Mengapa orang Asia Kurang Kreatif?

Passion or Without Passion

Dalam buku karya Prof. Ng Aik Kwang yang berjudul “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang diforward Dr. Ahmadriswan di WAG Pusdiklat Corporated, Profesor Ng. Aik Kwang menawarkan beberapa solusi agar orang-orang Asia lebih kreatif dan inovatif. Dari 7 solusi yang ditawarkan, passion disebut dua kali yakni pada point 4 dan 7, seperti di bawah ini:
4 Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang. 7 Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passion nya dan mensupportnya.
       Apa itu passion? Kita - khususnya saya- sering mengucapkan passion, tetapi tidak mengetahui makna  passion yang sesungguhnya. Sehingga kita sering menyamakan pekerjaan, profesi, atau hobi sebagai passion. Menurut Rene Suhardono dalam bukunya, Your Job Is Not Your Career, hobi memang mirip dengan passion, tetapi tidak sama. Sedangkan  Pekerjaan dan profesi sekedar alat atau kendaraan yang dapat membawa kita ke satu tempat yang kita kehendaki.
     Pekerjaan memiliki serangkaian aktivitas/kegiatan. Aktivitas apa pun yang membuat diri kita merasa asyik, penuh sensasi,  dan menikmatinya merupakan petunjuk salah dan mudah itulah passion kita. Sehingga passion adalah segala aktivitas/kegiatan yang kita sukai atau minati sedemikian rupa sehingga kita tidak terpikir untuk tidak mengerjakannya (Rene Suhardono, Your Job Is Not Your Career, Literati , Jakarta: 2013)
      Misal, saya berprofesi Widyaiswara yang kegiatan-kegiatannya mencakup membuat bahan ajar, membuat bahan tayang, fasilitator di depan kelas, pengembangan profesi, dan melakukan evaluasi penyelenggaraan diklat. Ketika melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, saya menikmatinya, antusias, gembira, dan larut dalam kegiatan tersebut (flow). itulah passion saya. Passion tersebut dapat dirasakan seseorang di dalam hati dan jiwa dengan bersenandika (refleksi diri) secara jujur karena passion seseorang berada dalam dirinya. 
     Passion yang saya rasakan menunjukkan bahwasanya seorang Widyaiswara adalah pembelajar sejati karena dalam kegiatan-kegiatan tersebut Ia belajar berbagai hal, seperti membaca berbagai materi - baik melalui buku atau internet- yang mendukung bahan ajar, belajar membuat presentasi yang menarik dan keren, belajar _public speaking_, belajar _body language_, dan hal lainnya yang meningkatkan kompetensinya setiap hari untuk bertumbuh.
       Bagaimana, jika passion saya bukan kegiatan-kegiatan dalam profesi Widyaiswara? Faktanya, banyak orang yang tidak tahu passion nya atau tidak menemukan passion nya dalam hidupnya. Tidak masalah karena yang lebih penting, bagaimana kita merespon masalah tersebut.
       Misal, saya terpaksa menjadi Widyaiswara yang saya anggap musibah (tidak menyenangkan)  disebabkan sesuatu dan lain hal. Karena kita tidak menerima ketetapan Allah - menjadi Widyaiswara- hingga sekarang, maka kegiatan-kegiatan yang berada dalam profesi Widyaiswara tidak akan menjadi passion saya. Dampaknya, saya menjalankan kegiatan-kegiatan saya sekedarnya saja karena terpaksa dan menggugurkan kewajiban bekerja.
       Namun, apabila akhirnya saya menerima ketetapan Allah sebagai yang terbaik untuk diri saya, maka saya akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencintai kegiatan-kegiatan yang awalnya tidak saya sukai atau minati. Hal ini sesuai dengan quote love what you do di mana do di sini bermakna aktivitas yang tidak kita sukai. Dan dalam proses tersebut, saya dapat bertahan dengan sabar dan tabah menahan rasa sakit atau tidak menyenangkan dalam melakukan kegiatan-kegiatan tersebut hingga akhirnya saya mencintai pekerjaan tersebut atau menjadi passion saya.

Kesimpulan

       Sesungguhnya kegiatan-kegiatan dalam profesionalitas atau pekerjaan kita, baik sesuai passion atau tanpa passion di dalam diri kita, tidak menjadi hal yang sangat penting apabila kita dapat menyikapinya dengan bijak yakni dengan bersyukur kepada Allah bahwa kita masih diberikan kesibukan-kesibukkan dengan kegiatan-kegiatan dalam pekerjaan. Syukurilah kegiatan-kegiatan yang kita miliki sekarang dengan sungguh-sungguh dan berusaha memberikan yang terbaik terhadap tempat di mana kita bekerja dengan rasa syukur tersebut kegiatan-kegiatan yang kita lakukan akan kita sukai/menati

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel