawarkan kepastian-kepastian kuno, melainkan untuk membela nilai-nilai universal meskipun sekaligus tidak boleh mengesampingkan apa yang merupakan karakter khas / partikular / lokal dari tata hidup bersama. Tambahan lagi, penonjolan soal kebenaran yang didasarkan melulu pada soal agama atau tradisi religius atau tradisi budaya setempat atau yang semacamnya dapat membawa kepada sikap-sikap sektarian dan sempit. Dua tema ini (natural dan konvensional) sangat penting dan aktual. Ini merupakan tema yang secara ekstrem menduduki posisi utama dalam penjelajahan filsafat politik. Hak Asasi Manusia (HAM), misalnya, adalah soal yang langsung bersentuhan dengan natura (natura manusia). HAM adalah natural rights (hak-hak kodrati manusia), juga soal pemerintahan politik yang benar sering dihubungkan dengan masalah naturalitas dari pemerintahan yang bersangkutan. Dalam kehidupan politik, nature dan convention sangat penting untuk mencari dan menegaskan pengertian-pengertian yang masuk akal dan dapat diterima tanpa sangsi akan kebenarannya. Pendasaran etis/ moral negara dalam lapangan perdebatan filsafat politik mengandaikan pemaknaan natura dan konvensi.  Mulai dari Sokrates, penggagas pertama filsafat politik, Plato,Aristoteles, Agustinus, Thomas Aquinas, Machiavelli, Hobbes, Locke,Rousseau, Montesquieu, dan seterusnya, juga Sukarno dan Supomo dalamterminologinya masing-masing menegaskan tema ini: natura dan konvensi:
Segala macam diskursus, dialog, sistematisasi, atau apa pun namanya yangberkaitan dengan filsafat politik – dalam sejarah perkembangan refleksifilosofis – merujuk pada pemaknaan natura dan konvensi. Dan dalam konteks filsafat politik langsung berhubungan dengan konsep tentang kesejatian manusia. Menyoal ide atau gagasan tentang negara, apakah konvensional atau natural, langsung menyoal apakah ide atau gagasan tersebut selaras dengan kodrat kemanusiaan kita.


________________________________________  
KONTRIBUTOR/PENULIS: Sdr. Elkana Goro Leba, MPA. Artikel ini disesuaikan dari berbagai sumber, Mohon maaf bila ada kesalahan pengutipan atau informasi yang kurang tepat karena "TIADA GADING YANG TIDAK RETAK". Terima kasih, karena sudah mampir. Salam!
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR DI BAWAH.
________________________________________ 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel